
Satu bulan kemudian usia kandungan Riyanti sudah menginjak tiga bulan, tetapi rasa mual dan muntah yang begitu dahsyat masih dialami oleh Riyanti. lain halnya dengan Felisha yang usai kandungannya menginjak empat bulan sudah tidak merasakan mual dan muntah. Tetapi selera makanya yang bertambah membuat Heryanto sedikit heran dengan porsi makanan Felisha.
Sementara acara wisuda sudah tinggal menunggu hari.Padahal kondisi kesehatan Riyanti menurun akibat Riyanti tidak nafsu makan. Apalagi setiap Riyanti memakan sesuatu, Riyanti terus memuntahkannya. membuat berat badan Riyanti semakin menurun. Hal itu membuat janpilan semakin kwatir dengan kondisi istrinya. Janpilan membawa Riyanti ke rumah sakit untuk sekedar memeriksa apa yang terjadi kepada istrinya sehingga istrinya terus mual dan muntah setiap memakan sesuatu.
Ketika dokter sudah memeriksa kondisi Riyanti dokter pun menggelengkan kepalanya.
"Apa yang terjadi dokter sehingga istri saya terus tidak nafsu makan dan juga mual dan muntah muntah?" tanya Janpilan
"Itu biasa dialami oleh ibu yang hamil muda, tetapi jika ini berlanjut terus maka mau tidak mau Ibu Riyanti harus kita rawat di sini agar diberikan cairan asupan gizi ke tubuh ibu Riyanti agar asupan gizi untuk janinnya juga tercukupi.
"Apa tidak ada obat penghilang rasa mual?" dokter tanya Janpilan kepada dokter itu?
"Nanti saya akan berikan resepnya Dan tolong dimakan secara rutin agar rasa mual dan muntah Riyanti berkurang.
Setelah selesai memeriksa Riyanti dokter itu memberikan resep kepada Janpilan.
"Kalau begitu kami permisi dulu dokter ucap Janpilan kepada dokter kandungan itu.
"Silakan Pak!" tapi jangan lupa memeriksa kandungannya di setiap bulannya agar kita dapat memantau perkembangan janin yang ada di rahim istri anda." imbuh dokter kandungan yang memeriksa kondisi Riyanti.
"Baik dokter!" sahut Janpilan.
kemudian Riyanti dan Janpilan pun berlalu dari ruang dokter kandungan itu dan berniat kembali ke rumah. Setelah Janpilan menebus resep yang sudah diberikan oleh dokter kandungan itu kepada Janpilan, mereka pun berniat pulang.
"Sayang apa kamu merasa sudah lebih baik? tanya Janpilan kepada Riyanti. Karena dirinya sangat mengkawatirkan istrinya
"Alhamdulillah sudah lebih baik Mas.
"Syukurlah kalau begitu. Mas berharap kamu menjaga anak kita sayang.
"Riyanti janji akan selalu menjaga anak kita Mas.
"Terima kasih sayang karena Mas kamu sudah menderita seperti ini.
__ADS_1
"Kok menderita sih? Riyanti sangat bahagia menjalani ini dan Riyanti juga bersyukur karena Allah mempercayai Riyanti untuk mengandung seorang anak di rahim Riyanti.
Janpilan menatap istrinya dengan tatapan mendalam. Sejujurnya ia tidak tega melihat kondisi istrinya yang sangat pucat dan lemas. Karena setiap hari Istrinya selalu mengalami mual dan muntah apalagi saat di pagi hari.
"Mudah-mudahan Dengan meminum resep dari dokter itu kamu tidak muntah-muntah lagi ya sayang."harap Janpilan
"Iya Mas!" Riyanti juga pengennya seperti itu.
"Tapi ngomong-ngomong mas gimana dengan rencana acara wisuda di kampus kita?
"Kamu tenang saja sayang......itu sudah ada yang ngatur mudah-mudahan kamu bisa mengikuti acara wisuda itu. Apalagi kan kamu juga ikut di dalamnya yang sebentar lagi kamu akan mendapatkan gelar sarjana tehnik." ucap Janpilan sambil mengembangkan senyumnya kepada Riyanti.
