How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
55


__ADS_3

"Eh iya, ngapain kamu tadi Ca?" Tanya Haris.


"Kalian kenapa kepo banget sih? Kalo aku hamil atau gak emangnya kenapa? Emangnya anak perempuan remaja kayaknya aku gak boleh ke dokter kandungan? Gitu?" Tanya Carisa.


"Kalian pikir dokter kandungan itu cuma buat ngecek kehamilan aja? Gak ya! Jangan sok tahu deh!" Ucap Carisa merasa tersinggung saat di tanyai seperti itu oleh Haris dan juga Reno.


"Maaf Ca, bukan gitu maksud kita" Ucap Reno merasa tak enak.


"Carisa?" Panggil Rina rekrjeut membuat pembicaraan ketiganya pun beralih pada Rina dan Naufal yang baru saja datang.


Carisa pun menatap Rina dan Naufal bergantian, lalu memutuskan untuk segera meninggalkan rumah sakit. "Aku mau pulang," Ucap Carisa hendak pergi namun ditahan oleh Haris.


"Kamu gak mau tunggu Jevano keluar atau sadar dulu Ca?" Tanya Haris.


"Engga," Jawab Carisa datar dan melepaskan tangan Haris dari tangannya, lalu pergi begitu saja.


"Carisa tadi sempat ketemu sama Jevano?" Tanya Rina.


Namun belum lagi sempat ketiganya menjawab pertanyaan Rina, perhatian mereka pun kembali teralihkan pada dokter yang sudah keluar terlebih dahulu.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


Carisa pun berjalan linglung, "Gak... mereka gak boleh tahu aku lagi hamil. Aku harus aborsi anak ini secepatnya, Mama sama Papa juga gak boleh tahu, aku harus ambil uang tabungan aku cash. Dan aborsi dengan bayar cash," Batin Carisa memikirikan berbagai cara agar dirinya tidak ketangkap basah.


"Mulai sekarang aku harus hati-hati," Ucap Carisa.


Carisa pun langsung pulang ke rumah namun Cwidaa di kejutkan kembali dengan kepulangan orang tuanya yang di luar ekspektasinya. Carisa pun berlari pelan, untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


"Mama? Papa?" Panggil Carisa mendekat pada orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Dari mana kamu?" Tanya Ayu. "Duduk," Perintah Ayu menyuruh Carisa duduk di depannya dan juga saka, Carisa pun menurut dan duduk di depan orang tuanya.


"H... huh? d... dari rumah Aurel Ma," Jawab Carisa bohong.

__ADS_1


Saka pun menghela nafasnya kasar, dan bangkit dari duduknya. "Sayang? Kamu tahu kan kalo Mama sama Papa gak suka kalau kamu bohong?" Tanya Saka lembut.


Deg!


"Ca... Cairan... jenguk Jevano Pa, Papa sama Mama gak tahu? Jevano sakit, tipesnya kambuh. Jadi Carisa kesana mau jenguk Vano Pa Ma" Jawab Carisa meyakinkan kedua orang tuanya.


"Terus kenapa kamu bohong? Bawa-bawa nama Aurel lagi," Sahut Ayu.


Saka pun menghela nafasnya kasar, "Carisa sekali lagi Papa ingatin kamu. Papa sama Mama gak pernah ngajar kamu jadi anak yang suka bohong sama orang tua, jadi kamu harus jelasin ini semua!" Ucap Sama meletakkan testpack di atas meja yang didapati Ayu dari kamar Carisa.


Carisa pun melebarkan matanya tekejut, tubuhnya menegang seketika saat melihat benda itu kini sudah berada dihadapannya dan juga orang tuanya.


Carisa pun mengatur ekspresi wajahnya, dan memilih untuk tidak megamu atas apa yang sudah di lakukan ya dan dialaminya beberapa Minggu terakhir ini.


"Maksud Papa?" Tanya Carisa. "Carisa mau punya adek? Terus kenapa Carisa yang harus jelasin?" Tanya Carisa yang masih tak mau jujur, hingga membuat Ayu dan Saka saling bertukar tatap.


