Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Wejangan Mista


__ADS_3

Meisya berjalan cepat setelah memarkirkan motor di depan konter tempat Mista bekerja. Melihat hal itu Mista tahu ada yang enggak baik-baik saja saat ini. Muka Meisya merah padam, mungkin karena efek cuaca atau efek yang lain, Mista belum bisa menebaknya.


"Mis!" Seru Meisya saat mereka sudah saling bertatap muka.


"Assalamualaikum Sya, iya kenapa? Dari jauh aku lihat kamu kayak orang sewotan, belum turun juga gajianmu?"


Meisya menggeleng cepat. Meneguk es sirup yang ada di meja, entah itu kepunyaan siapa. Meisya pikir itu pasti punya Mista. Lumayan dingin, agak ngurangin dahaga yang menyerangnya.


"Enak Sya?" Tanya Mista sambil tersenyum geli.


"Waalaikumsalam, iya enak!"


"Iya enak orang gratis," Mista cekikikan.


"Punyamu kan?" Meisya kembali menyedot sisa es sirup di gelas cup yang dia pikir sayang jika masih disisakan. Meisya ternyata punya hobi bersih-bersih pemirsah.


"Bukan. Kamu nanyanya telat sih, itu tadi punya pembeli yang baru aja pergi dari sini. Mungkin dia lupa bawa esnya." Mista kembali cekikikan melihat ekspresi muka Meisya yang menegang.


"Kamu kok enggak bilang kalau es itu bukan punyamu? Hueex!!" Sambil mengusap kasar bibir dan berusaha memuntahkan kembali apa yang dia minum, Meisya malah terlihat lucu saat ini. Mista tertawa melihat kelakuan Meisya.


"Udah enggak apa-apa. Rejeki itu namanya, udah masuk lambung juga kan? Ucapkan alhamdulilah Sya hahaha" Masih tertawa dengan renyahnya. Mista seakan lupa dengan pertanyaannya di awal kemunculan Meisya.

__ADS_1


Apes banget sih Meisya hari ini, niatnya datengin Mista itu untuk mencurahkan apa yang dia rasa. Uneg-uneg yang masih nyengkal kek palang air membuat dirinya segera meninggalkan pabrik dan menuju ke sini. Tapi, di sinipun dia juga ketiban apes. Kan maen pemirsah.. entah apa salah dan dosanya sayang,, sampai kesialan selalu datang,, lihat jurus yang kan Meisya berikan,, batako terbang.. batako terbang.. ihiier! Tolong di skip. Serius itu enggak penting. Jangan baca sambil nyanyi juga. Itu lebih unfaedah.


Tibalah saatnya Meisya bercerita, dari A sampai balik ke A lagi. Sesekali Mista manggut-manggut, entah dia ngerti atau ngantuk. Hanya dirinya saja yang tahu. Terkadang terlihat Meisya mempraktekan cara Indah bicara versi dia dengan ditambah bumbu lebay tentunya. Membuat dia terlihat seperti pelawak, Mista lebih memilih untuk ber 'oooo' aja dulu. Dia ambil jalur aman.


Setelah sampai di titik akhir cerita, Meisya menggebrak meja konter. Membuat Mista kaget sekaligus takut. Takut kalo kaca etalase tempat dia kerja pecah karena kelakuan bar-bar Meisya. Aje gile ini orang udah kek Hulk aja, main brak brak aja!


"Heh.. emosi ya emosi Sya, tapi enggak gitu juga. Kalau kaca ini pecah, kamu mau dijadiin meja etalase? aku pajang kamu di sini buat gantiin kaca ini?"


Meisya melengos. Dia kesal kok. Wajar lah mau lampiasin kekesalannya pada apa saja, termasuk meja kaca di depannya. Itu pikir dia lho ya. Yang nulis enggak ikut andil dalam cara pikir Meisya itu.


"Jadi kamu masih belum bisa buka mata kamu, meski kamu udah lihat sendiri kalau Seno hanya tertarik pada satu cewek aja?" Tukas Mista.


