
Keesokan paginya Riyanti terbangun dari tidurnya. Riyanti langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Riyanti langsung berlalu ke dapur. Ia berniat untuk membuatkan sarapan. Tetapi ketika dirinya berada di dapur, Bibi Amina sudah selesai memasak sarapan pagi untuk mereka, dan sudah menghidangkannya di atas meja makan.
"loh Bibi sudah siap masak? kok tumben cepat banget bi?"
"Iya non!" tadi malam Tuan meminta Bibi agar lebih cepat memasak sarapan pagi, Soalnya tuan takut nyonya kecapean."ucap Bibi kepada Riyanti.
"Oh ya sudah tidak apa-apa bi, Mungkin Tuan tidak suka masakan saya."
"Bukan begitu Non!" Tuan hanya ingin non istirahat dan tidak terlalu kecapekan."
Riyanti langsung duduk di atas kursi yang ada di meja makan. Ia pun berniat untuk sarapan pagi tetapi, sekilas ia mengingat suaminya belum terbangun dari tidurnya.
"Bi bisa minta tolong tidak?"
"Minta tolong apa Non?"
"Tolong bangunkan suami saya takutnya nanti suami saya telat kerja!"
"Kenapa tidak non saja yang membangunkan? kan kurang enak juga kalau Bibi yang membangunkan non?"
"Tidak apa-apa bi!" bangunkan saja."ujar Riyanti kepada Bibi Amina agar Bibi Amina segera membangunkan Janpilan dari tidurnya.
Asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Janpilan dan Riyanti pun berlalu menuju kamar mereka. Ia berniat untuk membangunkan Janpilan. Tetapi ketika Bibi berniat mengetuk pintu Janpilan sudah keluar dari kamar.
"lah Tuan sudah bangun?'
"Iya Bi!" ada apa ya?"
"Tadi non Riyanti minta Bibi untuk bangunin Tuan."
"Memangnya istri saya di mana Bi?
"Ada Tuan!" di ruang makan sedang menunggu Tuan.
"Oh ya sudah bi!" saya langsung turun."ucap Janpilan kepada asisten rumah tangganya yang sudah lama menemaninya di rumah pribadinya.
Janpilan sudah melihat Riyanti berada di duduk di kursi meja makan. Ia pun mengembangkan senyumnya ketika Riyanti sedang menyantap sarapan paginya.
"Sayang kok tidak nunggu mas?"
"Tadi Mas masih tidur!"
"Ke kampus tidak hari ini?"
"Tidak!" mau menyelesaikan skripsi di rumah saja."
"Ikut ke kantor ya bareng mas di sana saja ngerjain skripsinya."
"Tidak!" Nanti ngak konsentrasi."
"Oh ya sudah tidak apa-apa jadi kamu hanya di rumah saja nih?
"Iya malas keluar!"
__ADS_1
Tiba-tiba suara dering ponsel jadul Riyanti terdengar jelas di telinga seisi penghuni ruang makan. Riyanti langsung meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan. Riyanti melihat di layar ponselnya yang menghubungi dirinya nomor ponsel adiknya Riko.
cepat-cepat Riyanti langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Riko.
Riyanti bangkit dari tempat duduknya dan beralih ke dapur untuk berbicara kepada Riko
"Hallo assalamualaikum dek." sapa Riyanti di dalam sambungan telepon selulernya
"Waalaikumsalam Kak."sahut Riko dari seberang
"Bagaimana kabar kakak apa Kakak baik-baik saja?"
"Alhamdulillah kakak baik-baik saja dek!'Ada apa Kok tumben pagi-pagi menghubungi kakak?"
"Begini kak!" Ibu sedang sakit dan ibu harus dibawa ke rumah sakit karena tadi malam pihak Puskesmas meminta kami untuk membawa ibu ke rumah sakit.
Jantung Riyanti Serasa copot ketika mendengar ibu Anjani sakit.
"Memangnya sakit apa Ibu dek?
"Tidak tahu Kak tapi badan Ibu panas sekali tapi Ibu merasa kedinginan dan menggigil."
"Ya sudah langsung bawa saja ke rumah sakit." ujar Riyanti kepada Riko agar Riko segera membawa Ibu Anjani ke rumah sakit.
"Tapi kami tidak memiliki uang Kak!" karena hasil panen Ibu kemarin udah kami buat untuk membayar listrik bulanan.
