Jatuh Cinta Karna Kentut

Jatuh Cinta Karna Kentut
SISI ROMANTIS JANPILAN


__ADS_3

Sore itu hari yang begitu menggairahkan untuk Riyanti dan juga Janpilan. Sampai mereka lupa waktu, jika hari sudah malam karena setelah bercumbu mesra, mereka Langsung tertidur. Entah karena faktor kecapekan, sehingga Riyanti dan janpilan tertidur pulas. Tiba-tiba suara deringan ponsel millik Janpilan berdering. Membuat tidur Janpilan dan Riyanti terusik.


"Siapa sih yang ganggu tidak tahu apa orang sudah tidur?" umpat Janpilan.


Janpilan melihat di layar ponselnya yang menghubungi dirinya adalah salah satu asisten yang bekerja di Samera Group.


"Ada apa Kok kamu mengganggu istirahat ku? gerutu Janpilan di dalam sambungan telepon selulernya.


"Maaf Pak, Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada bapak!"


"Apa itu katakan Saya tidak banyak waktu saya ingin istirahat." hardik Janpilan kepada asistennya.


"Saya ingin meminta izin kepada bapak, bahwa besok saya tidak bisa masuk kantor, karena saya harus pulang ke kampung melihat ibu saya yang sedang sakit. ucap Dimas sambil terisak.


Mendengar apa yang katakan sang asisten Janpilan langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia pun merasa tidak tega mendengar apa yang dikatakan oleh sang asisten.


"Kamu kapan mau pulang?


"Malam ini juga Pak!" karena Ibu saya malam ini harus dioperasi di kampung.


"Memangnya ibu kamu sakit apa?


"kurang tahu pak tapi adik saya yang menghubungi saya kalau ibu harus segera dioperasi malam ini.


"Ya sudah kamu berangkat saja sekarang, bila perlu kamu gunakan mobil kantor agar kamu lebih cepat sampai di sana.ujar Janpilan


"Terima kasih Pak atas pengertiannya ucap Dimas kepada Janpilan.


"Oh iya sampaikan salam saya kepada ibumu mudah-mudahan ibu kamu cepat sembuh."


"Iya Pak Terima kasih, sudah sangat pengertian kepada saya. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak selama ini kepada saya.


"Sudah itu tidak perlu kamu kuatirkan Jika perlu sesuatu kamu hubungi saya." ujar Janpilan


"Baik Pak!" ucap Dimas kepada Janpilan

__ADS_1


"Kalau begitu saya tutup dulu teleponnya ya pak soalnya saya ingin segera berangkat ke kampung."


"Ya sudah hati-hati di jalan!" imbuh Janpilan kepada Dimas.


Setelah selesai berbicara kepada Dimas, Janpilan kembali menghampiri Riyanti yang masih tertidur di tempat tidur. Tiba-tiba cacing di perut Janpilan sudah pada demo minta jatah untuk diisi. Mengingat malam itu mereka sama sekali belum makan karena mereka melewatkan makan malam karena tertidur mulai sore.


"Sudah jam berapa sih ini kok perutku sudah keroncongan? gumam Janpilan dalam hati


Ia melihat jam yang ada di ponselnya. Alangkah terkejutnya Janpilan melihat Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam Padahal mereka masuk ke kamar pukul tiga sore hingga pukul sembilan malam.


Mereka menghabiskan waktu bersama dengan Riyanti.


"Istri cantik ku juga pasti sudah lapar nih." gumam Janpilan dalam hati sambil mengamati wajah cantik Riyanti yang lagi tertidur. Ia sebenarnya ingin membangunkan Riyanti. Tetapi Janpilan merasa tidak tega mengganggu tidur ibu hamil muda itu.


"Kasihan dia belum makan malam sudah tidur karena ulahku. gumam Janpilan. Janpilan berlalu dari kamar menuju ruang makan berniat untuk mencari makanan yang bisa ia santap. Karena cacing-cacing di perut nya tidak bisa diajak kompromi. Dengan terpaksa Janpilan pun harus turun ke bawah.


"Aduh ini perut tidak bisa diajak kompromi!"umpat Janpilan sembari berjalan Turun ke bawah menuju ruang makan.janpilan pun melihat tujung saji yang ada di meja makan terlihat makanan yang sudah dimasak oleh Bi Amina masih utuh.


"Ya Allah ternyata Bibi Amina sudah masak makan malam buat kami tapi kami melewatkannya."