"Enggak tahu lah Mis. Pokoknya aku kesal. Aku marah. Aku bete banget. Apalagi lihat tuh cewek sok banget. Kamu tahu Mis.. baru datang pertama kali di sana aja, itu cewek udah banyak musuh. Hahahaha, aku yakin dia enggak bakal betah kerja di tempatku!" Cara tertawa khas lampir. Cuba tirukan.


"Hiiiiih ya salah dia banyak Mis! Kamu ini dari tadi denger aku ngomong enggak sih? Kamu ini bikin aku makin kesel tahu enggak? Dia salah karena udah pacaran sama mas Seno. Dia salah karena pamer kemesraan di depan umum. Dia salah karena sengaja ngelamar kerja di pabrik yang sama tempat mas Seno kerja. Dia salah karena kecentilan. Cara dia jalan, cara dia senyum, tertawa, cara melihat mas Seno, cara dia manggil mas Seno, semua itu salah! Salah! Salah dia banyak!"


Meisya sampai mengerucutkan bibirnya.


"Oke. Dia salah. Lalu siapa yang benar?" Tanya Mista kemudian.


"Aku! Aku yang benar! Cuma aku! Harusnya semua perhatian itu, senyum itu, genggaman tangan itu, semua itu hanya untuk aku! Biar semua mata karyawan pabrik yang kerja di sana menatap iri sama aku! Bukannya dia!"

__ADS_1


Mista tersenyum.


"Dan saat itu terjadi, akan ada new Meisya lain yang juga memandang apa yang kamu lakuin salah. Sama seperti yang kamu omongin barusan. Sya.. kesalahan bukan di pacarnya Seno, bukan di Seno, atau hubungan mereka. Tapi, ada di hati kamu sendiri. Kamu iri, kamu jealous, kamu ingin dimengerti tanpa mau mengerti. Kalau kamu kayak gini terus, sampai akhir jaman enggak bakal kamu temuin kebahagiaan. Silahkan kamu ikut teman-temanmu yang ghibah pacarnya Seno, mungkin juga ikut bully dia , tapi apa itu akan mengubah perasaan Seno jadi care ke kamu? Jawabannya enggak! Yang ada Seno malah makin ilfeel sama kamu."


Mista menghentikan ucapannya. Dia memberikan waktu untuk Meisya berpikir apa yang dia ucapkan barusan. Semoga aja hati mungil Meisya tergerak untuk enggak ikut menggila seperti teman-temannya di pabrik yang menganggap Indah adalah musuh yang musti dijauhi.


Ditempat lain..


Beni dan Parto sedang membicarakan rencana membuat bengkel di depan rumah embahnya yang sekarang masih dalam tahap renovasi itu.


Tapi, obrolan itu melenceng ke arah lain. Beni menangkap ada yang enggak beres dengan otak Parto. Sedari tadi dia salah memanggil nama Beni atau mbok Yuni dengan nama Shela.


"Kamu mending raup (cuci muka) sama air rendaman semvakku! Bicaramu ngawur mulu lho, aku ngomong apa kamu nyambungnya apa. Kalo kangen Shela datengin orangnya! Jangan alay di sini." Beni bisa kesal juga ternyata.


"Enggak gitu lah Ben, nama kelian kan emang sering aku panggil.. ya maaf sih! Sampai mana tadi?" Parto mengacak rambutnya berharap konsentrasi datang seperti ilham di otaknya.


"Alah wes oda mood aku lah! Aku ngomong kit mau mok anggep opo?" (Halah udah enggak mood aku lah! Aku ngomong dari tadi kamu anggap apa?)


"Nek ogak mood, ayo golek mut-mutan Ben! Hahahaha" (Kalau enggak mood, ayo cari mut-mutan Ben).


Mendengar jawaban nyeleneh dari Parto membuat Beni makin yakin kalau kewarasan temannya saat ini udah terbabat habis tak bersisa.

__ADS_1


Sebuah telepon mengagetkan Beni, dia merogoh ponsel yang ada di kantong celananya. Tertera nama 'Beib' di sana. Beni menyunggingkan senyum.


"Ayo To, cari mut-mutan!" Ucap Beni sambil berdiri mengambil kunci motor yang dia letakan di meja warung mbok Yuni.


__ADS_2