
"Pake bajumu! Apa yang mau kamu pamerin dengan enggak pakai baju gitu? Apa mau aku ambilin karung semen itu buat kamu pake?" Shela ini, meski udah pacaran sama Parto kok ya enggak bisa dikit aja bersikap manis sama pacarnya itu.
"Mau sumuk (tadi gerah) La.." Karena kondisi lagi enggak memungkinkan untuk bercanda, Seno akhirnya melempar kaos Parto yang tadi sempat dia pakai buat alas duduk.
Shela melihat ke arah Beni,
"Kamu kenal Mela istri Jamal?" Tanya Shela to the point.
Beni mengangguk mengiyakan, Seno dan Parto saling memandang satu sama lain. Ada apa ini? Pikir mereka saat ini.
"Aku tadi telepon Parto berkali-kali mau tanya Beni ini kenal sama Mela enggak, seingatku dulu kelian bertiga kan dateng ke resepsi nikahan Mela."
"Iya kenal, Mela mantanku... sebelum mutusin nikah sama Jamal." Beni seakan diajak mengingat kembali hari bersejarah di mana dia diputuskan secara sepihak oleh Mela,
"Jadi bener apa yang Jamal bilang sama orang-orang tadi di rumah sakit? Kamu ayah dari anak yang Mela barusan tadi lahirin?"
Ucapan Shela membuat Parto, Seno, dan Beni terkejut. Apalagi Beni, dia merasa jadi kambing belang di sini? Belang? bukannya hitam? Ya udah sih... suka-suka yang nulis aja, pokoknya masih satu spesies kambing. Intinya itu.
"Mela udah lahiran? Kok cepet banget. Katanya baru delapan bulan? Dan dini hari tadi, dia tak anterin ke rumah orang tuanya karena enggak sengaja aku lihat dia jalan sendirian di jalan raya enggak pake alas kaki.. itu adalah pertemuanku lagi dengan dia setelah acara resepsi pernikahannya dulu. Kenapa bisa Jamal malah nuduh aku sebagai ayah dari anak yang aku aja enggak ada sangkut pautnya sama sekali dalam proses pembuatannya?"
Masalah ini makin enggak karuan. Melebar kemana-mana. Parto dan Seno merasa kasihan dengan Beni, lingkar matanya menghitam dipastikan dia enggak tidur dari semalam. Dan sekarang dia harus dihadapkan dengan masalah serius. Dia dituduh menghamili istri orang.
"Dia kontraksi tadi pagi, dan melahirkan sebelum waktunya. Anaknya masih dalam pengawasan, di inkubator. Dia terlihat tertekan. Jamal, dia itu sepupuku.. aku sendiri aja malu bisa punya sodara kayak dia! Tadi waktu di rumah sakit, seluruh keluarga ada di sana.. Ayah Mela meminta Jamal untuk mengumandangkan adzan bagi cucunya tapi, Jamal menolak. Dia bilang, 'itu bukan anakku! Itu anaknya Beni, suruh Beni saja!' Terjadi keributan di sana. Jamal lalu pergi tanpa melihat kondisi anak dan istrinya dulu yang udah bertaruh nyawa buat lahirin bayi mereka."
__ADS_1
Shela memandang Beni, ekspresi Beni tak terbaca. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.
"La.. keluarga Mela dan Jamal percaya anak itu bukan anak Jamal?" Tanya Parto sambil mengusap punggung tangan Shela.
"Entahlah To, yang terlihat sangat terpukul dengan penyangkalan Jamal adalah Mela. Ayah Mela meradang, kondisi di sana sangat buruk. Aku tadi segera hubungi kamu karena ingin bertanya, nama Beni yang di sebutkan oleh Jamal tadi benar Beni temenmu apa enggak... eh tahunya emang iya."
"Yang makin bikin Jamal percaya anak itu bukan anaknya karena Mela menamai anaknya dengan nama Bela. Jamal mengira itu adalah singkatan Beni dan Mela," Panjang lebar Shela memberi info kepada ketiga pemuda yang sekarang hanya bisa diam saat dirinya bersuara. Seperti murid yang dengan anteng mendengarkan penjelasan gurunya.
