
"Emak kenapa?" Tanya Indah membawakan minyak kayu putih yang emak minta pada Indah tadi.
"Pusing. Pak Agus itu bawa mobil kok kayak bawa gerobak lagi ngangkut sapi. Enggak ada alus-alusnya sama sekali!" Memegang kepalanya yang masih pusing.
"Itu tandanya kamu mau punya adik Ndah!" Celoteh bapak iseng. Emak hanya melirik malas.
"Mas, mbak Shela mau ke sini katanya." Indah nyamperin kakaknya yang ada di kamar.
"Huum udah tahu," Parto duduk di ranjang kebesarannya.
"Tahu darimana?" Indah ikutan duduk di sebelah kakaknya.
"Pakai telepati hati," Jawab Parto asal.
Indah memutar bola matanya, ini orang kenapa dah?!
"Mas.. kata emak kemarin mas To sama mbak Shela mau nikahnya dipercepat ya?" Indah membantu menyusun baju kakaknya yang tadinya sempat di bawa ke klinik tapi belum sempat dipakai.
"Mbuh.. (Enggak tahu..)" Parto aslinya malas ngobrol. Kepala dan dadanya masih nyut-nyutan. Apalagi setelah turun dari mobil travel pak Agus tadi.. rasanya aah banget! Aah kok pengen muntah ya.. gitu!
"Ya udah lah mas, tidur aja sana. Nanti kalau mbak Shela sampai sini aku kasih tahu kamu." Selesai membereskan baju Parto, Indah langsung keluar kamar kakaknya. Dia tahu kakaknya sedang mode males diajak ngobrol.
Dua jam setelah Parto tiba di rumah, Shela beneran berkunjung ke rumah Parto. Membawa bingkisan yang langsung diterima Indah. Emak yang sibuk di dapur menyempatkan diri untuk menemui calon mantunya, tapi setelah itu emak kembali melanjutkan aktivitasnya di dapur. Sedangkan bapak, beliau sudah sibuk dengan ayam dan kambing-kambingnya.
"Mbak.. mas To di kamar, mungkin lagi tidur.. aku bangunin ya?" Indah beranjak dari tempat duduknya.
"Ndah.. enggak usah! Kesian To kalau dibangunin. Dia harus banyak istirahat Ndah. Aku bantu emak aja di dapur.." Shela berniat ingin ke dapur membantu emak memasak. Tapi, emak sudah keluar dari dapur.. membawa teh hangat dan pisang goreng yang ditaruhnya di meja.
"Mau bantu apa to Nduk.. wong udah selesai. Cuma goreng pisang sama bikin kopi buat bapak."
__ADS_1
"Ndah.. Bapakmu mana? Ini ada mantunya dateng kok enggak ditemuin," Lanjut emak.
"Di kandang mak.. ngasih makan kambing sama bersihin kandangnya," Jawab Indah menengok keluar jendela.
"Owh.. kamu anterin kopi sama pisang yang emak taruh di dapur buat bapakmu Ndah. Abis itu bangunin masmu, suruh makan, kasih tahu juga mbak Shela ke sini!" Perintah emak bertubi-tubi.
"Njih mak.." Indah bergegas ke dapur, mengambil apa yang emak tadi sebutkan dan membawanya ke bangku besar panjang di bawah pohon tempat favorit bapak.
"Harusnya kalau ke sini tuh ya ndak usah repot-repot La,, datang ya datang aja. Ndak usah pakai bawa oleh-oleh kayak begini. Kan ini juga rumahmu, biasa aja di sini ya." Emak tersenyum manis. Mencairkan suasana ?takutnya Shela grogi atau sungkan karena memang mereka jarang berbicara, bertemu juga baru beberapa kali.
Emak enggak mau Shela nantinya jadi jauh, merasa kurang diperhatikan sama mertua, akibat kurangnya komunikasi diantara mereka.
"Iya mak, ini Shela juga enggak repot kok. Kan sehari-hari juga Shela biasa buat kue."
Dulu Shela sulit dekat dengan orang lain, jarang ngobrol kecuali hal-hal penting yang mengharuskan dia mengeluarkan suaranya. Tapi, sejak mengenal Parto, dia mulai membuka diri untuk bersosialisasi. Karena kesabaran Parto membuat Shela bisa menerimanya, terbiasa dengan dirinya, bahkan mulai candu dengan hadirnya Parto di hidup Shela.
"Belum, langsung masuk kamar dia. Mungkin pusing kepalanya, lha wong emak yang sehat aja naik mobil pak Agus tadi langsung nek, keliyengan!"
"Tadi Indah disuruh bangunin To kok ya malah asyik sama bapaknya ngasih makan ayam itu apa lho!" Emak mulai gemas. Nalurinya untuk ngomel tidak bisa ditahan.
"La.. kamu bangunin Parto ya, dari klinik dia belum makan. Sekalian nanti kamu juga makan bareng di sini!" Emak beranjak ke dapur setelah memberi tugas kepada Shela untuk membangunkan Parto yang beristirahat di kamar.
"Njih mak.."
"Kamar To yang ujung La. Enggak ada kordennya itu, yang korden biru kamar Indah." Emak memberitahu.
"Njih mak." Kata Shela mengulang perkataannya tanda mengerti.
Shela membuka pintu kamar Parto, terlihat Parto tidur dengan meletakan tangan di kening. Kipas angin kecil yang dia nyalakan membuat sejuk kamar kecil itu. Kamar cukup rapi, Shela menarik kursi plastik yang ada di samping jendela. Dia duduk di samping lelaki yang belum menyadari kehadirannya karena memang dia masih tidur.
__ADS_1
Shela sengaja mematikan kipas yang menyala dengan angin mengarah tepat ke muka Parto. Alhasil, Parto mulai merasa kegerahan.
"Kamu mau tidur sampai kapan?" Tanya Shela sambil melipat kedua tangannya.
"Eeeuuh.." Parto langsung membuka mata, kaget dengan pemandangan di depannya. Saat ingin merenggangkan otot, dia langsung mengurungkannya.
"Kok tiba-tiba di sini?" Tanya Parto langsung duduk karena kaget.
"Emang harusnya dimana?"
"Tadi kamu masih di mimpiku lho," Shela tersenyum aja mendengar penuturan Parto.
"Di mimpimu aku ngapain?" Tanya Shela selanjutnya.
"Kamu nackal banget di sana, enggak biarin aku keluar dari kamar!" Parto beranjak dari duduknya, mengulurkan tangan dan disambut oleh Shela.
"Masa? Lalu.. kamu di kamar ngapain?" Mereka berjalan keluar kamar layaknya pengantin baru.
"Kamu nyuruh aku diem aja di sana.. sampai tugas yang kamu berikan selesai." Dengan tersenyum membuat Shela makin penasaran dengan cerita Parto.
"Aku nyuruh kamu apa? Jangan bikin aku penasaran!" Bukan Shela aja yang penasaran, reader pun ikut berpikir kemana-mana karena cerita Parto.
"Mau tahu banget?" Mereka duduk di ruang tamu.
"Huum!"
"Kamu nyuruh aku bersihin kamar, ngelipat baju, nyusun bantal guling, dan enggak biarin aku keluar kamar sebelum semua itu selesai." Parto tertawa karena mendapati raut wajah Shela yang langsung cemberut.
"Bahkan di mimpi pun, aku rela kamu jadiin aku pembantumu!" Parto mengusap pipi Shela yang bersemu karena ulahnya ini.
__ADS_1