
"Kenapa gak bilang mau ikutan?" Tanya Jevano.
"Kan aku gak tahu kau kamu ketua klubnya," Jawab Carisa enggan menatap Jevano maupun Reno yang juga berada disana.
Reno yang mengerti pun, kalau keduanya butuh ruang untuk berdua pamit. "Jev, Ca, aku deluan ya ada urusan di ruang OSIS" Pamit Reno.
"Oke," Sahut Jevano allu memperhatikan Reno yang benar-benar memang sudah keluar dari dalam aula.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, "Bener kamu gak tahu?" Tanya Jevano menatap Carisa dengan tatapan menyelidiknya.
Carisa mengigit bibirnya, "Gak... aku gak tahu. Memang kenapa sih? Aku gak boleh ikut?" Tanya Carisa dengan beraninya menatap Jevano nyalang.
Jevano pun tersenyum, "Gak kok bukan itu maksud aku. Boleh mau belajar bareng gak? Nanti yang kasih nilai tes aku sama Reno," Ucap Jevano.
Mata Carisa pun langsung melebar kesenangan, "Serius?" Tanya Carisa semangat.
Jevano pun menganggukkan kepalanya, "Setiap latihan basket aku ke rumah kamu. Gimana?" Tanya Jevano.
Carisa pun mengerucutkan bibirnya, "Tapi kan kamu pasti caoek habis latihan langsung ke rumah aku..." Ucap Carisa tak enak pada Jevano, lalu menundukkan kepalanya.
Lagi-lagi Jevano tersenyum tipis, lalu mengangkat kepala Carisa yang menunduk itu untuk kembali menatapnya. "Apasih yang engga buat tuan putri aku hm?" Tanah ejgank membuat pipi Carisa bersemu merah.
"Lucu," Ucap Jevano terkekeh pelan, lalu mencubit pipi Carisa dengan gemas.
"Ihhh Carisa sadar!" Batin Carisa.
"Ca ayo keluar, nanti ketemu si cantik disini" Ajak Jevano bercanda.
"ih Jevano! Mana dia kuntilanak disini!" Ucap Carisa langsung berlari untuk segara keluar dari Aula.
Nyatanya, Carisa keluar dari Aula bukanlah karena takut dengan kuntilanak. Namun, Carisa salah tingkah terhadap perlakuan Jevano tadi padanya.
Jevano pun terkekeh gemas, saat melihat Carisa yang berlari kecil seperti anak kecil.
...🐈⬛🐈⬛🐈⬛...
"Ca mau rasa apa?" Tanya Leon.
"Aku vanila coklat!" Seru Carisa.
"Kamu Rel?" Tanya Leon.
"Hmmm aku kayak biasa aja Lin, kita tunggu disana ya?" Ajak Aurel dan Leon menganguk setuju dan mengantri untuk membeli es krim para gadis itu termasuk miliknya.
"Kamu kok panggil Leon itu Lin sih? Nama panjang Leon apa?" Tanya Carisa penasaran.
__ADS_1
Aurel pun tekekeh pelan, "Penasaran ya Ca? Gak tahu kenapa aku panggil Lin. Soalnya kalo panggil nama Leon itu kayak kepanjangan gitu deh Ca, jadi keterusan manggilnya Lin sampe sekarang" Jelas Aurel.
"Ohh gitu, nama panjang Leon apa?" Tanya Carisa.
"Leon Arsya Pratama Afnan, panjang kan?" Tanya Aurel.
"Iya panjang bangett" Sahut Carisa.
"Leon tu kayaknya suka deh sama kamu Ca," Ucap Aurel.
"Huh?" Kaget Carisa.
"Jangan kaget gitu," Ucap Aurel menyenggol bahu Carisa. "Ini itu idenya Leon tahu, dia yang ngajak aku buat ngajakin kamu kesini. Biasanya Leon gak pernah gitu, baru kali ini aja dia kayak terus terang gitu kalo lagi suka sama cewe kebaku, atau mungkin karena kita temen dekat apa ya?" Tebak Aurel yakin tak yakin.
"Kayak kamu salah paham deh, Leon gak mungkin suka sama aku" Jelas Carisa.
"Leon udah ngaku kok, jadi kamu jangan risih ya? Aku tahu kok, kamu pasti anggap Leon cuma temen sekolah gitu aja kan?" Tanya Aurel membuat Carisa menganggukkan kepalanya tak enak.
"Kamu suka sama Jevano kan? Kelihatan kok Ca," Ucap Aurel tekekeh geli.