"Carisa ini Mama dapat di kamar kamu tadi siang, ini punya kamu atau bukan?" Tanya Ayu.


"Papa harus gimana supaya kamu jujur sama Mama Papa Carisa?Hm?" Tanya Saka mulai geram dengan putrinya.


Carisa pun keringat dingin karena ketakutan, karena orang tuanya lebih berpuluh-puluh kali lipat menakutkan dari biasanya.


Terutama Saka.


"Gimana sama ini semua Carisa?" Tanya Ayu mengeluarkan semua tespack yang di sembunyikan di tempat yang mungkin memang sulit untuk ditemukan oleh siapapun pun.


Namun, Ayu dapat menemukan itu dengan mudah dengan mengobrak-abrik kamar putrinya.


Carisa pun menelan air liurnya dalam-dalam, dan masih enggan untuk berbicara hingga membuat sama menjadi geram pada putri semata wayangnya itu.


"Kamu lupa Carisa? Papa ladang cctv di setiap rumah ini, dan juga di kamar kamu? Tapi cctv yang di kamar kamu itu, yang bisa lihat cuma Mama. Takut kalau terjadi hal yang tidak-tidak sama kamu," Jelas Sama membuat Carisa mengigit bibirnya takut.


Carisa tidak mengetahui, kalau di kamarnya ternyata ada cctv.

__ADS_1


Dengan beraninya Carisa pun bangkit dari duduknya dan menatap kedua orang tuanya dengan nyalang, "Mama sama Papa pasang cctv di kamar Carisa? Apa Carisa harus di awasi selama 24 jam? Carisa juga butuh privasi Ma Pa!" Ucap Carisa meninggikan suaranya.


"Oh udah berani kamu sekarang? Udah merasa hebat?" Tanya Saka.


Plak!


"Papa!" Teriak Ayu terkejut saat Sama menampar Carisa hingga terjatuh di lantai.


"Hiks..." Isak Carisa menatap lantai.


"Buktinya sudah jelas ya Carisa, bilang sama Papa Mama siapa yang dengan beraninya hamilin anak Papa huh? Papa sama Mama gak mau salah tuduh, kamu cuma keluar sama Jevano sama Leon."


"Mama sama Papa cuma butuh kejujuran kamu, siapa yang udah hamilin kamu? Dia harus bertanggung jawab, termasuk kamu juga, yang sudah berani untuk melakukan dan berbuat gila!" Lanjut Sama frustasi.


Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Maaf Pa Ma" Ucap Carisa merayap dan memegangi kaki Saka.


"Papa gak butuh maaf kamu Ca, Papa sama Mama vuma butuh siapa nama cowo yang udah beraninya ngehamilin putri Papa huh?!" Tanya Sama meninggikan suaranya, namun Carisa masih bungkam dan tidak mau mengatakan siapa orang yang telah menghamilinya.


Ayu juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Carisa, Ayu juga takut di saat Saka marah saat seperti ini. Dan juga dirinya juga membela Carisa, yang adanya hanya memperburuk keadaan saja.


Lagipula, menurutnya Carisa memang salah. Jadi, tidak pantas untuk dibela.


"Oke Carisa, kalau itu mau kamu! Ikut Papa!" Ucap Saka menarik Carisa untuk berdiri dan memaksa Carisa untuk masuk ke dalam kamarnya.


Brakh!


Saja pun membanting putrinya ke kasur, "Jangan harap kamu bisa keluar dari ruangan tau bahkan kamar ini Carisa. Kalau kamu masuh gak mau bilang ke Mama sama Papa siapa yang udah berani hamilin kamu," Ucap Saka.


"Hiks... Saka udah..." Isak Ayu tak tega pada putri semata wayangnya itu.


"Gak ada sekolah, gak ada hp, gak ada laptop, gak ada keluar rumah! Dengar itu!" Ucap Saka langsung menarik ayu keluar dari kamar Carisa dan membanting pintu Carisa.


Tidak lupa, untuk mengunci pintu kamar putrinya.

__ADS_1


__ADS_2