How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
16


__ADS_3

"Hmm... di bilang ngerepotin iya juga sih, tapi di bilang gak ngerepotin juga bisa sih. Lagian Jevano nya gak marah ke kamu, sama protes gitu kan? terus juga gak masalahin soal itu kan? Udah santai aja," Jelas Aurel.


"Iya juga sih, tapi kan kita gak tahu gimana perasaan Jevano" jawab Carisa membuat Aurel menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


"Santai aja Ca, lagian itu Jevano emang anaknya sering telat kok" Jawab Aurel.


"Serius?" Tanya Carisa pada Aurel. "Soalanya tadi aku dengar dari salah satu siswa gitu kayak bilang cie Jevano tumben terlambat. Nah makanya aku jadi kek aduh gimana ya," Jelas Carisa pada Aurel.


"Gak kok, itu Jevano emang sering terlambat tapi lewat tembok belakang sekolah. Mau terlambat, mau gak terlambat pasti jalan dia keluar masuk itu ga pintu belakang gitu Ca."


"Dia juga sering kok itu kepergok sama guru-guru disini atau anak OSIS, waktu dia lagi manjat tembok bekalang. Tapi kalo anak OSIS nya Reno yang jaga, dia di bebas in aja sih sama Reno biasanya" Jelas Aurel panjang lebar.


"Loh? Reno anak OSIS?" Tanya Carisa.


"Dia ketua OSIS di sekolah kita," Jawab Aurel.


"Hah? Serius?" Tanya Carisa membuat Aurel menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? Eh? Kamu kenal sama Reno juga?" Tanya Aurel.


"Baru lihat kemarin sih, tapi aku gak nyangka aja kalo dia itu ternyata ketua OSIS di sekolah kita" Jawab Carisa terkekeh pelan.


"Hahaha, dia emang kalo di real kayak berbanding terbalik banget sih. Tapi kalo udah balik jadi ketua OSIS atau di lingkungan sekolah, hmmm dia itu tegas banget anaknya. Kadang sama temen-temennya juga kalo buat masalah langsung di hukum atau gak di catat di buku hitam," Jelas Aurel.


"Kayaknya kamu kenal banget sama mereka, sama teman-teman Jevano juga kamu kek udah kenal mereka dekat gitu" Sahut Carisa terkekeh pelan.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


"Eh Mas Vano!" Sapa Haris menepuk bahu Jevano yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Kena hukum ya?" Ledek Reno. "Makanya jangan telat Mulu!"" Peringat Reno selalu teman yang selalu setia untuk memberi siraman rohani pada teman-temannya.


Jevano pun mendengus kesal, "Jangan ceramhin aku dulu deh" Ucap Jevano langsung melarikan diri untuk menuju meja belajarnya.


"Eh bang Vano udah datang, di hukum ya bang?" Ejek Lia.

__ADS_1


"Diam deh," Sahut Jevano malas membuat Lia dan juga Nabila terkekeh geli.


"Eh tugas kelompok kita kemarin kamu yang bawa kan No?" Tanya Lia.


"Loh? Bukannya sama Rina ya?" Tanya Jevano.


"Eh ini Naufal emang belum datang ya?" Tanya Jevano.


"Iya belum, Rina juga..." Jawab Lia.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


Di Pos depan komplek perumahan Rina.


Ceklek


Rina baru saja masuk ke dalam mobil milik Naufal, dengan wajah melasnya dan tentu saja raut wajah yang sangat kesal.


"Mau bolos gak?" tanya Naufal tersenyum tipis, dan menjalankan mobilnya pada kecepatan rata-rata.


Rina pun berusaha mati-matian untuk menahan tangisnya, Naufal menyadari itu karena Rina biasanya kalau menahan tangisnya pasti akan meremat bajunya kuat-kuat.


Rina pun menganggukkan kepalanya setuju untuk pergi ke pantai bersama Naufal, setelahnya Rina pun menghadapkan wajahnya ke jendela dan menangis dalam diam.


