
"Kita boleh duduk disini gak? Meja yang lain penuh, tumben banget hari ini kantin agak padat" Tanya Lia.
"Duduk aja," Ucap Naufal langsung tanpa meminta persetujuan dari teman-temannya.
Walaupun sebenarnya, Naufal tidak perlu untuk meminta izin pada teman-temannya. Karena Haris dan Reno, pasti juga tidak punya pilihan lain dan mengiyakannya.
"Carisa!" Panggil Aurel hingga beberapa perhatian tertuju pada Aurel dan Carisa.
"Sini!" Teriak Aurel sekali lagi.
"Oke," Ucap Carisa tanpa suara sambil memegangi nampan mereka menuju meja yang di duduki Aurel.
"Mejanya penuh semua ya? Hai Leon," Sapa Carisa tersenyum ramah pada Leon.
"Hai Ca," Sapa Leon melirik Jino sekilas.
Carisa masih belum menyadari, kalau ternyata Jino jhga berada di meja yang sama dengan dirinya. Karena Carisa datang dari belakang punggung Jino, dan Leon duduk di hadapan Jino di sebelah Aurel.
"Sini Ca duduk," Ajak Aurel sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
__ADS_1
Carisa pun menurut di sebelah Aurel, lalu menurunkan makanan miliknya dan juga Aurel. Tanpa sadar, sejak tadi Jino terus memperhatikan Carisa. Namun, Carisa masih belum menyadari hal itu.
Lagi pula, siapa juga yang kan menyangka? Kalau Jino akan pindah di sekolah yang sama dengannya.
"Hai Ca, long time not to see you. Kamu pasti gak sadar kan kalau dari tadi aku di depan kamu?" Tanya Jino.
Di luar ekspektasi Carisa, kenapa Jino harus muncul sekarang? Mantan pacarnya yang telah selingkuh dan menduakan nya.
"Hey?" Sapa Jino lagi mengayunkan tangannya di depan gadis itu
"Eh? Oh Jino?" Kaget Carisa berusaha bersikap santai dan biasa saja. "Long time not to see you too," Sahut Carisa.
"Waktunya makan, kalo lagi makan gak boleh bicara" Ucap Carisa yang malas sekali rasanya untuk basa basi dengan mantan pacarnya itu.
"Maaf Ca, gak ada meja kosong lain lagi soalnya" Bisik Aurel merasa tak enak.
Jino pun menganggukkan kepalanya mengerti, dan langsung tahu apa maksud Carisa.
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
__ADS_1
Jevano mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, dan baru saja terbangun dari tidurnya yang dipengaruhi obat bius yang diberikan dokter tadi pagi padanya. Jevano pun menatap platfon rumah sakit, "Aku udah ingat" Batin Jevano.
Mata Jevano pun kembali menatap objek lainnya, mengitari seluruh ruang kamar inap yang sedang di tempati nya saat ini. Dan mendapati Mamanya, Tiara. Yang sedang fokus dengan tabletnya, biar Jevano tebak. Pasti Mamanya sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya, namun masih sempat untuk menemaninya di rumah sakit.
"Ma..." Panggil Jevano hingga membuat Tiara langsung menolehkan kepalanya.
Tiara pun langsung berjalan menghampiri Jevano, "Sayang? Kamu udah bangun? Ada yang sakit?Gimana sekarang perasaan kamu?" Tanya Tiara bertubi-tubi karena khawatir.
"Jevano baik-baik aja kok Ma, Mama lagi kerja? Maaf Jevano selalu ngerepotin Mama terus," Ucap Jevano tak enak.
"Hey hey kamu ini ngomong apa sih hm? Kamu sama sekali gak ngerepotin Mama," Jelas Tiara.
"Ma Jevano udah ingat," Ucap Jevano membuat senyum merekah di wajah Tiara. "Semuanya, iya Jevano udah ingat gimana bisa kecelakaan dan amnesia. Jevano juga udah ingat soal masalah Jevano sama Carisa," Jelas Jevano.
Tanpa ba-bi-bu Tiara pun langsung memeluk anaknya, dan mengucapkan rasa bersyukurnya kepada Tuhan karena telah mengembalikan ingatan putra semata wayangnya.
"Ma..." Panggil Jevano melepaskan pelukan Tiara.
"Iya sayang kenapa?" Tanya Tiara melepaskan dekapannya.
__ADS_1
"Mama mau gak rahasiain ini dari Carisa?" Tanya Jevano.