How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
66


__ADS_3

"Eh bokap nyokap tahu gak kamu ikutan balapan liar?" Tanya Haris di perjalanan, dan berteriak.


"Gak," Jawab Jevano sedikit berteriak.


"Ya elah si dugong!" Ucap Haris mengetuk helm Jevano, dan Jevano pun mendengus kesal.


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


"Eh kita duduk disana aja yuk!" Ajak Aurel menunjuk tempat duduk yang berada di dekat jendela resto dan menghadap ke luar.


"Ya udah yuk," Ajak Naufal dan yang lainnya pun ikut-ikut saja.


Lantas keempatnya pun duduk di meja yang kira-kiranya muat untuk 6 orang, "Ini Reno sama Haris jadi ikut kan ya?" Tanya Aurel.


"Jevano ikut juga?" Tanya Carisa tiba-tiba.


"Engga Ca, dua gak ikut" Jawab Naufal. "Bentar ya aku telepon Haris dulu," Lanjutnya.


"Mau pesan apa? Atau kita tunggu mereka aja dulu?" Tanya Leon.


"Tunggu aja, biar barengan. Nanti kita gak enakkan juga kan, kalo makan duluan" Jelas Aurel dan Leon pun menganggukkan kepalanya setuju.


"Halo? Woi dimana?" Tanya Naufal di balik telepon.


"Hah?! Apa Fal?" Teriak harus karena suara Naufal tidak terdengar jelas, sebab Jevano saat ini sedang mengebut di jalanan.


Naufal pun reflek menjauhkan ponselnya dari kuping, "Ck dimana?!" Balas Naufal dengan nada kesal.


"Duh telepon Reno aja deh! Gak denger! Lagi di jalan nih!" Seru Haris langsung mematikan sambungan telepon.


"Bro dimana?" Tanya Naufal saat Reno sudah mengangkat teleponnya.


"Ck ini mau jalan, si Haris brengsek banget!" Kesal Reno.


"Loh kenapa?" Tanya Naufal binggung.


"Aku di tinggal, dia malah pergi nemenin si Vano balapan liar sama Dico!" Kesal Reno sambil menyalakan mesin mobil.


"Terus ini kamu naik apa?" Tanya Naufal melirik Carisa sekilas yang juga ikut menatapnya..


"Naik mobil Haris, kunci mobil dia di aku. Udah dulu ya! Aku nyusul, samain aja biar cepet udah lapar juga nih!" Ucap Reno.


"Oke!" Sahut Naufal memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu.

__ADS_1


"Haris gak jadi ikut, Reno lagi otw ke sini katanya" Jelas Naufal. "Pesan sekarang aja, Reno kayanya samain kayak aku menunya" Ucap Naufal yang memang kebetulan, kalau seleranya pasti sama dengan Reno.


"Loh kenapa?" Tanya Aurel penasaran.


"Lagi nemenin Jevano dia," Ucap Naufal melirik Carisa sekilas.


Carisa yang mendengar itu pun, pura-pura untuk tidak mendengar. "Ya udah deh ayo pesan makan, aku uda lapar banget nih. Kalian gak lapar?" Tanya Carisa.


"Ya pasti lapar lah," Jawab Aurel.


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


"Jev, serius ini mau ikutan?" Tanya Haris selepas keduanya baru saja sampai di lokasi.


"Ya elah Ris, biasanya juga aku sering kan? Kenapa kalian baru heboh ngelarangnya sekarang sih?" Tanya Jevano.


"Kita tuh bukan ngelarang tau Jev, tapi karena pikiran kamu itu lagi gak disini, pikiran kamu di Carisa kan? Mau melampiaskan lewat sini kan?" Tanya Haris yakin.


"Santai, aku pasti menang" ucap Jevano dengan percaya diri.


"Buset nih anak, terserah deh" Jawab Harus. "Yok lah kesana lihat siapa lawan-lawan sok hebat kita" Ucap Haris sambil berjalan terlebih dahulu, membuat Jevano terkekeh kecil dan mengikuti langkah kaki temannya itu.


"Hello Jevano, long time not to see you!" Sapa lawan main Jevano.


