Jatuh Cinta Karna Kentut

Jatuh Cinta Karna Kentut
Tak bisa menolak


__ADS_3

Riyanti menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang sudah tak empuk itu, dan sudah terbentuk pulau-pulau hasil lukisan Riyanti setiap malam.


"Lin, kalau lapar masak mie sendiri aja ya!"


"Terus kamu?"


"Aku belum lapar."


"Kamu punya stok telur kan Rin?"tanya Linda penuh harap.


"Nggak ada Lin!" ini sudah bulan tua aku sudah tidak ada uang untuk beli telur karena telur yang kemarin aku beli sudah habis.


"Iya makan mie nggak pakai telor dong!"


"Pakai nasi aja Lin, biar banyak"


"Oh iya ya jadi lebih kenyan aku!"


"Ya udah sana!"


"Kamu mau aku masakin juga Rin?"


"Nggak usah Lin, ntar aja aku makan."


"Oke siap."


Riyanti merebahkan dirinya di atas pembaringan dan memeluk guling. Teringat ada pulsa kemudian Riyanti mengaktifkan kuota internetnya.


klunting


klunting


klunting


Bunyi notifikasi pesan yang tertunda berebutan masuk ke ponsel milik Riyanti.


"Ada kouta kamu?"tanya Linda sambil membawa semangkok mie kuah dan sepiring nasi putih ditambah gorengan sosis.


"Baru ada pulsa."


"Dari siapa?"


"Apanya?"


"Pulsa."


"Dari Pak Janpilan."


"Oh so sweet, kalian romantis banget sih!" ledek Linda


"Aku nggak minta!"


"Tapi mau kan pulsanya?"


"Kan udah diisiin, rugilah nggak aku pakai!"


"Kalau kamu nggak mau transfer ke aku aja enggak nolak kok."


"Enak aja."


"Kamu goreng sosis aku?"tanya Riyanti saat melihat piring dilengkapi dengan sosis goreng.


"Iyalah, sayang dianggurin!"


"Ampun deh, bangkrut aku kalau gini."


"Anggap aja sedekah."


"Bukan sedekah tapi dirampok!"


Linda dengan lahap menyantap makanannya sehingga keringat karena mie nya ditambahin dengan potongan cabe rawit.


Riyanti membaca satu persatu pesan yang masuk salah satunya dari nomor baru yang belum ada di kontaknya ternyata nomor Ryan


"Ryan : udah ada kuota kamu?"


"Riyanti : udah


"Ryan: save nomor aku Ryan."


Riyanti: Done."


Percakapan mereka hanya terhenti sampai basa-basi pembukaan aja. Namun di seberang sana Ryan merasakan debar-debar yang aneh saat Riyanti membalas pesannya.


terakhir Riyanti membaca pesan dari Pak Janpilan.


Pak Janpilan : sore nanti saya tunggu di cafe melanix


"Riyanti : saya harus kerja Pak!


Pak Janpilan : jam 4 sebelum kamu berangkat kerja."

__ADS_1


Riyanti menghela nafas berat dan memilih mengabaikan pesan dari Pak Janpilan. karena kalau sudah seperti ini, dia tidak bisa menolak mereka sudah terikat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Riyanti.


Riyanti melihat jam di ponselnya baru pukul satu siang, itu berarti masih ada waktu untuk Riyanti rehat sejenak. Kebetulan sore itu tidak ada jadwal kuliah. Sementara Linda sudah seperti gajah pingsan tidur di lantai dengan ngorok. Sementara piring dan peralatan masak dibiarkan berantakan di dapur.


"Dasar gajah bengkak."Sungut Riyanti sambil membereskan piring kotor bekas makan Linda.


Puut


puut


Riyanti melepas gas yang sejak tadi berdesakan dalam perutnya minta untuk keluar bergabung dengan udara bebas.


"Legaaa,"ucap Riyanti sambil merentangkan tangannya.


*****


Saat ini Riyanti sudah tiba di sebuah kafe yang tak terlalu jauh dari cafe milik Pak kaspar. Cafe Melanix Itu tampak masih sepi pengunjung. Riyanti clengak clenguk memperhatikan setiap pengunjung, dan matanya menemukan sosok yang dia cari siapa lagi kalau bukan pak Janpilan.


"Ada apa Pak?"


"Duduk dulu"


"Saya buru-buru Pak."


"Saya sudah minta izin Pak kaspar kalau kamu datangnya agak telat."


"What?"


"Beliau baik kok mengizinkan."


"Bapak nggak bisa seenaknya gitu dong."


"Kenapa?"


"Bagaimana kalau saya dipecat?" udah dua hari saya bolos."


"Nggak bakal."


"Bapak ngancam Pak Kaspar?'"


"Ya nggak lah Rin," yang jelas beliau paham dan mengerti kok."


"Kalau saya dipecat Gimana Pak dong pak kuliah saya? masih lama loh dan siapa yang biayai kehidupanku.


