
"Ma Jevano bakal baik-baik aja kan?" Tanya Carisa meneteskan air matanya.
Ayu pun mengangguk-angguk kepalanya pasti.
"Paa... Mama gak ngerti lagi apa yang ada di pikiran anak kita, kenapa anak kita ngelakuin hal segila itu? Apa kita kurang ngasih apa yang dia mau?" Lirih Tiara pelan frustasi.
"Udah kamu gak usah mikir yang aneh-aneh dulu ya? Fokus dulu ke Jevano, urusan yang lain biar aku yang ngurus. Kita nantinya fokus untuk kebijakan dan kesehatan anak kita aja dulu, jangan mikir yang enggak-enggak. Oke hm?" Ucap Deri pada istrinya sampil mengusap punggung istrinya dengan sayang.
Tiara pun menganggukkan kepalanya setuju, namun di kepalanya masih bergelut soal alasan Jevano melakukan balap liar itu.
Dret!
Dokter pun keluar, hingga membuat mereka semua yang berada di ruang tunggu langsung bangkit dari duduk mereka dan menghampiri dokter itu dengan segera.
"Gimana Dok?" Tanya Tiara. "Anak saya gak kenapa-kenapa kan? Masih hidup kan?" Tanya Tiara khawatir.
Dokter itu pun menghela nafasnya kasar, lalu berusaha untuk tersenyum di hadapan keluarga pasiennya.
"Bersyukur operasinya berjalan dengan lancar dan baik... namun, pasien kehilangan ingatannya sementara. Dan sebenarnya kamu juga tidak dapat memastikan, kalau ini akan bersifat sementara atau akan permanen."
"Pasien sudah di tangani dengan baik, dan akan di pindahkan ke ruang VIP yang ada di rumah sakit ini atas permintaan bapak," Jelas dokter itu.
Orang-orang disana pun menghela nafasnya lega, saat mendengar Jevano masih bernafas. Mengingat kejadian yang dialami Jevano tadi, sangatlah mustahil rasanya untuk pria itu baik-baik saja atau bisa saja meninggalkan orang terdekatnya selama-lamanya.
"Alhamdulillah, pasien juga sudah melewati masa kritisnya" Tambah dokter itu.
Tubuh Tiara langsung melemas, saat mendengar putra kesayangannya. Anak semata wayangnya itu kehilangan ingatannya, walaupun itu bersifat sementara. Dokter pun masih merasa tidak enak, apa itu akan bersifat sementara atau tidak.
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
Sudah beberapa hari kebelakang ini, Carisa pulang balik dari sekolah dan rumah sakit. Untuk menunggu Jevano sadar dari tidurnya, namun sepertinya pria itu enggan sekali rasanya untuk membuka kedua kelopak matanya.
Taira juga selalu berada disana, tidak pernah pulang ke rumah sama sekali. Bahkan Tiara sudah 2 hari tidak mandi, hanya karena tidak ingin meninggalkan Jevano sendirian di ruang inapnya.
__ADS_1
Ayu juga sesekali berkunjung ke rumah sakit, untuk merawat Tiara. Seperti mengantarkan baju, dan makan sahabatnya itu. Yang sangat terlihat sekali, seperti tidak memiliki semangat dan harapan untuk kembali hidup.
"Ra kamu yakin gak mau pulang dulu? Bersih-bersih! Ada aku kok disini, ada Carisa juga. Atau kamu mau aku temenin pulang sebentar dulu yuk?" Ajak Ayu.
Tiara pun menggelengkan kepalanya pelan, "Aku takut Jevano gak bangun lagi..." Ucap Tiara lemas.
Ayu pun menghela nafasnya kasar, "Iya aku ngerti perasaan kamu. Aku juga seorang Ibu, kamu mau nanti Jevano sadar terus ngelihat kamu dengan keadaan kayak gini? Istirahat aja dulu yuk sebentar, apa kamu mau aku pesenin hotel yang di dekat sini?" Tanya Ayu membuat Tiara mendongakkan kepalanya.
"Nanti kalo Jevano ada kenapa-kenapa gimana Yu..." Lirih Taira meneteskan air matanya.
"Ada Carisa," Jawab Ayu sedanga membuat Taira dan Carisa menjadi saling tukar tatap.
