How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
26


__ADS_3

Ulah kamu ya Rin?" Tanya Naufal saat Rina yang malah tersenyum senang, saat melihat postingan yang di posting oleh forum sekolah itu.


Saat ini keduanya sedang sarapan, sebanrnya tidak ada janji antara keduanya. Tapi secara tidak sengaja, Rina bertemu dengan Jevano yang sedang sarapan di warung bubur di komplek perumahan mereka.


Rina pun hanya diam saat Naufal bertanya seperti itu, binggung harus menjawab apa. Naufal sudah menebaknya, kalau Rina diam berarti tebakannya benar.


"Supaya apa sih? Kamu tahu gak sih apa komentar Jevano?" Tanya Naufal membuat Rina menggelengkan kepalanya pelan.


Naufal menghela nafasnya kasar, dan memberikan ponselnya pada Rina yang menujukkan room chat group nya bersama teman-temannya pagi ini.


"Fal... jangan kasih tahu Jevano ya kalo ini itu ulah aku? Please... aku gak mau Jevano jadi benci sama aku Fal," Ucap Rina takut sendiri, dan memohon pada Naufal.


"Jangan ulangin lagi," Sahut Naufal tegas dan Rina pun menganggukkan kepalanya pelan dan memuncungkan bibirnya hingga membuat Naufal menghela nafasnya kasar.


Naufal menghela nafasnya kesar, "Kalo gini cara kamu buat Jevano suka ke kamu, gak bakal berhasil Rin" Ucap Naufal.


"Sesuka itu kamu sama Jevano?" Tanya Naufal lagi.


"Terus aku harus gimana Naufal?" Tanya Rina yang terdengar seperti sangat putus asa.


"Gak tau" Jawab Naufal seadanya.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


"Maaf lama, aneh gak Jev?" Tanya Carisa yang berdiri di hadapan Jevano.


Jevano yang asik dengan ponsel genggamnya itu pun langsung menatap pada gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya saat ini, "Gak kok. Bagus, cantik" Jawab Jevano memuji Carisa.


"Ya udah deh, kalo gitu ayo! Aku udah lapar banget!" Seru Carisa menarik Jevano untuk bangun dari duduknya.


"Naik sepeda mau gak Ca?" Tanya Jevano.


"Mau dong! Eh tapi sepedanya?"Tanya Carisa.


"Kamu pakai sepeda punya Mama aja," Jawab Jevano.

__ADS_1


"Boleh?" Tanya Carisa membuat Jevano menganggukkan kepalanya pasti.


"Kamu bisa naik sepeda kan?" Tanya Jevano.


"Bisa dong!" Seru Carisa semangat.


"Carisa beda banget, keluarganya keluarga mahal. Tapi dia gak manja kayak Yura padahal Yura berbanding terbalik dari Carisa" Ucap Jevano tersenyum miris.


Iya, Yura gadis pujaan Jevano adalah gadis yang lahir dengan keluarga yang biasa-biasa saja dan terbilang sederhana. Namun masih dapat mencukupi kehidupan royal putrinya, karena Yura juga adalah anak satu-satunya.


Lagi pula, Yura anak yang memiliki banyak bakat hingga mendapat beberapa penghargaan nasional smapai beasiswa di sekolah internasional. Serta Yura juga bahkan mendapatkan pertukaran pelajar, ke luar negeri dengan prestasi dan bakat yang di perolehnya.


Singkat cerita, Yura mantan kekasih Jevano juga adalah anak yang sangat manja. Yura tidak akan mau pergi bersama Jevano jika tidak menaiki mobil di saat siang hari, karena takut kulitnya terpapar sinar Matahari.


Yura hanya mau menaiki motor bersama Jevano, pada malam hari saja dan untung saja Jevano baik-baik saja soal itu.


Padahal sebelum Yura mengenal dan menjadi kekasih Jevano, Yura selalu pergi kemana-mana menaiki sepeda motor miliknya sendiri. Ataupun bahkan, menaiki ojek yang berada di dekat rumahnya.