"Ya sudah tidak perlu kalian pikirkan biar kakak yang memikirkan biayanya nanti, yang penting sekarang kalian bawa dulu Ibu ke rumah sakit."ucap Riyanti kepada Riko dan Naira yang sudah menangis melihat ibu Anjani sedang sakit.
"secepatnya Kakak akan mengirimnya kalian tenang saja."ucap Riyanti kepada Riko dan juga Naira agar Riko dan Naira tidak mengkhawatirkan mengenai biaya pengobatan Ibu Anjani.
Setelah selesai berbicara dengan Riko, Riyanti pun memutuskan sambungan telepon selulernya. Maya Riyanti sudah berkunang-kunang. Ingin rasanya dirinya menjerit mendengar Ibu Anjani sedang sakit dan perlu perawatan di rumah sakit.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan tidak mungkin aku meminta uang kepada mas Janpilan. Kami baru saja menikah sudah menyusahkan suamiku. Apa tanggapan Mas janpilan nanti, jika aku meminta uang kepadanya untuk kuberikan kepada orang tuaku?" gumam Riyanti sambil terisak. Tanpa Riyanti sadari Bibi mendengar gumaman nya.
"Ada apa nona Kenapa nona tiba-tiba menangis ketika mendapat telepon?
Riyanti langsung memeluk asisten rumah tangganya.
"Ada apa non?" Kalau ada masalah coba cerita sama Bibi Siapa tahu Bibi bisa bantu!"ucap asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Janpilan.
"Tapi tolong jangan kasih tahu sama Mas Janpilan ya Bi."
"Iya!" Memangnya ada apa?"
"Saya membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Ibu saya di kampung, sekarang Ibu saya berada di rumah sakit."ucap Riyanti sembari terisak
"Ya Allah non kan bisa minta kepada Tuan!"
"Saya tidak enak hati bi, Baru saja saya menikah dengannya sudah menyusahkan suami saya." ucap Riyanti
"Itu kan sudah kewajiban Tuan untuk membantu non."
"Kewajiban Tuan hanya untuk menafkahi saya bi, bukan dengan keluarga saya."ucap Riyanti kepada Bibi Amina.
__ADS_1
"Memangnya non butuh uang berapa?"
"Dua juta rupiah BI."
"Ya Allah non, kalau segitu bibi tidak punya. Bibi adanya hanya satu juta ini non. Non pakai dulu tidak apa apa." ucap Bi Amina sebelum memberikan uang sebesar satu juta rupiah yang ada di sakunya.
"Tapi bi, bibi juga pasti membutuhkannya."
"Tidak non, bibi belum memerlukannya untuk saat ini, lebih baik non pakai dulu, nanti kalau bibi sudah perlu, baru bibi minta." ucap bi Amina.
"Trimakasih banyak ya bi!" nanti pasti akan saya ganti." ucap Riyanti kepada Bi Aminah.
"Sudah non tidak perlu dipikirkan." ucap bibi Aminah kepada Riyanti sembari mengebangkan senyumnya.
"Alhamdulillah sudah ada satu juta, satu juta lagi aku harus cari kemana ya?" gumam Riyanti dalam hati. Ia meraih ponselnya dan mencari nomor ponselnya milik Linda disana.
Kring
Kring
Kring
Satu kali dua kali Riyanti Menghubungi nomor ponsel Linda, tapi Linda tak kunjung mengangkat ponselnya. Hingga Riyanti memutuskan untuk mengirim pesan whatsapp kepada Linda.
Riyanti : Lin kita bisa ketemuan tidak?
Riyanti mengirimkan pesan Whatsapp kepada Linda tetapi masih centeng dua abu abu pertanda pesannya terkirim tetapi belum dibaca oleh Linda.
Karna belum mendapat balasan dari Linda, Riyanti memutuskan untuk kembali ke ruang makan menghampiri Janpilan setelah dirinya memastikan tidak ada lagi genangan airmata di mata Riyanti.
"Siapa yang menghubungi kami sayang?"
"Riko!"
"Ngomong apa?"
"Tidak apa apa hanya nanya kabar saja." ucap Riyanti.
Janpilan memperhatikan mata Riyanti yang masih memerah.
"Sayang kamu habis nangis?"
"Tidak!"
"Tuh mata kamu memerah gitu?"
"Tadi hanya kelilipan." ucap Riyanti berbohong.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏 mampir juga ke karya baru emak" MAMA MUDA "
__ADS_1