How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
61


__ADS_3

"Kita susul ke rumahnya yuk? Pengen jenguk Carisa," Ajak Leon.


Aurel pun menggelengkan kepalanya, membuat Leon menggerutkan dahinya binggung. "Kenapa?" Tanya Leon.


"Aku udah pernah ke rumah Carisa, udah 3 kali tahu Lin. Tapi Carisa memang gak mau keluar, dan aku selalu di temenin sama Tante Ayu Mama nya."


"Ya dari situ aku mikirnya, mungkin Carisa lagi butuh waktu sendiri? Ya udah sih gitu aja, setiap aku datang ke rumahnya, pasti Carisa ngirim chat bilang minta maaf. Pokonya ya gitu deh, jadi percuma kalo kita kesana" Jelas Aurel panjang lebar.


Leon pun menghela nafasnya kasar, "Aku khawatir, dia gak papa kan?" Tanya Leon.


"Kata Mamanya gak papa sih, kayaknya ada yang di tutupin gitu. Mungkin privasi," Jawab Aurel yang mengerti, karena dahulu keluarganya pun begitu bahkan hingga sekarang.


Jadi Leon dan Aurel, mengerti akan keadaan tersebut.


"Eh Rel," Panggil Leon membuat si empu nama monoleh. "Kamu ingat gak temen aku yang namanya Jino, yang dulu sering main ke rumah kalo libur?" Tanya Leon membuat Aurel berpikir untuk mengingat nama yang tak asing baginya itu.


"Yang pernah bandung itu bukan?" Tanya Aurel menebak-nebak.


"Nah, iya!" Seru Leon.


"Kenapa emang?" Tanya Aurel penasaran.


"Dia mantan Carisa, dan dia mau pindah kesini gara-gara Carisa juga" Jelas Leon.


"Lah? Kok? Ah... serius kamu Lin, gak lucu deh ah* Ucap Aurel tak percaya.


"Serius Rel... astaga gak percayaan banget. Aku juga awalnya sempat mikir gini, kok dinhnia ini kecil banget dah. Relasi kita ke situ-situ juga ujungnya," Ucap Leon.


"Loh beneran? Lah? Berarti ini saingan kamu makin bertambah dong?"" Tanya Aurel menggoda Kakak sepupunya itu.


Leon pun mengindikkan bahunya tak tahu, "Eh tunggu-6kok bisa si Jino Jino itu bisa pindah kesini? Terus kenapa kamu bilang dia pindah kesini gara-gara Carisa?" Tanya Aurel penasaran.


"Ih sudah itu ceritanya, itu Jino pokoknya masih ada rasa gitu lah sama Carisa. Tapi dia goblok banget," Jelas Leon.


"Goblok gimana?" Tanya Aurel binggung.


"Oh iya menurut kamu Carisa suka gak sama Jevano? Mereka gak pacaran kan?" Tanya Leon memastikan.

__ADS_1


"Katanya sih engga, tapi gatau besok-besok nya" Jawab Aurel jujur.


"Carisa gak suka kan sama Jevano?" Tanya Leon.


*Gimana ya," Ucap Aurel mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal binggung. "Aku juga gak tahu Carisa sebenarnya nganggap Jevano itu temennya atau lebih dari kata temen."


"Tapi ya Lin, mereka itu udah kayak sahabat gitu deh, paham gak maksud aku?" Tanya Aurel.


Leon pun menganggukkan kepalanya mengerti, "Berarti kira-kira aku masih ada gak ya pulang buat dapatin hati Carisa? Tanya Leon percaya diri dan yakin.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


Ambulan yang spenajang jalan tadi berserine dari bandara hingga sampai di rumah sakit itu, baru saja tiba di rumah sakit. Dengan gerak cepat para pihak medis, langsung membawa Carisa ke dalam ruang rawat darurat untuk si tangani segera.


Jevano sejak tadi mengikuti arah ambulan itu, Jevano juga memarkirkan mobilnya asal. Dirinya tidak peduli, dan tidak dapat berpikir jernih lagi untuk saat ini.


