Jatuh Cinta Karna Kentut

Jatuh Cinta Karna Kentut
TITIK TERANG


__ADS_3

"Mas kenalin ini Naira, teman satu sekolah Neneng dulu." ucap Neneng kepada Sanjaya sembari memperkenalkan Naira kepada suaminya.


"Saya Sanjaya suami dari Neneng.


"Saya Naira teman sekolahnya neneng dulu. sekarang Naira sudah tidak tinggal di kampung ini lagi. Naira sudah tinggal di Jakarta bersama ibu dan kakak." ucap Naira kepada Sanjaya sambil mengembangkan senyumnya.


Oh Iya istri saya pernah cerita tentang kamu ke saya. Apa kabar keluarga di Jakarta apa semuanya baik-baik saja?


"Alhamdulillah keluarga semua baik."sahut Naira


"Oh ya Naira singgah dulu yuk ke rumah!"


"Nanti aja Neng, Soalnya saya mau pergi ke makam sang ayah untuk berziarah." Aku sangat merindukan almarhum Ayah ku." ucap Naira kepada Neneng.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti kalau kamu sudah pulang dari makam, singgah ya ke rumah. Aku ingin cerita panjang lebar kepada kamu." ucap Neneng kepada Naira.


"Iya nih kamu tenang saja aku pasti akan mampir nanti setelah aku berjarah ke makam Ayah ku. Lagian aku juga sangat merindukanmu. Ingat masa-masa kita duduk di bangku SMP." ucap Naira sambil mengembangkan senyumnya kepada sahabatnya itu.


Setelah berpamitan kepada Neneng dan Sanjaya Naira pun berlalu dari sana menuju makam ayahnya. Lima belas menit berjalan kaki dari kediaman Neneng ke makam ayahnya, Naira pun tiba dimakan ayahnya. Ia Langsung menangis histeris. Ketika Naira melihat makam ayahnya sudah ditumbuhi rerumputan. Itu pertanda tak ada seorangpun yang datang berziarah ke makam ayahnya, selama mereka meninggalkan kampung halaman.


"Ayah Maafkan Naira, bukan Naira tidak mau berziarah ke makam ayah. Tetapi ayah tahu sendiri, Naira akhir-akhir ini udah mulai sibuk dengan studi Naira. Tapi sekarang naira sudah tamat dari bangku SMA. Sekarang Naira datang menjenguk ayah. Naira sangat merindukanmu ayah. Tangis Naira sambil mencabut rerumputan yang ada di makam ayahnya.


Naira terus berkomunikasi kepada sang Ayah seolah-olah ayahnya dapat mendengar apa yang dikatakannya kepada ayahnya. Bahkan Naira pun memberitahu ke makam ayahnya bahwa dirinya sudah dilamar seorang pria.


"Ayah...."Apa ayah tahu? putri bungsu Ayah ini sudah lulus SMA tetapi sebelum Putri Ayah meraih cita-citanya, ada seorang lelaki yang berhati baik dan mulia Ingin melamar Naira. Naira harus bagaimana ayah?


"Apa Naira menerima lamaran itu? tanya Naira kepada ayahnya seolah-olah ayahnya tetap bisa mendengar apa keluhannya.


Tiba-tiba suara ponselnya pun terdengar jelas di telinganya. Ia mengetahui kalau yang menghubunginya adalah ibu Anjani. Sehingga dirinya memilih untuk tidak mengangkat ponselnya


****

__ADS_1


Setelah selesai berziarah di makam sang ayah, naira berniat untuk menghampiri neneng dan Sanjaya di rumahnya.


"Eh Naira kamu sudah datang?


"Iya Neng, Seperti janjiku tadi aku pasti mampir ke rumahmu. Setelah aku selesai berziarah ke makam ayahku.


"Silakan duduk Nai, Neneng memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan naira minuman dan makanan ringan.


"Bagaimana kehidupan di Jakarta Nai? pasti asyik kan."


"lebih asyik di sini kali, kalau di Jakarta uang banyak baru asyik. kalau di sini mah tidak ada uang juga tidak apa-apa bisa bermain di kali dan memanjat pohon." ucap Naira sambil cengengesan.


Tiba-tiba Sanjaya pun keluar, eh naira kamu sudah datang!