"Lagi ngomongin apa sih? Yang satu tegang banget kayaknya," Ucap Leon yang membawa 3 mangkok es krim dan melirik Carisa.
"Gak ada kok, kita lagi becandaan aja iya kan Ca?" Tanya Aurel saat melihat ekspresi Carisa seperti orang binggung.
"Eh? I... iya kok, makasih ya" Ucap Carisa mengambil es kirim miliknya dari tangan Leon.
Sebenarnya dapat Carisa rasakan, kalau cara Leon menatap dirinya dan Aurel itu memang sangat berbeda. Jangan kan menatap, bahkan dari segi perlakuan pun berbeda.
Lihat saja sekarang Leon bahkan duduk di sebelah Carisa, padahal masih terdapat tempat duduk yang lebih lapang di sebelah Aurel.
"Hujan?!" Batin Carisa.
Carisa pun langsung berdiri tegak saat rintik hujan jatuh ke atas sepatunya. "Kenapa Ca?" Tanya Aurel terkejut.
"Kenapa?" Tanya Leon.
"Eh hujan Lin," Ucap Aurel.
"Cuma gerimis aja, masih rintik. Mau cari tempat teduh dulu gak?" Ajak Leon sembari bertanya.
Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mau disini dulu Ca?" Tanya Aurel.
"Engga, ayo pulang!" Rengek Carisa pada Aurel sambil menggoyang-goyangkan tangan Aurel.
"Loh? Kok pulang? Kita baru sampai loh," Ucap Leon. "Carisa tempat teduh aja yuk?" Ajak Leon.
__ADS_1
Karena Carisa tidak memiliki pilihan lain, Carisa pun pasrah dan mengikuti Leon dan juga Aurel yang sedang mencari tempat teduh. Carisa pun memaksakan dirinya untuk berjalan di antara rintik hujan itu, walaupun kepalanya merasa sangat sakit, dan nafasnya yang sesak.
"Mending banget ya hari ini, kayaknya mau hujan gak sih?" Udah beberapa Minggu ini juga gak ada hujan," Ucap salah satu anak basket.
"Mungkin," Jawab Naufal. "Udah lama juga gak hujan," Lanjutnya.
Deg!
"Carisa lagi di taman hiburan!" Batin Jevano.
"Eh kayaknya aku harus balik sekarang deh, kalian latihan aja dulu ya! Without me, oke?" Pamit Jevano.
"Eh mau kemana Jev?" Tanya Naufal menahan tangan Jevano.
"Sorry Fal, Urgent!" Ucap Jevano. "Nanti aku chat!" Lanjut Jevano langsung meninggalkan teman-temannya.
Saat Jevano hendak menuju parkiran mobilnya, Jevano pun sudah mendapati hujan rintik-rintik. Jevano juga sudah menelepon Carisa, Aurel, dan juga Leon secara bergantian.
Namun tidak ada yang mengangkat panggilan satupun dari mereka, padahal Jevano sudah menurunkan gengsinya untuk menelepon Leon.
Jevano pun panik bukan main, Jevano pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju dimana lokasi tempat mereka bermain.
"Kenapa Ca?" Tanya Aurel yang mulai sadar saat mendapat keanehan dari Carisa yang mengenggam lengan Aurel kuat.
"Kenapa Rel?" Yabga Leon binggung yang jalan di belakang keduanya.
Carisa pun menundukkan kepalanya, enggan dan malu untuk menatap Aurel dan juga Leon.
"Ca?" Panggil Aurel pada Carisa yang tak kunjung menyahut dan menatapnya.
Lantas Aurel pun mengintip daei sela rambut Carisa, dan mata Aurel langsung melebar terkejut saat melihat wajah Carisa yang sudah pucat.
"Loh Carisa?? Kamu kenapa?" Panik Aurel.
"Eh kenapa-kenapa?" Tanya Leon ikut panik.
Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Telepon Jevano Rel please..." Ucap Carisa pelan.
"Apa Jevano? Bentar-bentar, Leon! Cepat telepon Jevano! Buruan!" Suruh Aurel.
"Kenapa harus telepon Jevano sih?! Ayo Ca, kita ke rumah sakit aja sekarang," Ajak Leon menarik tangan Carisa dan Aurel paksa, namun Carisa memberontak lemas berusaha melepaskan tangannya dari Leon.
Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jevano Rel... Jevano..."Rengek Carisa.
"Ngapain sih? Mending kita langsung ke rumah sakit!" Ucap Leon meninggikan suaranya.
__ADS_1
Brukh!
"Eh? Carisa?!" Ucap Aurel semakin panik.