
"Naira..... Naira."panggil Ibu Anjani tetapi Naira tak kunjung menjawab entah Dimana keberadaan Naira saat ini. Hal itu membuat ribuan jadi panik biar langsung menemui rianti dan jantilan di kamar Alexa dan Alex.
"Rin....'kamu lihat adik kamu tidak?
"loh bukannya sedari tadi ibu bersamanya?
"tidak Ibu tadi pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan dapur. tapi setelah Ibu pulang dari supermarket, Ibu sudah tidak melihat Naira lagi di rumah.
"Apa dia tidak pamit sama kalian?
"Tidak Bu!
"Terus Naira pergi ke mana?
Riyanti menaikkan bahunya pertanda dirinya tidak mengetahui keberadaan naira. Hal itu membuat janpilan langsung sedikit panik. Ia takut Naira pergi dari rumah.
Janpilan langsung menghubungi nomor ponsel Naira. Tetapi ponsel milik naira di luar jangkauan .Hal itu membuat Ibu Anjani semakin panik
"Ya Allah Nai.....kamu di mana sih? tanya ibu Anjani yang sudah panik tidak melihat keberadaan Putri bungsunya.
Sementara Naira sudah pergi ke terminal. Ia berniat untuk kembali ke kampung halamannya. Entah mengapa pikiran Naira terus ke kampung. Setelah mendapat lamaran dari Randy. Dengan menumpang bus jurusan kampung halaman Naira. Tanpa ragu sedikitpun, Ia pun melangkahkan kakinya naik kedalam bus itu.
Tidak berapa lama bus itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan terminal kampung rambutan Jakarta. Sebelum naira melangkah ke jenjang pernikahan. Ia ingin sekali terlebih dahulu berziarah ke makam ayahnya. Ayah yang paling ia sayangi selama ini.
Naira sengaja tidak memberitahu kepada Ibu Anjani kalau Naira berniat untuk ziarah ke makam ayahnya . Karena dia tahu itu akan membuat Ibu Anjani akan bersedih dan ingat kembali mengingat saat-saat ayah mereka masih hidup.
"Maafkan Naira Bu, Naira tidak mau beritahu hal ini kepada ibu. Karena Naira tidak ingin Ibu sedih nanti di sana."gumam Naira dalam hati sambil meneteskan air matanya.
Tiga jam dalam perjalanan Naira pun tiba di kampung halamannya. Terlihat sang tante yang menempati rumah milik mereka semasa tinggal di kampung, sudah menyambutnya dengan senyuman.
"Kamu sudah sampai?
"Iya tante! ucap Naira sembari langsung memeluk sang tante. Kemudian tantenya mempersilahkan Naira masuk ke dalam rumah.
"Kamu tunggu disini dulu tante akan buatin kamu minum. Kamu pasti capek di perjalanan." ucap Ibu paruh baya itu kepada Naira. naira menganggukkan kepalanya. Sesekali Ia melirik ke sana ke mari melihat kondisi rumah milik orang tuanya.
__ADS_1
Ketika mata Naira menangkup foto keluarga mereka masih terpampang disana. naira langsung meneteskan air matanya. Kala itu mengingat masa masa bersama keluarganya. Mereka tampak hidup bahagia walaupun hidup mereka kekurangan. Tetapi mereka tetap merasa bersyukur.
'Ayah aku merindukanmu"tangis Naira sembari mengelus figura yang masih terpampang di dinding. iya tidak dapat membendung air matanya rasa rindu yang amat dalam membuat dirinya hanyut dalam lamunan.
Tiba-tiba si Tante keluar dari dapur dengan membawakan secangkir kopi dan air putih. Ia melihat Naira tampak bersedih dan sedang menatap pigura yang ada di dinding.
"Apa kamu merindukan Ayah mu? tanya sang tante kepada Naira. Naira menganggukkan kepalanya pertanda tebakan tantenya benar adanya.
"Kalau kamu sangat merindukan ayahmu, Besok kita pergi ke sana untuk berziarah.
"Sekarang kamu lebih baik minum dulu agar tenagamu kembali pulih. Kamu pasti sudah capek perjalanan dari Jakarta ke kampung ini cukup jauh. Jadi habis ini kamu lebih baik istirahat." Ujar sang tante. kepada Naira dibalas anggukan dari Naira.
Sang tante mempersilahkan Naira istirahat di kamar. Sementara sang tante berniat untuk memasak makanan kesukaan Naira. Tetapi Ketika sang tante memasak masakan kesukaan Naira, iya penasaran Mengapa tiba-tiba Naira kembali ke kampung.
