
"Kita ke rumah Carisa ya? Jevano nyaranin kamu disana aja, gak papa kan? Orang tua Carisa juga baik kok, Jevano udah minta izin sama orang tua Carisa" Jelas Naufal benar adanya.
Aurel pun mengigit bibir bawahnya bimbang, "Carisa nerima kondisi kamu kok. Mau ya? Aku binggung kalo bawa kamu ke penginapan, kita belum punya kartu indentitas Rel" Bujuk Naufal dan Aurel pun hanya dapat menganggukkan kepalanya pasrah.
"Gadis pintar," Ucap Naufal tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Aurel pelan.
Selama perjalan, Aurel sama sekali tidak bergeming. Dan Naufal pun juga tidak menyanyikan apapun pada Aurel, karena menurutnya Aurel pasti butuh waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya.
Jujur saja, Naufal sudah menyimpan ribuan pertanyaan di kepalanya saat melihat kondisi mengenaskan Aurel tadi.
Sungguh, apa yang terjadi pada gadis ini? Pikirnya.
"Fal aku gak usah bawa ke klinik atau semacamnya dulu, aku capek mau tidur. Kita langsung ke rumah Carisa aja ya?" Tanya Aurel dengan mata-mata yang berkaca.
Tak sanggup rasanya Naufal saat melihat mata indah itu, yang kini hendak mengeluarkan butiran air matanya.
Pedih sekali rasanya.
"Ya udah, nanti kita obatin di rumah Carisa aja ya?" Ucap Naufal lembut dan Aurel pun menganggukkan kepalanya setuju.
Naufal pun langsung menuju alamat rumah Carisa yang di kirimkan Jevano padanya, Naufal diam-diam melirik Aurel yang sedang menatap dunia luar dari kaca jendela mobil.
Dapat Naufal tebak kalau saat ini Aurel sedang menangis, karena bahu gadis itu bergetar. Hanya saja, Aurel enggan untuk mengeluarkan isakannya.
Apa kalian tahu? Kalau seorang sudah menangis, namun tanpa suara. Itu adalah tangisan yang paling menyakitkan, dan itulah yang di rasakan oleh Aurel saat ini.
20 menit kemudian.
Naufal dan Aurel pun akhirnya tiba di rumah Carisa, dan di sambut hangat oleh sang pemilik rumah itu sendiri berserta kedua orang tua Carisa. Saka dan Ayu sudah mendengar cerita dari Jevano, soal bagaimana keadaan Aurel.
Sama dan Ayu mengerti, karena keduanya juga cukup mengenal siapa Ayah Aurel ini dan tahu betul kalau Ayahnya memang suka bermain dengan perempuan lain, bahkan diam-diam maupun terang-terangan.
__ADS_1
Dan kebanyakan, wanita yang bersama ayahnya adalah selebriti yang masih muda. Dan masih bisa di bilang anak kemarin sore, yang baru saja terjun di dunia hiburan.
Bahkan tak jarang, sekretaris nya pun menjadi wanita simpanannya.
Ayu dan Saka tampak terkejut, saat melihat rupa Aurel. Bahkan jalan gadis itu yang sedikit pincang, dan juga beberapa lebam di tubuh gadis itu.
Sangat berantakan sekali, pikir kedua pasangan itu.
Bukan hanya Saka dan Ayu saja, namun Carisa, Jevano, Haris dan juga Reno juga turut perhatian melihat keadaan Aurel saat ini. Hingga membuat mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa hal itu tejadi pada Aurel, pikir semuanya.
"Hai sayang, ayo sini masuk dulu," Ajak Ayu langsung menuntun Aurel untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Pa cepat hubungi dokter, suruh kemari" Pinta Ayu dan Saka pun menurut pada istrinya.
"Aurel kenapa?" Tanya Carisa khawatir menghampiri Naufal.
Naufal pun menggelengkan kepalanya, "Belum ada cerita Ca. Biar nanti Aurel sendiri yang cerita ya? Dia anaknya agak tertutup Ca," Jelas Naufal membuat Carisa menghela nafasnya kasar dan menganggukkan kepalanya setuju.