"Hi Dico, mee too. How are you?" Tanya Jevano ramah.


"Gemukan dia sekarang, udah bahagia" Jelas Jevano membuat Dico tersenyum senang.


"Aku dengar Yura mau balik, bener?" Tanya Dico sengaja.


"Gak tau, udah gak punya urusan lagi sama dia soalnya" Jawab Jevano seadanya padahal Jevano tahu sendiri kalau Yura dalam waktu dekat ini memang akan pulang ke tanah air.


"Oh really? Aku kira kalian masih ada something, berarti bisa dong aku gas?" Tanya Dico.


"Gas aja, bawa sama kamu" Jawab Jevano.


"Aduh ni kenang ngapain bahas soal Yura sih ah" Batin Haris.


"Well, mau taruhan apa sain uang 500jt?" Tanya Dico.


"Nothing, aku cuma mau uangnya. Kamu mau apa rupanya?" Tanya Jevano.


"Yura," Jawab Dico tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bawa aja sih bebas, kan aku udah bilang juga. Kalo aku sama dia udah gak ada hubungan apa-apa lagi," Jelas Jevano berusaha tetap tenang.


"Oke oke fine, ya udah 10 menit lagi kita mulai" Ucap Dico kepada kumpulan teman-temannya.


"Buset Jev, kamu cuma bawa aku??" Heboh Haris.


"Ya kan temen aku cuma kamu sama Naufal doang kalo soal kayak gini, siapa lagi? Reno? Jangan ngarep dah!" Jelas jevano.


"Ya gak gitu, ini tu kek gak sebanding aja. Gak takut di mainin sama mereka?" Tanya Haris.


"Santai, aku udah pro ya gak?" Ucap Jevano menaik-turunkan alisnya dengan percaya diri yang tinggi.


"Dih percaya diri banget dah, ini juga kamu udah lama gitu lo maksudnya gak balapan lagi. Gimana sih..." Jelas Haris.


"Cerewet banget deh Ris, serius. Kamu lihatin aja ya! Nanti kalo mereka main curang, kan kamu bisa jadi saksinya nanti" Jelas Jevano.


"Ya udah deh," Pasrah Haris. "Aku diam nih," Ucap Haris mendelikkan matanya malas.


"Thanks bro, udah mau nemenin aku. Aku tahu kok, kamu sama Naufal, Reno, pasti juga berat banget kan buat kemari?" Tanya Jevano.


"Tadi aku di suruh diam kok Jev," Ucap Haris membuat Jevano menggeleng-gelengkan kepalanya.


10 menit kemudian.


Balapan motor itu pun dimulai, dengan seorang wanita yang berjalan dari ujung kiri menuju ke ujung kanan jalan, dengan memegang bendera merah yang di kibarkannya.


Setelahnya, gadis itu pun memberi Jevano dan Dico untuk segara bersiap diri dan mengajak para penonton untuk menghitung secara bersama.


1


2


3


Jevano dan Dico pun langsung mengegas motor mereka, dan saling berada di jalan raya. Terkadang Jevano berada di posisi paling depan, dan terkadang berbalik Dico yang berada di posisi paling depan.


Hingga kejadian yang tidak terduga pun terjadi, Dico yang berada di paling depan pun melebarkan matanya terkejut. Karena tiba-tiba palang merah rel kereta api di depannya di tutup, dan saat ini dirinya berada di kecepatan yang tinggi.


Dan....


Brakh!!!


Jevano yang terkejut pun seperti Dico, segera mengalihkan setirnya ke sebelah kiri. Sehingga, Jevano pun tak sengaja menabrak sebuah mobil dari samping kiri mobil itu. Dan kepala Jevano pun terantuk kepada kaca pintu mobil, lalu terjatuh di aspal.

__ADS_1


Orang-orang yang berada disana pun menjadi panik bukan main, dan langsung segera menelepon ambulan. Sementara Dico? Dico sudah tewas di tempat, karena terlindas kereta api.


Dan Jevano pingsan, namun darah dari kepalnya uang masih memakai helm itu tidak berhenti untuk keluar.


__ADS_2