"Lah... Aneh-aneh aja itu Mela, enggak bisa apa ngasih nama Jala aja buat anaknya. Kan bagus itu perpaduan Jamal dan Mela. Jadi biar si Jamal ini enggak mikir yang enggak-enggak tentang Beni. Duh Ben.. nasibmu gini amat, baru juga putus dari cewekmu, udah dikasih masalah berat kayak gini. Kuat ya bro.."
Seno merasa kasihan dengan Beni. Bukan hanya Seno, Parto juga merasa prihatin dengan nasib Beni.
"Aku tak ke rumah sakit, aku enggak mau jadi bahan gunjingan di sana. Aku berani bersumpah bukan aku bapak dari anak Mela. Kalau aku bohong, aku rela enggak selamet nyampe rumah sakit!" Beni berdiri dari tempatnya duduk.
Tangan Parto memegang bahu Beni.
"Terus aku kudu gimana To? Aku diem aja? Biarin Jamal koar-koar kalau aku yang hamili istrinya? To.. kalau hal ini enggak aku selesaiin sekarang, bakal ada masalah baru yang muncul. Apalagi kalau kabar ini terdengar sampai telinga ibu dan mbak ku.. bisa syok mereka."
Shela mengeluarkan ponselnya.
"Kamu enggak usah ke rumah sakit Ben, kita ketemu Jamal aja. Kamu mau? aku temenin kamu?" Tawar Shela.
"Kamu percaya sama aku La?" Tanya Beni.
__ADS_1
Shela mengangguk. Sesaat dia langsung melihat ke arah ponselnya,
"Jamal ada di rumahnya, aku anter kamu ke sana!" Kata Shela dengan sorot mata menunjukan keseriusan.
"Shel... ngapain Beni nemuin Jamal? Jamal aja enggak merubah pemikirannya meski udah lihat perjuangan Mela saat melahirkan anaknya ke dunia. Lha apa gunanya Beni ketemu Jamal?" Tanya Seno sedikit bingung. Bukan sedikit tapi dia emang bingung gaess.
"Gini... aku ngajak Beni ketemu Jamal itu biar mereka selesaiin kegaduhan yang dibuat Jamal. Berani enggak dia ngomong di depan Beni dengan apa yang dia tuduhkan? Seenggaknya harus ada bukti. Kalau Jamal cuma modal gede omong doang, aku bakal dengan senang hati biarin temenmu ini ngacak-acak muka Jamal. Asli aku paling benci sama pria yang enggak bertanggung jawab! Berani nebar benih sebelum waktunya, tapi melimpahkan kesalahan pada orang lain. Enggak guna banget jadi cowok!"
Penjelasan dari Shela membuat Seno paham. Udah ngerti ya Sen sekarang? Jan tanya mulu..!
"Tuh To, kode keras! Shela enggak suka sama cowok enggak tanggung jawab yang nebar benih sebelum waktunya! Bisa dikebiri kamu! Hati-hati sama barang mu satu itu,!"
Dengan keras Parto menginjakan kakinya mendarat di kaki Seno. Alhasil Seno langsung berteriak memprotes apa yang dilakukan Parto.
"Kalau ngomong jangan asal! Aku bukan orang yang tega merusak anak orang, melakukan hal di luar batas." Sanggah Parto.
"La.. aku ikut kelian ya? Aku enggak mau kamu kenapa-napa nanti,"
Berpikir sebentar akhirnya Shela mengangguk menyetujui permintaan Parto untuk ikut bersama ke rumah Jamal.
"Aku.. aku ikut!" Kata Seno mengambil kontak motornya.
"Enggak usah!" Seru Parto dan Shela nyaris bersamaan. Sedangkan Beni hanya diam tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Kamu kabarin Indah, aku pulang mungkin agak maleman. Kasih tahu dia hp ku mati, batrenya abis. Kalau dia tanya aku kemana, bilang lagi ngajak jalan calon kakak iparnya!"
Mendengar perintah Parto membuat Seno langsung mengangguk. Iya lah dia senang, tugasnya gampang cuma nyampein pesan ke Indah kok. Ibarat sambil menyelam bisa pipis, Seno akan manfaatkan kesempatan ini untuk berduaan dengan Indah.