Yang di pikirkannya, hanyalah kondisi calon bayinya dan juga Carisa. Jevano pun langsung menyusul ke dalam, dan menghampiri kedua orang tua Carisa yang juga sedang menunggu di kursi ruang tunggu.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Saka sinis langsung bangkit dari duduknya seolah melarang Jevano untuk mendekat pada ruang UGD.


Saka pun membuang wajahnya ke asal arah, sebenarnya Saka sendiri pun tak tega pada Jevano. Karena bagaimana pun juga, Sama sangat dengan dengan eklaurga Jevano dan sudah seperti saudara sendiri.


Namun Saka masih merasa sakit hati, dan tidak dapat menerima kenyataan apa yang membuat putri semata wayangnya menjadi hancur berantakan seperti yang di lihatnya saat ini.


"Jevano," Panggil Ayu dingin.


"Tante..." Ucap Jevano beralih memegangi kaki Ayu dan memohon pada Ayu tuntun mengizinkannya bertanggung jawab atas Carisa.


Namun perhatian mereka teralihkan, saat pintu UGD baru saja di buka. DNA kelaurkah dokter dan beberapa perawat yang, berdiri di belang dokter itu.


Ah iya, saat itu juga Deri dan Tiara baru saja tiba dengan tergesa-gesa.


"Disini siapa Ayah kandung dari akndunhan pasien?" Tanya Dokter itu .


"Saya Dok," Ucap Jevano lantang, membuat Saka dan Ayu menatap Jevano penuh arti.


"Maaf, kamu tidak dapat menyelamatkan" Ucap Dokter itu langsung di potong oleh Saka.

__ADS_1


"Anak saya keguguran maksud Dokter? Iya kan?" Tanya Sama bersemangat membuat Jevano, seru dan Tiara juga terkejut.


Dokter itu un menganggukkan kepalanya ragu, "I.. iya Pak" Jawab Dokter itu. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, karena usia kandungannya juga masih muda. Jadi kami juga mudah, untuk membersihkan janin dari anak Bapak. Pasien akan segera di pindahkan ke ruang" Jelas dokter itu yang lagi-lagi di potong oleh Saka.


"Ke ruang VVIP Dok," Ucap Saka.


"Baik Pak," Jawab dokter itu lalu berlalu meninggalkan keluarga pasien.


"Saka," Panggil Deri setelah kepergian Deri.


"Nanti kita bicara, ayo Ma" Ajak Sama langsung menarik tangan Ayu untuk pergi meninggalkan Deri dan keluarganya.


Jevano pun hendak mengikuti arah langkah Saka, namun Tiara menahan putranya. "Kita tunggu kabar dari Papa Carisa dulu ya sayang? Kita harus ngehargain privasi mereka oke?" Nasehat Tiara pada Jevano.


Jevano pun hanya dapat menganggukkan kepalanya lesu, "Nanti Mama sama Papa yang ngomong ke Om Saka dan Tante Ayu. Kamu gak usah khawatir," Ucap Deri menenangkan anaknya.


Di kamar inap.


"Eunghh..." Lenguh Carisa sadar dari tidurnya.


"Carisa? Sayang? Kamu udah bangun?" Tanya Ayu langsung menghampiri Carisa begitupun juga dengan Saka.


"Ada yang sakit?" Tanya Saka khawatir, membuat Carisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ma.. Pa... dia hilang kan?Dia udah pergi kan? Udah gak ada lagi di perut aku akan Ma Pa?" Tanya Carisa penuh harap.


Saka dan Ayu pun saing bertukar tatap, lalu menganggukkan kepalanya sebaga jawaban 'Ya'.


"Serius?" Tanya Carisa antusias dan semangat.


"Iya sayang," Jawab Saka mengusap kepala putrinya sayang.


"Carisa pun tersenyum lebar, "Berarti Carisa gak perlu aborsi lagi kan Pa Ma? Tanya Carisa semangat membuat kedua orang tuanya menitihkan air matanya.


"Loh Mama sama Papa kenapa nangis sih? Harusnya Papa sama Mama kan senang juga kayak Carisa" Rengek Carisa.


Lantas Saka dan Ayu pun langsung memeluk Carisa, "Kamu kuat banget Nak... Mama sama Papa sayang sama kamu" Ucap Ayu memeluk anaknya erat begitupun juga dengan Saka.

__ADS_1


__ADS_2