"Carisa bisa kok Tante jagain Vano, nanti yang lain juga kemari kok. Jenguk in Jevano," Jelas Carisa benar adanya.
Tiara pun tampak menimbang hal itu, dan mengigit bibirnya binggung. "Ayo Ra," Ajak ayu dan Tiara pun menganggukkan kepalanya setuju pada permintaan Ayu yang selama ini bersedia untuk mengurusnya saat di rumah sakit selama 2 hari belakangan ini.
Ayu pun membantu Tiara yang berjalan dengan lemas, dan hendak pergi ke hotel yang terdekat dari rumah sakit. Agar Tiara nanti dapat istirahat dengan cukup nyaman, karena kalau pulang pun, membutuhkan waktu sekitar 1 jam hingga sampai ke rumah.
Carisa pun menatap kepergian keduanya, Mamanya dan juga Mama Jevano. Setelah memastikan keduanya keluar, Carisa pun mengambil tempat untuk duduk di kursi brangkar samping Jevano.
"Hai Vano... sore," Sapa Carisa sambil meraih tangan Jevano untuk di genggamnya.
"Hari ini gak ada yang spesial di sekolah, aku kangen banget sama kamu, pulang pergi sekolah bareng, makan bareng, qualty time bareng kamu. Maaf ya? Aku cuekin kamu terus, aku gak tahu soalnya mau gimana ke kamu. Kalau boleh jujur aku masih sakit hati soal perlakuan mu dulu ke aku waktu itu."
"Tapi sekarang..." Ucap Carisa terjeda karena tak tahan lagi membendung air mata di matanya. "Hati aku makin sakit di waktu lihat kamu kayak gini Jev... aku gak sanggup lihatnya," Isak Carisa menghapus air matanya.
"Ayo dong kamu semangat, kamu cepat sadar... Aku gak bakal ngejauh atau sinisin kamu lagi deh janji.... aku sayang sama kamu Jev, ayo bangun..." Ucap Carisa terisak.
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
""Fal," Panggil Riba saat Naufal hendak keluar dari kelas.
"Kenapa Rin?" Tanya Naufal.
__ADS_1
"Jevano, gimana kabarnya?" Tanya Rina.
"Masih belum sadar, aku mau kesana nih. Kamu mau ikut gak?" Ajak Naufal.
"Siapa aja?" Tanya Rina.
"Aku, Aurel, Reno sama Haris. Mau ikut!" Jawab Naufal.
"Next time deh, kalo aku boleh jujur aku tu gak nyaman kalo ada di sekeliling orang banyak.Pasti disana juga ada Carisa kan?" Tebak Rina.
Naufal pun menganggukkan kepalanya. "Iya Carisa tadi langsung ke rumah sakit bareng sama Mamanya" Jawab Naufal.
"aku titip salam aja ya sama Jevano, bisikin ya! Aku pamit dulu!" Ucap Rina langsung pergi meninggalkan Naufal.
Naufal pun hendak segera bergegas untuk menyusul Aurel di parkiran mobil, yang sejak tadi sudah menunggu Naufal di depan mobil pria itu.
Lantas, dimana Reno dan Haris?
Haris dan Reno tadi keluar lebih dahulu daripada Naufal, karena keduanya hendak ingin cepat sampai ke rumah sakit untuk menjenguk Jevano.
Sedangkan Naufal, tadi sedikit berdiskusi dengan teman sekelompoknya sebentar. Sehingga membuat Aurel menunggu cukup lama, apalagi si tambah sedikit pembicaraan singkat dengan Rina.
"Maaf Rel lama, kenapa gak masuk aja? Kunci mobil aku kan sama kamu" Ucap Naufal.
"Ck! Lama banget, ayo buruan! Aku kepanasan!" Omel Aurel langsung membuka pintu mobil Naufal menggunakan kunci remote mobil itu.
Naufal pun mengangguk tengkuk lehernya yang yang gatal, "Emang dasar cewek ya..." Gumam Naufal pelan.
"Nih!" Ucap Aurel memberikan kunci mobil Naufal, setelah pria itu masuk ke dalam mobilnya.
"Mau makan dulu?" Tanya Naufal.
"Gak usah, langsung aja" Jawab Aurel.
__ADS_1