
Pak Janpilan yang melihat interaksi antara Rian dan Riyanti di kantin, tampak kesal melihat kedekatan Rian dengan Riyanti.
"Ada hubungan apa mereka?"
"Kok sepertinya mesra sekali?"
"Ada apa dengan diriku Mengapa aku setiap melihat dia dengan pria lain rasanya sakit?"
pertanyaan demi pertanyaan pun timbul di benak pak Janpilan. Karena ia merasa setiap Riyanti berdekatan dengan pria lain. Hatinya terasa sakit.
"Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta kepadanya?" pertanyaan itu timbul kembali dibenak Janpilan. Hingga ia merasa tidak tahan sehingga ia menghampiri Rianty, Linda,dan Rian yang sedang menikmati pesanan makanan mereka.
"Bisa gabung ngak?"
Riyanti yang mendengar suara pak Janpilan pun langsung mendongakkan kepalanya.
"Oh silakan Pak." ucap Linda sambil langsung membenahi kursi untuk pak Janpilan
"Sepertinya enak tuh!" ucap pak Janpilan sambil menyambar makanan yang disantap oleh Riyanti.
"loh ini kan makananku Pak? kok bapak ambil sih, kalau mau kan bisa dipesan lagi pak?"
"Ngak!" tapi sepertinya ini enak." Ucap pak janpilan dan langsung memakan makanan milik Riyanti. Hal itu membuat Rian tidak berkutik. Bahkan Ia langsung diam melihat interaksi antara pak Janpilan dan Riyanti.
"So sweet banget sih." ucap Linda sambil tersenyum melihat pak Janpilan yang menikmati makanan milik Riyanti padahal makanan itu sudah bekas makan Riyanti
"Pak!" Bapak tidak jijik makan bekas saya?"
"Enak kok!" jawab Pak Janpilan santai
"Bapak makan satu mulut dengan Riyanti."jahil Linda
"Ngak apa apa yang penting enak!"
melihat sang dosen killer yang berada di sana Rian pun undur diri dan berpamitan kepada Riyanti agar ia lebih dulu masuk ke kelas untuk menghindari pak Janpilan apa lagi sebentar lagi mata kuliah yang diajarkan Pak Janpilan akan masuk kelas Rian.
"Aku duluan ya Rin!"
"Loh kok duluan?"
"Iya sebentar lagi ada kelas!"
"Ya sudah kita bareng saja!" ucap Riyanti sambil beranjak dari tempat duduknya. Tetapi sebelum Riyanti pergi, pak Janpilan sudah menahan Riyanti.
"Kontrak kerja sama kita belum berakhir, atau kamu akan mendapatkan nilai E dan sampai kapan pun tidak akan bisa diperbaiki? ucap pak Janpilan berbisik tepat ditelinga Riyanti. Hal itu membuat Riyanti bergidik ngeri.
"Tapi pak!"
"Tidak ada tapi tapian, kamu mau dapat nilai E atau menurut?"
"Bapak mengancam saya?"
"Saya tidak mengancam kamu." yang pasti kamu pasti ingat sudah menandatangani surat kerja sama antara kita."
Riyanti hanya diam dan memilih untuk duduk kembali di tempat duduknya.
Linda yang melihat Riyanti menurut saja kepada pak Janpilan, sedikit heran
tiba tiba gas yang diperut Riyanti ingin sekali keluar.
__ADS_1
Puuuut"
suara kentut Riyanti terdengar jelas ditelinga pak Janpilan dan Linda.
Riyanti tertunduk malu melihat pak Janpilan.
"Sudah tidak perlu malu, saya sudah biasa." ucap pak Janpilan
"Kamu kalau kentut lihat tempat kenapa Rin?"
gerutu Linda karna merasa gas yang keluar dari perut Riyanti, bau menyengat.
"Kan kamu sudah biasa Lin!" ucap pak Janpilan
"Biasa sih biasa pak tapi baunya itu loh." gerutu Linda.
Riyanti semakin menunduk malu, apalagi di kantin ada Rossi yang baru tiba di kanti. Ia takut mulut ember Rossi menyebar luaskan apa yang ia lihat ke sejagad universitas yang membuat Riyanti menjadi tidak memiliki muka di universitas Gunadarma.
Pak Janpilan langsung menarik tangan Riyanti dan bangkit dari tempat duduknya.