Ada kebanggaan tersendiri di dalam hati dan pikiran Janpilan melihat perjuangan istrinya sampai mendapatkan gelar sarjana itu. Apalagi Janpilan melihat Riyanti dengan kesederhanaannya. Tiba-tiba Janpilan teringat di masa lalu saat jam mata kuliah yang diajarkan Janpilan berlangsung Riyanti kentut sembarangan.
Hal itulah yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Ancaman yang diberikan oleh Janpilan kepada Riyanti membuat hubungan keduanya menjadi tidak bisa terpisahkan. awalnya hanya kontrak kerja sama menjadi pacar pura-pura dari sang dosen killer, karena sang dosen tidak ingin dijodohkan oleh kedua orang tuanya kepada wanita pilihan tante Mira.
Mendengar pertanyaan dari suaminya Riyanti langsung tertawa ngakak sampai mata rianti berair. Mendengar tawa lepas dari istrinya sang dosen killer sangat bahagia iya sudah lama tidak melihat Riyanti tertawa lepas.
"Iya itu terjadi karena kamu main nyosor aja mencium mas saat itu. ucap Janpilan kepada Riyanti membuat Riyanti tertunduk malu mengingat hal itu.
"Sudah tidak perlu malu, kan Mas sekarang sudah menjadi suami kamu dan kamu menjadi istriku? itu hari-hari kita lalui yang sangat membahagiakan menurut Mas ucap Janpilan kepada Riyanti sambil membelai rambut panjang Riyanti yang tergerai.
Setelah berada di dalam mobil Janpilan langsung melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah pribadi mereka.
"Tidak terasa usia pernikahan kita sudah 5 bulan ya Mas!"
"Iya Sayang sebentar lagi kita juga akan memiliki anak hidup mas lebih berarti setelah hadirnya kamu di kehidupan mas." sepanjang perjalanan pasangan suami istri itu mengingat mengingat masa lalu mereka yang sudah mereka lalui bersama. Tawa dan canda mereka hari itu membuat hati Riyanti sangat bahagia.
Tiba-tiba suara dering ponsel milik Riyanti terdengar jelas di telinga mereka. Janpilan yang melihat ponsel jadul Riyanti terlihat Riko yang memanggil.
Janpilan meminta Riyanti untuk speaker ponselnya agar dirinya dapat Mendengar pembicaraan antara Riko dan juga Riyanti.
"Halo assalamualaikum Kak?"
__ADS_1
"Waalaikumsalam dek Apa kabarnya?
"Alhamdulillah mbak kabar Kami di kampung baik!"
"Ada apa dek kamu menghubungi kakak?"
"Riko ingin memberitahu kalau Riko lulus ujian STAN.
"Serius kamu dek?"
"Iya Kak Riko Serius!" ini rencananya Riko ingin berangkat ke Jakarta. Tapi Riko sedikit khawatir kepada ibu dan juga Naira. mereka akan tinggal berdua di kampung. hal itu yang mengganjal di hati Riko ucap Riko kepada kakaknya Riyanti.
"Terus kata ibu bagaimana dek?
"Maunya Ibu, Riko tetap melanjutkan sekolah Riko di STAN. Tapi Riko tidak tega meninggalkan mereka berdua di kampung Kak.
"Ya sudah kalau masalah itu nanti kakak yang akan pikirkan Yang penting kamu harus tetap kuliah di STAN sesuai dengan cita-citamu." ucap Riyanti kepada Riko yang merupakan adik kandungnya.
Janpilan yang mendengar percakapan adik dan kakak itu pun mengembangkan senyumnya. Ia pun langsung berpikir untuk mengajak Bu Anjani dan juga Naira tinggal bersama mereka di kota Jakarta. Tetapi untuk membujuk Bu Anjani untuk tinggal di Jakarta itu tidak mudah baginya. Jarena Bu Anjani tidak pernah ingin membebani anak-anaknya.
Tiba-tiba Janpilan menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota Jakarta.
"Mas kita ngapain ke sini?" tanya Riyanti kepada Janpilan
"Yuk kita makan dulu! ajak Janpilan kepada istrinya
"Tapi mas Riyanti belum lapar mas !
"Tidak apa-apa makan sedikit aja agar asupan Gizi untuk anak kita yang di dalam sini terpenuhi." ucap Janpilan sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.
bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1