"Kamu tenang saja nggak bakalan dipecat Rin!"


"Kok Bapak yakin sekali?"


"Janji loh pak!"


"Iya saya janji."


"Awas kalau bohong!"


"Nggak bakalan Riyanti."


Riyanti menghempaskan bokongnya pada kursi yang tersedia.


"Mau pesan apa Rin?" tanya Pak Janpilan dengan lembut.


Riyanti membelalakkan matanya mendengar suara lembut Pak Janpilan karena selama ini Riyanti belum pernah mendengar suara lembut pak Janpilan. yang ia tahu pak Janpilan dosen yang super duper killer dan kaku.


"Kenapa Rin?"


"Ngak apa-apa."


"Saya pesan mie goreng seafood dan es jeruk aja Pak."


"Oke "


Pak Janpilan tampak memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan satu persatu.


"Ada apa Pak?"tanya Riyanti tak sabar


"Makan dulu Rin."


"Pak cepetan deh bilang ada apa Bapak minta saya temuin Bapak di sini.


"Saya mau ngajak kamu ke....."


Belum selesai Pak Janpilan melanjutkan perkataannya pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Pesanan sudah siap mie goreng lengkap dengan sea food , bakso telur,es jeruk dan es cappucino."pelayan mengulang pesanan yang diantar.


"Terima kasih Mbak ucap pak Janpilan. setelah pelayan menyajikan makanan mereka.


"Sama-sama dan selamat menikmati." ucap pelayan sambil kembali berlalu ke belakang.


"Bapak mau ajak saya ke mana?"tanya Riyanti


"Makan dulu Rin!" nggak baik makanan dianggurin."

__ADS_1


Riyanti menurut dan makan dengan lahap maklum sebenarnya Riyanti belum makan dari siang. Karena ketiduran sampai sore Riyanti belum sempat Makan apa lagi stop makanannya yang ada di kamar kos nya sudah habis dilahap Linda.


"Pelan-pelan Rin!"tegur pak Janpilan saat melihat Riyanti kepedasan


"Pedas banget sih!"


"Kan kamu yang tambahin cabenya." pak Janpilan mengeluarkan tisu saat melihat wajah Yanti penuh keringat dan kemerahan karena kepedasan.


puuut


"Aduh."ucap Riyanti malu." pak Janpilan hanya menunduk menahan tawa mendengarkan kentut Riyanti.


"lama-lama saya terbiasa."jawab Pak pak Janpilan


"Maaf Pak."


"iya."


Beruntung suara cafe sedikit berisik jadi semua pengunjung tidak mendengar kentut Riyanti.


"Saya akan mengajak kamu untuk fitting baju."


"Perjanjian kontrak Kita kan nggak sampai ke sana Pak!"potong Riyanti


"Maksud kamu?"


"Perjanjian kita hanya pacar pura-pura Pak bukan menikah." tegas Riyanti


"Siapa yang mengajak kamu menikah?"


"Terus tadi bapak bilang fitting baju?"


"Iya saya mau ajak kamu fitting baju untuk menghadiri undangan pernikahan adik sepupu saya di Bandung bulan depan.


"Oh Riyanti ber oh malu."


"Haruskah aku ikut Pak?"


"Iya!"


"Kenapa nggak Heriyanto aja Pak?"


"Siapa? kamu?


"Bukan Bapak kenapa nggak berangkat sama Heriyanto aja."


"Haryanto sama pacarnya."


"Emang ada yang mau cowok songong gitu


'sepertinya ada


"Kalau saya nggak mau ikut Pak?"


"Kamu harus bayar denda dan mendapat nilai kamu E.


"Ini namanya pemaksaan Pak.".


"Iya karena kita sudah ada surat perjanjian."


"Bapak nggak bisa seenaknya dong maksa saya."


"Saya nggak maksa."


"Ya udah Sayang nggak mau ikut Pak."


"Baiklah Kamu mesti tandatangani pemutusan kerjasama dengan membayar denda sebesar sepuluh juta dan mendapatkan nilai E.


"Kalau saya tidak bisa bayar denda?"


"Saya akan lapor ke polisi buktinya kuat." kita ada surat perjanjian kok."


"Kok jadi ribet gini ya."


"Kalau kamu nurut nggak bakalan ribet kan?"


"Ya udah deh saya ikut!"


"Tapi nginep saya di mana Pak?"


"Semua itu urusan saya kamu tinggal ikut saja dan berpura-pura lah kalau kita pasangan pacaran yang siap menikah."


Riyanti hanya diam, walaupun menggerutu dalam hati namun dia tidak ada pilihan lain selain menuruti semuanya permintaan pak Janpilan. Toh dia juga tidak merugikan.


Bersambung......


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓💓💓🙏💓🙏


mampir juga kekarya Morata yang kisah nyata


"Kurelakan perawanku untuk dewa penolongku" sudah kembali up, ceritanya semakin seru yuk capcus kepoin di aplikasi noveltoon.

__ADS_1



__ADS_2