
"Romantis banget dehh Jev," Cibir salah satu teman sekelas Jevano yang kebetulan juga berada di parkiran.
"Harus dong... tua. putri aku nih" Sahut Jevano tersenyum ramah.
"Ck apasih," Bisik Carisa pada Jevano dan memukul lengan Jevano pelan padahal di dalam hatinya sudah meronta-ronta bahkan pipinya pun memerah.
"Ampun dahhh, deluan ya Jev Carisa" Pamit teman sekelas Jevano.
"Oke bro hati-hati," Ucap Jevano dan Carisa pun hanya tersenyum ramah.
"Kamu jangan gitu ah," Ucap Jevano tiba-tiba.
"Hah? Gitu gimana maksudnya?" Tanya Carisa.
"Jangan senyum cantik kayak gitu, yang boleh lihat cuma aku. Ayo masuk," Ucap Jevano langsung berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi.
Carisa pun tersenyum tipis, "Astaga... gemes banget calon lakik aku wkwkwk" Batin Carisa.
Drtt drtt drtt
...'Yura memanggil anda'...
__ADS_1
Baru saja Jevano meletakkan ponselnya, sudah tertera nama Yura di layar ponselnya yang sedang sibuk meneleponnya saat ini. Carisa yang mendengar ponsel Jevano berdering tadi pun, gak sengaja reflek melihat pada layar ponsel Jevano. Begitu pun juga dengan sang pemilik ponsel itu.
"Kenapa Yura bisa nelepon Jevano?" Batin Carisa.
"Kenapa gak di angkat?" Tanya Carisa.
"Berisik dia Ca," Jawab Jevano asal dan mengakhiri panggilan Yura dan terlihat tak minat pada panggilan tersebut. Sedangkan di dalam hatinya, Jevano rasanya sudah deg-degan sekali takut ketahuan oleh Carisa.
"Kamu... kenal Yura Jev?" Tanya Carisa.
"Duh jawab apa nih? Help dong," Batin Jevano.
"Kamu jangan mikir aneh-aneh, kamu lihat sendiri kan? Dia nelepon aku, bentar lagi juga pasti bakal nelepon lagi tuh" Jelas Jevano Sasak namun bisa di akal-akalinya.
Carisa pun menatap Jevano dengan tatapan penuh selidik, "Dia di bilang bohong bisa gak sih kalo dari gerak-gerik nya? Tapi jawabannya kok agak masuk akal ya?" Batin Carisa.
"Kamu tenang aja hey, gak akan ada perempuan lain yang aku cintai selain kamu sama Mama oke hm? Jangan cemburu soal panggilan dari nama perempuan siapapun itu dari ponsel aku, kamu satu-satunya disini" Tunjuk Jevano pada hatinya.
"Dan satu lagi, bisa aja kan mereka nelepon aku karena ada urusan sekolah, atau tugas yang lain mungkin? Okey?" Ucap Jevano yang akhirnya membuat Carisa menghela nafasnya pelan lalu mengangukkan kepalanya.
"Jawab dong..." Bujuk Jevano.
__ADS_1
"Iya sayang... aku percaya kok sama kamu" Ucap Carisa membuat Jevano tersenyum tipis lalu mengambil tangan Carisa untuk di genggamnya.
"Sayang banget deh sama kamu Ca," Ucapnya menciumi tangan Carisa membuat pipi Carisa merah merona.
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
"Loh Aurel? Mana Naufal? Kenapa belum balik?" Tanya Leon menghampiri adek sepupunya.
"Ngapain tanya-tanya? Sana sama Yura," Ucap Aurel hendak meninggalkan Leon yang kebetulan lewat di depannya dan berhenti.
Secepat kilat, Leon pun menarik tangan Aurel. "Rel tolonglah itu di luar kendali aku. Lagian aku udah tanggung jawab kan?" Tanya Leon.
Aurel pun memejamkan matanya dan menghela nafasnya kasar, "Yaudah sih, aku lagi gak mood sekarang. Nanti aja, aku usaha in ngerti-ngertiin kok nanti" Jawab Aurel.
"Naufal kemana? Kenapa kamu tinggal sendiri disini? Gimana kalo di culik?" Tanya Leon khawatir.
"Ish apasih Lin? Aku udah besar tau, makanya jangan deket-deket aku. Biar musuh Kakek gak tahu, kalo aku adik kamu. Lagian aku bukan anak kecil lagi, yang harus di jaga kemana-mana. Please dehh..." Omel Aurel.
"Tapi aku kan pengen ngejaga kamu," Ucap Leon menatap Aurel penuh arti.
"Apasih? Gak biasanya, sana jaga Yura sana anak kamu aja" Bisik Aurel pada Leon.
__ADS_1