How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
72


__ADS_3

"Gimana Yu?" Tanya Deri di telepon.


"Kamu tenang aja, sekarang Tiara udah istirahat. Tadi aku kasih obat tidur yang kamu kasih ke aku tadi," Jelas Ayu.


"Tiara gak nanya apa?" Tanya Deri.


"Ya aku campur ke air minumnya, ini sekarang Tiara lagi tidur. Aku kasihan banget lihatnya, melamun terus dari tadi" Ucap Ayu sambil menatap wajah Tiara.


"Hm... aku juga, Tiara udah kurang tidur 2 hari belakangan ini. Makasih banyak ya Yu, aku yakin kamu pasti banyak banget ninggalin kerjaan kamu di kantor buat ngerawat istri aku. Maaf aku ngerepotin kamu terus," Ucap Deri merasa tak enak pada Ayu.


"Iya gak papa, gak usah sungkan" Jawab Ayu. "Akita kan calon besan, gimana sih" Canda Ayu membuat Deri terkekeh pelan.


"Iya juga ya? Yaudah ya kalau gitu aku tutup dulu Yu," Ucap Deri.

__ADS_1


"Yok," Sahut Ayu langsung memutuskan panggilan telepon mereka.


Iya tadi Deri Ayah Jevano, meminta Ayu untuk merawat istrinya karena Deri sedang mengurus urusan pekerjaan mereka di luar kota. Deri pergi dengan segala kekhawatirannya pada Jevano, dan juga istrinya. Deri juga tahu kalau Tiara tidak akan bisa tidur, sampai Jevano sadar kembali.


Maka dari itu, Deri meminta bantuan Ayu untuk mengajak istrinya beristirahat dan meminum obat tidur agar istrinya itu dapat istirahat dengan cukup.


Dan penuh harap, Deri berharap Jevano putra semata wayangnya lekas bangun dari mimpinya. Sungguh, Deri sangat menantikan kabar itu.


Ayu pun menatap Tiara yang sedang tertidur lelap, dapat Ayu lihat terlintas raut khawatir pada wajah Tiara. "Kamu yang kuat ya Yu? Jevano pasti bakal baik-baik aja kok," Ucap Ayu menatap sehabatnya yang sedang terlelap itu.


"Aku udah dengar tentang kamu sama Jevano, no kamu tenang aja. Bukan Leon atau Aurel, Haris, atau bahkan Naufal apalagi Reno yang kasih tahu. Tapi teman-teman aku yang kebetulan juga emang sekolah disana," Jelas Yura.


"Emangnya kamu dengar apa dari mereka? Soal aku sama Jevano?" Tanya Carisa memancing dan ingin tahu.

__ADS_1


Tadi Yura sempat mengajak Carisa untuk berbicara sebentar, walaupun sebenarnya Carisa agaknya merasa sangat enggan untuk menerimanya.


Namun, gadis itu juga merasa penasaran pada sosok Yura ini. Yang dikata-kata, sebagai mantan kekasih Jevano satu-satunya.


"Kamu ini anak teman kolega papa Jevano right? Tapi dari yang aku lihat dari berita bsinis lebih dari teman engga sih? Gak sebatas itu aja. Kayaknya kamu sama Jevano juga kelewat dekat?" Tanya Yura.


"Gak lebih gak kurang, we are just friend. Jangan salah paham," Ucap Carisa yang sedang membohongi perasaannya.


"O...oh ya? Aaa... aku kira lebih dari itu," Ucap Yura sedikit terkejut.


"Kamu kira apa? Kamu belum move on dari Jevano?" Tanya Carisa penasaran.


Yura pun tersenyum tipis, "Hm gan bisa di lupain soal Jevano. Aku dulu gak bisa hidup kalo gak ada dia, tapi aku lagi berusaha untuk gak kelewat bergantungan lagi sama Jevano kayak dulu. Ini juga yang terbaik buat aku sama dia kan?" Tanya Yura membuat Carisa mengernyitkan dahinya binggung.

__ADS_1


"Terbaik?" Tanya Carisa membuat Yura menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Astaga, cantik banget? Gak heran. Apa aku harus bersaing sama Yura? Apalagi dia mantan Jevano satu-satunya," Batin Carisa.


__ADS_2