
Ketiganya duduk dengan perasaan masing-masing. Lulu dengan kecemasan hatinya, ibu yang masih bingung ada apa sebenarnya ini, sedangkan Ardiaz dia terlihat keep kalem selalu. Dia sih enjoy aja.. santai kek di pantai.
"Jadi ini, besok keluarga mas Ardiaz mau ke sini? Ini bukan guyonan (candaan) kan nduk, le?" Melihat ke arah Ardiaz yang tampak tenang.
"Ya bu.. aku bersungguh-sungguh dengan dengan apapun yang aku ucapkan tadi." Kata Ardiaz.
Ibu melihat ke arah anak perempuannya,
"Kamu kok enggak pernah cerita kalau sudah punya calon suami to Lu,"
"Lha mau cerita gimana bu, aku aja enggak yakin sama dia. Bu, enggak usah diladenin.. kayaknya orang ini punya gangguan kejiwaan."
Ardiaz enggak percaya Lulu mengatakan dia punya gangguan kejiwaan. Dia mengeluarkan ponsel apel krowaknya. Menunggu beberapa saat akhirnya panggilan telepon yang dia lakukan terhubung juga.
"Assalamualaikum.. mah, kayaknya kita enggak jadi ke rumah calon mantumu besok. Mamah sama papah bisa ke sini sekarang aja enggak? Nanti lokasinya Diaz shareloc, iya mah.. dia terlalu enggak percaya sama anakmu ini."
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Ardiaz tersenyum puas. Sedang Lulu dan ibunya makin melongo, mereka tak habis pikir dengan apa yang Ardiaz perbuat, menyuruh orang tuanya saat ini juga berkunjung ke rumah mereka. Untuk melamar Lulu, bahagia dong pasti Lulu nya? Enggak.. dia malah ingin membenamkan kepala dokter berkacamata itu ke dalam air bilasan cucian!
"Ya Allah le.. Iki kepiye, moso iyo orang tuamu mau ke sini sekarang, ini ibu enggak ada persiapan apa-apa lho. Piye iki Lu?"
Di desa, acara lamaran atau pertunangan biasa diadakan dengan mengundang keluarga atau tetangga dekat rumah untuk ikut menyambut tamu (dayoh), ikut membantu masak, guna dihidangkan dan dimakan bersama nanti saat selesai acara.
"Ibu enggak usah bingung gini, kalau benar keluarga orang ini mau ke rumah kita ya suguhin apa yang ada aja. Enggak usah terlalu mengistimewakan kedatangan mereka bu." pandangan kesal dia arahkan ke Ardiaz. Yang dipandang dengan pancaran hyper malah sabodo amat. Dia memilih nyengir.
__ADS_1
"Kamu ini, tamu adalah raja Lu, enggak boleh seperti itu! Apalagi yang mau ke sini kan katanya calon mertua kamu, aduuh... Ibu tak mulai masak dulu setidaknya nanti ada makanan buat dihidangkan."
"Lagian ini adikmu juga kemana? Itu orang kok enggak pernah bisa betah di rumah, lumayan kalau ada adikmu bisa bantu ibu ngulek bumbu apa ngupas-ngupas bawang" Ibu cekatan mengangkat belanjaan di bantu Lulu dan Ardiaz juga, lelaki itu enggak mau berpangku tangan saja.
"Lho lha tadi ibu pulang bukannya dijemput Beni?" Tanya Lulu yang mulai mengiris tempe untuk digoreng.
"Ibu ngojek. Kelamaan nunggu dijemput kelian!" Ibu menjawab sekenanya, seperti tahu jika akan ada tamu yang datang nanti, ibu tadi membeli banyak belanjaan di pasar.
"Lah... terus pergi kemana itu titisan kecebong satu itu?" Ucap Lulu pelan, takut ibunya dengar.
"Heeeh.. kamu ngapain clingak-clinguk? Sini bantuin ngupas bawang! Yang datang kan emak bapak kamu, ya kamu juga harus ikut masak buat nyambut mereka!" Titah Lulu kepada Ardiaz.