"Iya Om!"


"Enak aja kamu manggil Om sama suami aku. Apa kamu tidak menganggap aku lagi sebagai sahabat kamu sehingga kamu memanggil suamiku Om? gerutu Neneng. hal itu mampu membuat Sanjaya langsung tertawa.


"Sudah tidak apa-apa sayang, hanya panggilan saja kok.


Sementara Naira yang melihat tingkah manja sahabatnya itu kepada suaminya, menggelengkan kepalanya. Kamu ini manja banget sih.


"Tidak apa-apa nai, justru saya suka dengan tingkah manja istriku yang cantik ini."ucap Sanjaya membuat Naira sedikit kikuk.


"Neng tidak usah terlalu lebay deh, di hadapan aku. Jiwa jombloku jadi meronta-ronta nih.


"Siapa suruh kamu jomblo, menikah muda itu asik tahu Nai ."


"Masa iya sih?


"Iya buktinya aku setiap minta sesuatu sama Sanjaya selalu dipenuhi. Kebetulan juga sih suami aku baik tampan bertanggung jawab Tajir lagi."puji Neneng memuji suaminya.

__ADS_1


"Ya....ya....ya, kamu menang deh dari aku. secara kamu sudah laku sementara aku belum."


"Makanya kalau mau menikah itu tidak perlu harus muda, tampan tapi kere untuk apa tapi ku hidup menderita.


Jujur sih awalnya Neneng belum mencintai Mas Sanjaya tetapi seiring berjalannya waktu, karena perhatian dan kasih sayang yang diberikan Mas Sanjaya kepada Neneng. akhirnya Neneng jatuh cinta benaran sama suamiku. Neneng tidak peduli apa kata orang menikah sama laki-laki yang sudah sepatutnya ayahku. Tetapi yang menjalani kan aku sendiri. buktinya aku sangat bahagia hidup bersama anak dan suamiku. ucap Neng kepada Naira.


"Syukurlah kamu hidup bahagia, Aku senang mendengarnya. Semoga aku kelak mendapat suami yang dapat membahagiakanku dan juga keluargaku. ucap Naira kepada Neneng


"Aku yakin kok kamu pasti menemukan jodoh yang pas untuk kamu. Dan yang pasti menyayangi kamu dan juga keluarga."ucap Neneng kepada naira.


Sementara Sanjaya tetap masih asyik dengan layar tabletnya memantau laporan perkembangan perkebunannya dari asisten dan juga karyawannya. usaha yang digeluti oleh suami dari Neneng adalah perkebunan sawit. yang mana di desa itu, perkebunan milik suami dari Nene cukup luas. Bahkan orang-orang yang tinggal di kampung itu banyak yang bekerja di perkebunan nya.


"Neng...."sepertinya sudah hampir malam Lebih baik aku kembali ke rumah.


"Kamu belum pulang ke Jakarta kan?


"Belum neng.... sepertinya aku sedikit lama di sini,? masih ada urusan penting."


"Ya sudah kapan-kapan aku akan datang menghampirimu. Maklum saya tidak bebas lagi seperti dulu Apalagi setelah hadirnya kedua putra dan putri ku." Ucap Neneng kepada Naira."


"Sudah tidak apa-apa kalau kamu tidak memiliki waktu untuk menghampiri saya kesana. Naira yang akan datang kemari untuk menghampirimu dan juga keponakanku." ucap Naira sambil mengembangkan senyumnya.


Setelah berpamitan dari Neneng dan juga Sanjaya, Naira kembali berjalan menelusuri kampung. Ia sangat merindukan situasi kampung halamannya. yang mana dia lahir dan dibesarkan di sana.


Dua hari Naira sudah tidak kembali ke rumah Janpilan dan Hal itu membuat janpilan panik dan langsung memberitahu kepada Randy untuk mencari tahu keberadaan Naira. Karena mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Naira.


Randy yang bertugas di dinas kepolisian pun dengan mudah untuk melacak keberadaan Naira dengan menggunakan GPS nomor ponsel milik Naira. Maka Randy langsung dapat mengetahui dan mengakses keberadaan Naira.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


yuk mampir ke karya baru outhor sambil nunggu novel ini up lagi.



__ADS_2