"Janpilan langsung mengambil makanan itu untuk dipanaskan ke dalam wajan.


Tanpa Janpilan sadari Riyanti sudah turun ke bawah. Karena setelah terbangun dari tidurnya ia tidak melihat sosok suaminya di kamar sehingga Riyanti memutuskan untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Yang ternyata Janpilan berada di dapur untuk memanaskan makan malam mereka.


"Riyanti hanya tersenyum melihat suaminya yang tampak sibuk memanaskan makanan yang sudah dimasak oleh Bi Amina ia sengaja membiarkan suaminya melakukan itu sambil terkekeh Riyanti menutup mulut dengan telapak tangannya dan menikmati pemandangan itu.


Karena merasa tidak tahan lagi, Riyanti langsung memeluk Janpilan dari belakang.


"Mas kok ninggalin Riyanti sendirian?" ucap Riyanti dengan manja.


"Janpilan membalikkan tubuhnya agar dirinya dapat melihat istrinya lebih leluasa.


"Sayang kamu sudah bangun?"


"Sudah Mas tapi perut Riyanti keroncongan."

__ADS_1


"Ya sudah sebentar ya Mas panas kan dulu makanannya Soalnya Bibi sudah tidur. Tidak enak harus membangunkannya hanya untuk memanaskan makanan ini." ucap Janpilan kepada istrinya.


Janpilan melakukan itu agar Riyanti dan juga Janpilan dapat menikmati makan malam.


"loh Den udah bangun toh?" biar bibir saja yang melakukannya den!" ucap di Amina kepada Janpilan.


"Sudah Bi!" tidak apa-apa biar Janpilan saja, Bibi Lebih Baik istirahat besok kan harus bekerja lagi." ucap Janpilan sambil mengembangkan senyumnya kearah bi Amina.


Jiwa ramah dan kebaikan Janpilan lah yang membuat Bi Amina betah bekerja di kediaman Janpilan. Apa lagi Bu Amina sejak bekerja di rumah utama Om Andruw merawat Janpilan sejak kecil.


"Sudah deh biar bibi saja!"


"Tidak usah bi!" Biarkan saya melakukannya untuk istri saya. Hitung-hitung amal untuk istri dan calon anak saya yang ada di rahim istri saya ucap Janpilan sembari mengembangkan senyumnya ke arah Riyanti


"Subhanallah beruntung sekali Riyanti memiliki suami baik seperti Aden.


"Iya Bi!" Riyanti sangat bersyukur dan beruntung memiliki suami seperti mas Janpilan. mas Janpilan memperlakukanku dengan baik dan istimewa. Hal itulah yang membuat Riyanti semakin cinta dan sayang kepada Mas Janpilan." ucap Riyanti sembari langsung memeluk suaminya tanpa ada sedikit rasa canggung di depan Bu Amina.


"Ya sudah kalau begitu Bibi istirahat dulu ya den..... Neng..... ucap Bi Amina sambil berlalu dari hadapan Janpilan dan Riyanti.


Riyanti yang melihat suaminya dengan telaten melayaninya, mengembangkan senyumnya. "Mas seharusnya Riyanti yang melayani Mas bukan mas yang melayani Riyanti.


"Tidak apa-apa sayang!" kamu itu Ratu ku Kami sedang mengandung keturunanku, sudah sewajarnya kamu aku perlakukan dengan baik.


mas tidak ingin kamu kelelahan. Kalau kamu membutuhkan sesuatu katakan sama Mas jangan pernah kamu merasa tidak enak hati Mas ini suami kamu. ucap Janpilan.


"Iya mas terima kasih atas segala apa yang sudah mas lakukan kepada Riyanti. Riyanti tidak salah memilah mas menjadi suami aku. Aku juga yakin kalau anak-anak kita kelak bahagia memiliki seorang ayah seperti Mas.


"Mas juga yakin sayang kalau anak-anak kita kelak akan bahagia memiliki Ibu seperti kamu yang cantik dan juga Soleha.


"Ya sudah kita makan yuk makanannya sudah hangat dan Lagian perut mas sudah keroncongan. Sedari tadi cacing-cacing di perut mas sudah pada berdemo." ucap Janpilan dan langsung mengajak istrinya duduk untuk menyantap makanan yang sudah dihangatkan oleh Janpilan.


Bersambung......


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


mampir yuk kekarya baru outhor



__ADS_2