"Lulu, jangan gitu! Mas.. kamu duduk aja di sana, maaf ya di anggurin."
Ardiaz beneran ikut duduk bersila di lantai yang sudah digelari tikar oleh Lulu sebelumnya, melihat cara Lulu memotong sayuran ini dan itu. Begitu pro, Lulu cuek aja saat Ardiaz mulai mengambil bawang merah dan dikupasnya tanpa menggunakan pisau, lama.
"Lu.. kamu ini apa-apaan, beneran nyuruh masmu nyupas brambang. Mas nya kok ya mau-mau aja disuruh Lulu, udah mas enggak usah." Ibu mengambil hpnya yang ada di samping televisi.
"Mboten nopo-nopo bu.." Jawab Ardiaz sekenanya.
"Iyalah enggak apa-apa, jangan manja! Siapa suruh ngundang emak bapaknya ke sini dadakan!" Jutek aja terus Lu. Lama-lama kamu mirip kek Shela.
Lulu membetulkan hijabnya yang menjuntai ke depan, dia ikat kedua ujungnya kebelakang kepala agar tidak menggangu kegiatannya memasak nanti. Melihat hal itu, Ardiaz menggeser duduknya dan membantu mengikat hijab yang Lulu pakai.
__ADS_1
"Ada aku kenapa enggak bilang kalau butuh bantuan?" Lulu diam saja. Sejujurnya dia masih bimbang dengan perasaannya saat ini, memang benar Ardiaz masih ada di hatinya tapi setelah sekian lama Ardiaz menghilang dan sekarang kembali tanpa basa-basi langsung ingin melamarnya membuat hatinya campur aduk.
"Ben!! Kowe dolan wae, muleh saiki utowo ogak usah balik sisan!" (Ben!! Kamu main terus, pulang sekarang atau enggak usah pulang sekalian!) Suara ibu mengagetkan kedua manusia yang tadi sempat beradu pandang beberapa detik tadi.
"Nok ndi kowe? Ojo takon-takon terus! Gawean nek omah akeh kok malah ngajak ngobrol wae!" (Dimana kamu? Jangan tanya-tanya terus! Pekerjaan di rumah banyak kok malah ngajak ngobrol melulu!)
Ibu mulai menaikan nada suaranya. Tandanya saat pulang nanti Beni bakal kena lemparan sandal keramat oleh ibunya.
"Iyo Beni balik Saiki!!! Astaghfirullah iki bocah kok ngene men!" Takut ibunya emosi, Lulu mengkode ibunya untuk memberikan ponsel yang ibu pakai untuk menghubungi adiknya itu.
"Arbei Nizam Maulana yang terhormat, kamu mau pulang atau aku kasih tahu ibu kemana kamu tiga hari kemarin hmm?" Lulu tersenyum puas. Dengan gertakan itu adiknya langsung mematikan telepon memilih pulang daripada kena kutuk ibunya.
"Beni kemana to Lu kemarin? Kok manut men dia sama kamu?" Tanya ibu penasaran.
"Di rumah Parto kok Bu, kan Parto sekarang udah punya rumah sendiri. Pada nginep di sana bareng Seno juga."
Ibu melenggang pergi, meneruskan kegiatan memasaknya di dapur yang sekarang mulai ramai karena tadi ibu sempat meminta bantuan tetangga dekat rumah untuk membantu memasak. Sebegitu senangnya ibu saat mendengar anak perempuannya akan dilamar orang. Padahal ibu belum tahu, siapa Ardiaz ini. Apa pekerjaannya dan berapa lama mengenal putrinya. Yang penting senang aja dulu. Itu yang ibu pikirkan.
...----------------...
Klik bintang 5 setelah baca ya gaess, sukur² mau ninggalin komen juga. Biar rate nya selalu di angka 5 hehehe.
Big thanks semua readersku😍❤️❤️
__ADS_1