"Ikut saya keruangan Saya."
"Ngapain pak?"
"Ikut saja!" tidak perlu banyak tanya. kata pak Janpilan sambil langsung menarik tangan Riyanti.
"Saya ikut juga pak?"
"Tidak!" kamu kembali ke kelas mu,atau kamu mau dapat nilai E?"
"Ngak pak" ucap Linda dan langsung berlari meninggalkan Riyanti dan pak Janpilan.
Diruang pak Janpilan
"Bapak apa apasih! kok narik narik tangan saya?"
"Kamu yang apa apa Riyanti!"
"Maksud bapak?"
"Kamu tidak pernah perduli dengan perasaan saya."
"Perasaan ?" maksudnya apasih?"
"Apa maksud mu bermesraan dihadapan saya dengan Rian?"
"Hah!" memangnya siapa yang bermesraan?"
"Kamu siapa lagi?"
"Ngak ada tuh!"
"Tolong kamu jujur sama saya!" ada hubungan apa kamu dengan Rian mahasiswa tehnik elektro itu?"
"Tidak ada!" hanya teman doang."
"Tidak mungkin, buktinya kalian bermesraan di kantin tanpa perduli perasaan saya."
"Perasaan gimana maksudnya pak?
__ADS_1
"Iya apa kamu belum sadar Riyanti, saya sangat cinta sama kamu. Tapi kau tidak pernah perduli terhadap perasaan saya" ucap pak Janpilan penuh harap.
"Apa? cinta?"
"Bapak ngak salah?" bukanya kita sekedar kerja sama menjadi pacar pura pura bapak?"
"Iya!" awalnya seperti itu tapi seiring berjalannya waktu, entah mengapa dihati ini ada kamu Riyanti." ucap pak Janpilan
"Tapi pak!"
"Aku tidak perlu kata tapi, yang pasti aku sangat mencintaimu tanpa perduli siapa kamu dan apa kebiasaan buruk mu." ucap pak Janpilan
Riyanti hanya diam tak mampu tau harus berkata apa.
"Maafkan saya pak!" saya belum pernah kepikiran sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, karna saya hanya ingin kuliah alih alih bisa berhasil kelak dan bisa membantunya ekonomi keluarga saya." ucap Riyanti kepada pak janpilan.
"Apakah karna saya tidak modis seperti Rian?
"Tidak sama sekali pak."
"Terus mengapa kamu tidak memilik perasaan apapun terhadap saya Riyanti."
"Bukan begitu pak!" saya hanya sadar siapa diri saya.
"Maksud kamu?"
"Saya tidak ingin Bapak tidak menurut kepada orang tua bapak karena saya.
"Mengapa kamu mengatakan seperti itu?"
"Saya tau pak!" orangtua bapak tidak setuju kalau bapak berteman dengan saya."
"Karna mereka belum mendalami kamu Rin."
"Sudah lah pak tidak usah diperpanjang, saya tidak mau ribet. Saya hanya ingin hidup tenang dan dan bisa kuliah agar aku kelak bisa berhasil." ucap Riyanti
"Terus kamu tidak mikirin perasaan saya?"
Riyanti hanya diam. Tidak bisa berkata kata
Hening ....tidak ada suara diruang pak Janpilan padahal Jan mata kuliah pak Janpilan akan dimulai di kelas tehnik elektro.
"Maaf pak!" sebaiknya lain kali saja kita bicarakan, karna saya ada mata kuliah, tidak enak saya harus telat gara gara masalah yang penting seperti ini." ucap Riyanti.
"Ya sudah kalau menurut kamu ini SMA sekali tidak penting, kamu bisa keluar dan kembali ke kelasku." ucap pak Janpilan.
Riyanti berlalu dari ruang pak Janpilan menuju ruang kelasnya.
sepeninggalan Riyanti , Janpilan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada diruangannya. Janpilan tidak bersemangat untuk mengajar di kelas tehnik elektro, sehingga pak Janpilan menghubungi salah satu mahasiswa yang ada di teknik elektro memberitahu, kalau pak Janpilan hari itu tidak mengajar dan diganti dilain waktu.
Kenapa dia tega seperti itu sama saya?"
apa saya tidak layak dicintai?"
"Apa karna penampilan saya?" pertanyaan demi pertanyaan timbul dibenak pak Janpilan.
Bersambung.........
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1