Semenjak Yura bersama Jevano, Yura semakin bergantungan dengan Jevano. Dan hal itu membuat Jevano jadi terbiasa, dan akan melakukan apapun untuk Yura agar kekasihnya itu merasa senang.


Sangat manja bukan? Tapi bukankah itu terlalu keterlaluan?


"Jev aku gak tahu jalan, kita mau makan makan dimana?" Tanya Carisa.


"Udah ikut aja, masih kuat gayuh sepedanya kan?" Tanya Jevano menggoda Carisa, karena Carisa tadi mengatakan dirinya sangat lapar saat mengayuh sepeda.


"Ck! Iya kuat kok, Ya udah deh buruan. Kamu jalan deluan," Suruh Carisa.


"Kamu aja, kamu cewe masa kamu jalan di belakang sih? Jalannya lurus aja kok Ca. Ntar kalo mau belok ke kiri atau kanan aku teriakin aja," Jelas Jevano.


"O..ohh.. oke" Jawab Carisa gugup dan langsung menggayuhkan sepeda miliknya, ah tidak aksudnya sepeda milik Mama Jevano.


Jevano pun tekekeh pelan, saat melihat Carisa yang seperti salah tingkah seperti itu.


5 menit kemudian.

__ADS_1


"Hah... akhirnya sampe juga... Jauh banget sih!" Gerutu Carisa samb memakirkan sepedanya di dekat warung bubur yang terkenal itu di komplek perumahan Jevano.


"Dekat gini kok di bilang jauh si Ca... astaga gak sampai 30 menit juga," Sahut Jevano yang juga ikut memakirkan sepedanya di sebelah sepeda Carisa.


"Tapi capek tahu!" Kesal Carisa langsung meninggalkan Jevano dan berjalan ke warung bubur komplek.


Jevano pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, "Emang dasar cewe! Gampang capek an," Civit Jevano pelan.


"Eh Den Vano... udah lama nih gak mampir makan disini, sekali makan disini langsung udah ganti pacar aja ya Den" Goda mamang tukang bubur.


"Saya bukan pacar Vano kok Pak," Jawab Carisa jujur.


"Otw ya gak Vano?" Goda tukang bubur itu dan Jevano pun hanya tersenyum kikuk saja


"Mang buburnya dua ya, minumnya air hangat aja" Ucap Jevano.


"Oke Den Vano!" Sahut Mamang tukar bubur ayam itu semangat.


Lantas Carisa dan Jevano duduk di salah satu kursi dan meja yang tersedia disana, "Kayaknya kamu sering kesini ya sama cewe? Sama siapa hayo?" Tanya Carisa penasaran.


"Gak kok, aku kesini sama Yura terus dulu sih udah lama banget" Jawab Jevano seadanya.


Carisa pun menganggukkan kepalanya mengerti, Vairaa juga sudah mendengar soal hubungan Jevano dan Yura. Dan setahu Carisa kalau Jevano sama Yura itu memang sudah putus, hanya saja keduanya masih sering berkomunikasi dengan baik.


"Pacar kamu ya? Duh... baru kalau dia tahu aku pergi kayak gini berduaan sama kamu, dia marah gak? Duh jadi gak enak, ntar aku di kira," Ucap Carisa langsung di potong oleh Jevano cepat.


"Kita udah putus kok Ca, santai aja. Udah setahun yang lalu juga," Jelas Jevano tersenyum manis pada Carisa.


Carisa mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, "O...oh gitu, maaf" Ucap Carisa tak enak.


"Santai aja kali, masa lalu aku juga kok" Jawab Jevano terkekeh pelan.


Bubur yang mereka tunggu sejak tadi pun akhirnya datang, lengkap dengan minuman air hangat yang di bawakan oleh Mamang tukang bubur ayam langganan Jevano dan keluarga.


"Di makan Ca, jangan di lihatin aja" Uvak Jevano saat Carisa yang enggan menyentuh bubur ayam miliknya.

__ADS_1


"Ini gak pakai udang kan? Maksudnya kuahnya gak di racik pakai bahan udang gitu kan?" Tanya Carisa yang mencium aroma udang pada bubur ayam itu.


__ADS_2