Apalagi Naira mengatakan kepada sang tante untuk tidak memberitahu Riyanti dan juga Ibu Anjani. Membuat sang tante semakin penasaran Mengapa Naira kembali ke kampung sendirian.
Keesokan paginya, setelah Naira terbangun dari tidurnya. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Setelah selesai melakukan ritual mandinya, ia pun menghampiri sang tante yang ada di dapur. sementara Arjuna yang masih duduk di bangku SMP datang menghampiri Naira.
Kak Naira kapan datang?
"Maklum Kak tadi malam Arjuna ada tugas kelompok dan mengerjakannya di rumah teman." ucap Arjuna kepada Naira. Naira menganggukkan kepalanya Ia pun mengerti jika sewaktu duduk di bangku SMP sering sekali diberikan guru tugas kelompok.
Sang tante yang melihat Naira sudah membersihkan diri dan tampak press Ia pun mengembangkan. Perlahan sang Tante pun bertanya pelan-pelan, kepada Naira. Mengapa kembali ke kampung sendirian. Dan tidak didampingi oleh ibu Anjani atau Riyanti.
"Coba katakan Yang sejujurnya sama tante ada masalah apa kamu di Jakarta?
"Naira tidak ada masalah tante. Naira hanya kangen aja sama almarhum Papa. Sehingga Naira memutuskan untuk berziarah hari ini."
"Apa kamu yakin hanya karena itu?
"Iya Tante, jadi mau gara-gara apa lagi?
"Terus mengapa kamu mengatakan sama tante untuk tidak memberitahu Anjani dan juga Riyanti?
"Naira hanya tidak ingin melihat ibu bersedih karena mengingat sosok sang ayah. Kalau masalah Kak Riyanti, aku tidak merasa tega melihat kondisi ka Riyanti yang baru melahirkan harus memaksakan diri ikut berziarah ke makam Ayah gara-gara Naira. ucap Naira kepada sang tante. untuk membuat sang Tante langsung menganggukkan kepalanya. Pertanda alasan yang dikatakan oleh Naira masuk akal.
__ADS_1
Setelah sarapan pagi, Naira, sang tante dan Arjuna pun pergi ke makam sang ayah. Ayah yang sangat ia rindukan oleh Naira selama ini. Tanpa disengaja di perjalanan Naira bertemu dengan teman sekolahnya yang sudah menikah kepada duda berumur 48 tahun. Ia tampak bahagia hidup bersama suaminya.
"Hei Naira!"apa kabar? tanya Neneng kepada Naira.
"Alhamdulillah aku baik, kamu bagaimana kabarnya?
"Alhamdulillah aku juga baik dan aku sudah memiliki 2 orang anak. ucap Neneng kepada Naira membuat Naira sedikit terkejut.
"Kamu serius sudah memiliki anak dua?
"Iya aku serius ini orangnya." kata ***** sambil menunjukkan Putra dan putrinya yang imut dan cantik.
"Wah cantik dan ganteng ya anak kamu puji Naira.
"Pasti cantik dan tampan lah, secara ayahnya pun tampan, walaupun umurnya berbeda jauh dengan Ku." Ucap Neneng sambil terkekeh. Tiba-tiba suami Neneng ,Sanjaya keluar dari rumah Ia pun langsung menghampiri Neneng dan Naira.
Siapa sayang? tanya Sanjaya sambil langsung mengecup kening Neneng. Perlakuan romantis yang dilakukan pria paruh baya yang ada di depannya pun membuat Naira kikuk. Seolah dirinya tidak percaya pria dihadapannya memperlakukan Neneng sebaik itu bahkan sangat romantis menurutnya.
"Mas kenalin ini Naira, teman satu sekolah Neneng dulu." ucap Neneng kepada Sanjaya sembari memperkenalkan Naira kepada suaminya.
"Saya Sanjaya suami dari Neneng.
"Saya Naira teman sekolahnya neneng dulu. sekarang Naira sudah tidak tinggal di kampung ini lagi. Naira sudah tinggal di Jakarta bersama ibu dan kakak." ucap Naira kepada Sanjaya sambil mengembangkan senyumnya.
Oh Iya neng pernah cerita tentang kamu ke saya. Apa kabar keluarga di Jakarta apa semuanya baik-baik saja?
"Alhamdulillah keluarga semua baik."sahut Naira
"Oh ya Naira singgah dulu yuk ke rumah!"
"Nanti aja Neng, Soalnya saya mau pergi ke makam sang ayah untuk berziarah." Aku sangat merindukan almarhum Ayah ku." ucap Naira kepada Neneng.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1