Jevano pun menghela nafasnya kasar, dan meraih tangan Rina untuk di genggamnya. Walaupun keduanya tidak terlalu dekat, tapi mereka sering berbagi cerita soal rumah tangga kedua orang tua mereka yang selalu menekankan mereka untuk menjadi lebih baik.


Karena mereka adalah satu-satunya harapan keluarga mereka, dan harus bisa melakukan hal ini dan itu.


Dan karena itu juga mereka jadi sering bertemu saat masalah itu mulai kembali. Bukan seperti yang orang pikirkan, seperti mereka sering keluar bersama dan yang lainnya.


Mereka akan keluar dan pergi bersama, apabila salah satu dari mereka mengalami masalah yang sulit mereka hadapi.


"Aku capek banget Fal..." Lirih Rina pelan, namun anufal dapat mendengar itu dengan jelas di telinganya.


"Gak papa Rin, semua manusia itu berhak buat jadi capek. Kalo kamu capek istirahat aja sebentar, gak semua yang kita inginkan itu berjalan dengan baik."

__ADS_1


"Semua yang kita inginkan itu mustahil terjadi kalo kita masih terbebani sama aturan orang tua, yang berlebihan dan maksa kita buat ngelakuin hal yang gak cocok untuk kita sendiri" Jelas Naufal.


"Tenangin aja diri kamu dulu, kalo kamu udah siap untuk cerita soal apa yang terjadi. Aku siap dengar cerita kamu, dan ngasih saran yang baik menurut pandangan aku Rin" Jelas Naufal mengusap tangan Rina lembut.


Drtt drtt drtt


"Bentar ya," Ucap Naufal menepikan mobilnya di pinggir jalan dan. menjawab telepon.


"Dimana?" Tanya Jevano di balik telepon.


"Aku bolos hari ini, izinin aku sama Rina ya? Terserah deh mau buat alasan apa aja," Sahut Naufal.


"O...oh ini kamu apa Rina?" Tanya Jevano yang tahu kalau Rina dan Naufal sedang bersama dengan secara tiba-tiba pasti ada terjadi sesuatu antara keduanya.


"Rina," Jawab Naufal.


"Oke.. eh itu anu... apa namanya tugas kelompok kita kemarin," Ucap Jevano.


"Ya udah selagi aku sama Rina masih di dekat sekolah, tunggu di pagar belakang sekolah aja. Ntar aku lempar," Jelas Naufal.


"Oke," Sahut Jevano.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


"Eh ini bukan jalan rumah kan? Mau lewat jalan pintas atau mau kemana nih?" Tanya Carisa pada Jevano.


Saat ini Jevano dan Carisa baru saja pulang dari sekolah, dan setelah pulang sekolah Jevano sengaja mengajak Carisa untuk makan sore. Sekaligus makan malam, di sebuah resto tanpa memberitahu Carisa.


"Kita mampir buat makan bentar ya Ca? Aku lapar banget," Ucap Jevano pada Carida lembut membuat pipi Cairan bersemu merah.


"Huh? Aa... oke," Jawab Cairan gugup dan diam-diam dirinya memegangi pipinya yang panas dadakan itu.


Selama 10 menit perjalanan setelahnya, akhirnya Carisa dan Jevano pun sampai di tempat yang di tuju oleh Jevano sendiri tadi.


Awalnya Jevano sedikit binggung ingin mengajak Carida makan dimana karena tidak tahu apa selsra dari gadis itu. Tapi karena Jevano pikir semua perempuan pasti akan menyukai makan di resto mahal, maka Jevano pun membutuhkan untuk membawa Carisa makan disana.

__ADS_1


"Yuk Ca, turun" Ajak Jevano siap-siap untuk turun dan mengambil ponsel dan dompetnya.


Carisa pun enggan bergerak hingga Jevano menyadarinya, "Kenapa Ca?" Tanya Jevano.


__ADS_2