Maksud Ayu, waktunya girls time. Mungkin Aurel dapat lebih terbuka, dengan sesama perempuan.
Saka yang mengerti maksud istrinya pun menahan Jevano, Naufal, Haris dan juga Reno untuk ikut masuk ke dalam kamar tamu yang di peruntukkan untuk Aurel.
"Kita tunggu di luar aja, girls time. Bairin mereka ngobrol-ngobrol dulu di dalam, mungkin Aurel mau cerita ke Tante Ayu atau Carisa" Jelas Saka pada keempat remaja itu, dan keempatnya menurut dan mengikuti kemana Saka sang tuan rumah membawa mereka.
"Tadi kamu ketemu Aurel dimana Fal?" Tanya Jevano berbisik.
"Di depan komplek, Aurel... ketakutan tadi. Dia Nangis wajahnya juga pucat," Jelas Naufal.
"Kamu pacarnya Aurel ya?" Tanya Saka spontan membuat keempatnya terkejut.
"Mantan itu dia Om, mantannya Aurel" Jawab Jevano spontan membuat Sama menganggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Ayo kita ngobrol-ngobrol dulu di ruang tamu aja, sambil nunggu dokter pribadi saya datang" Ucap Saka.
"Maaf ngerepotin dan ganggu waktu malamnya begini Om," Ucap Naufal tak enak.
"Iya santai aja," Jawab Saja tersenyum ramah.
"Nama kamu... Aurel kan?" Tanya Ayu dan Aurel pun menganggukkan kepalanya pelan sembari menundukkan kepalanya takut.
Ayu pun menuntun Aurel untuk duduk di kasur, "Nama Tante Ayu. Tante dulu satu sekolah sama Mama kamu," Jelas Ayu.
"Ta..Tante kenal Mama Aurel?" Tanya Aurel menatap Ayu mencari celah kebenaran di mata Ayu, dan Ayu pun menganggukkan kepalanya pasti. Hingga membuat Aurel percaya, dan tidak melihat tanda-tanda kebohongan di mata Ibu temannya itu.
"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi kayak gini? Papa kamu main tangan?" Tanya Ayu to the point membuat Aurel mengigit bibirnya takut untuk berucap karena malu.
Karena melihat respon Aurel yang tidak enak, Ayu pun meriah kedua tangan Aurel untuk di genggamnya. "Gak papa, kalo kamu masih belum bisa ceritam Kamu bisa kok cerita ke Tante atau mungkin Carisa kapan pun kamu mau. Kalo berat banget, jangan di simpan sendiri ya? Kita bakal ngerasa lega kalo kita cerita sama orang yang kita percaya."
"Bentar lagi dokter datang, buat ngobatin luka memar kamu. Takut infeksi atau ada apa-apa, " Jelas Ayu.
"Makasih Tante, maaf udah ngeropotin. Maaf juga Aurel masih belum cerita sama Tante atau Carisa," Ucap Aurel tak enak.
"Iya sama-sama, Tante tinggal dulu ya? Gak papa kan?" Tanya Ayu.
"Iya Ma gak papa," Jawab Carisa mewakilkan Aurel.
Lantas Ayu pun bangkit, dan keluar dari kamar tamu. Lalu menutup pintu kamar pelan, dan membiarkan Aurel bersama putrinya. Mungkin Aurel dapat lebih terbuka pada Carisa, apalagi mengingat usia mereka yang sama dan berteman cukup dekat.
"Kamu gak papa? Mau aku ambil makanan ringan atau minuman?" Tanya Carisa pelan.
"Ca... Aku takut..." Ucap Aurel menundukkan kepalanya.
Carisa pun mendekat pada Aurel, dan duduk di sebelah gadis itu. "Hei? Aku disini, Papa sama Mama yang lainnya juga ada disini temenin kamu. Gak ada yang perlu kamu takuttin Rel," Ucap Carisa menggenggam tangan temannya.
__ADS_1
Aurel pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku takut sama Papa Ca... hiks .. Papa hampir aja nyentuh aku..." Isak Aurel membuat Carisa terkejut bukan main.