
"La.. aku ngasih kamu ini ikhlas, kenapa enggak mau?"
"Karena kamu berlebihan. Kalau bahasa gaulnya lebay!"
Shela melirik jam tangan, pukul 20.10.
"Buat orang spesial kayak kamu hal ini bukan suatu yang berlebihan La."
Parto menyodorkan kotak kecil berisi kalung berbandul bulan sabit itu di dekat tangan Shela.
"To, ngene ae... aku terima ini. Maturnuwun banget tapi, aku minta kamu simpenin kalung ini dulu buat aku. Kamu mau?"
Parto enggak mau memaksa. Dia tahu Shela bukan orang yang suka dibucinin seperti cewek-cewek lain. Dia mengangguk tanpa ingin membuat perdebatan makin panjang dan memakan waktu.
"Aku bukan nolak pemberianmu, aku minta kamu buat nyimpen kalung itu buat aku. Jadi, jangan diilangin!" Tidak mau membuat Parto kecewa, Shela memilih kata 'tolong disimpan dulu buat aku' dari pada 'aku enggak mau'.
"Iya La.. aku ngerti."
"Mau pulang sekarang? Ini udah malam, takut ibu khawatir.." lanjut Parto.
"Iya, lagian kamu ngajak ketemu malem-malem. Oiya, besok aku mau ke rumah Mbah kamu... boleh?"
Seperti mendapat semangat baru, Parto langsung mengangguk cepat.
"Boleh.. Besok juga Seno sama Beni, Indah juga mau bantuin beres-beres."
"Lah kalau udah ada banyak orang ya aku enggak usah ke sana To,"
"Eh kok gitu La, ya jangan lah. Kan tadi bilang mau bantuin aku juga,"
Shela tersenyum simpul.
"Doa juga udah termasuk dari bantuan To, gimana kalau aku bantu doa aja?"
"Yah.. tahu gitu tadi enggak bilang kalau manusia-manusia kurang sajen pada ikut ke sana!"
__ADS_1
"Yo salahmu dewe, hahahaha"
Keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang ke rumahnya, Parto mengantar Shela terlebih dahulu. Dia tidak masuk ke dalam rumah Shela. Hanya menatap punggung Shela saat berjalan memasuki kediamannya dari halaman depan tempat dia memarkir motor. Tidak ada obrolan lagi yang berlangsung, sepertinya keduanya memang merasa penat hari ini.
Dan seperti tahu kalau dirinya sedang diperhatikan, Shela berbalik saat sudah sampai depan pintu. Dia tersenyum manis ke arah Parto. Dengan berucap tanpa suara,,
'Hati-hati di jalan,'
Parto tersenyum dan mengangguk mengerti apa yang Shela ucapkan.
Dengan gerakan cium jauh, Parto melempar rasa cintanya ke udara. Berharap Shela menangkap dan merasakan dalam cintanya.
Bukan membalas dengan ikut alay sama seperti Parto, Shela malah berucap,,
'Enggak waras ya?'
Seketika Parto tertawa. Shela emang beda, dan dia menyukai gadis yang dianggap seperti titisan kunti oleh teman-temannya itu.
Usai drama alay, Parto segera melajukan motor ayamnya untuk bergegas pulang. Dirinya juga merasakan kepenatan yang teramat sangat. Dia bukan robot yang enggak mempunyai rasa capek kan!
"Dari mana To?" tanya bapak setelah menyeruput kopi bikinan emak. Memandang anak sulungnya itu dengan tatapan teduh.
"Kowe saiki kakean dolan lho To, lali omah!" (kamu sekarang kebanyakan main lho To, lupa rumah!). Sahut emak.
"Dari rumah temen pak. Mak.. kalau aku lupa sama rumah ya enggak bakal balik ke sini. Emak ini kok sensian to, Pak... emak dulu pernah diajak pacaran apa enggak to?" Parto menyomot singkong goreng yang ada di meja.
"Enggak. Dulu embahmu nyuruh bapak lamar emak waktu nganterin hasil panen jagung punya embahmu. Dulu kan bapak orangnya manutan (patuh). Lha disuruh ngelamar anak gadis juragan jagung ya tak iyain aja. Padahal bapak belum pernah ketemu sama emakmu barang sekalipun!" Terang bapak sambil mengingat masa lalunya.
"Weleh pak, jadi bapak dijebak itu namanya ya? Belum pernah ketemu kok disuruh ngelamar?!" Parto tertawa mendengar penuturan bapaknya.
Emak yang dari tadi diam mendengar ucapan suaminya langsung cemberut. Dengan gemas emak mencubit pinggang bapak.
"Liat kan To, emakmu ini galaknya enggak ada tandingannya. Dia mana mau masa lalunya terbongkar," Bapak tidak menghindar meski tahu emak akan melancarkan serangan lanjutan.
"Bapak ini sukanya ngarang cerita, bukannya dulu bapak yang nangis-nangis minta emak buat jadi istri bapak. Dateng siang-siang, pakai sepeda ontel tua yang sekarang ada di gudang belakang itu, rambut klimis dikasih minyak jelantah, langsung sungkem sama orang tuaku buat jadiin emak istri bapak! Emak enggak lupa itu pak!"
__ADS_1
Parto tertawa terbahak-bahak mendengar sanggahan dari emak. Ternyata kisah cinta orang tuanya sangatlah lucu.
"Emak kok sampai hafal dandanan bapak dulu, ada fotonya mak?" Tanya Parto yang ingin menjadi kompor buat orang tuanya.
"Lha gimana enggak hafal To, emak kan cintanya setengah modyar (mati) sama bapak! Dari ujung rambut sampai ujung kaki, enggak ada satu inci pun bagian dari bapak yang emak enggak hafal, iya kan mak?" Ucap bapak sambil mengerlingkan matanya. Kali ini mata emak melotot. Bisa-bisanya suaminya se nakal itu di hadapan anaknya,
Makin kencang lah suara tawa Parto. Orang tuanya ini, bisa banget menjadi hiburan saat rasa lelah menyerangnya.
Tidak mau mengganggu kemesraan kedua orang tuanya, Parto pamit masuk kamar setelah mengutarakan niatnya untuk memulai merenovasi rumah embah besok.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
Pagi itu tiga serangkai sudah terlihat sibuk memporak-porandakan isi rumah embah Parto. Mereka mengeluarkan semua isi rumah seperti kursi, lemari, meja dan banyak lagi. Enggak perlu disebutin semua. Ngabisin durasi aja.
"To, kamu kok mendadak kayak bos gitu to? Ben lihat tuh Parto enak amat kipas-kipas di bawah pohon, lha kita dari tadi kek jongosnya!" Seno memprotes tindakan Parto yang dianggap semena-mena.
"Kalau kamu yang calon adik iparnya aja protes apalagi aku, tak leren sik lah!"
"Kelian ini protes terus gaweane, aku juga baru istirahat lah. Ndah... kamu salah milih pacar kayaknya, baru diajak main keringat bentar udah ngeluh. Tuker tambah Ndah, cari yang lebih strong!" Ucapan Parto membuat Beni tertawa.
Berbeda dengan Beni yang ngakak, Seno malah merengut.
"Apaan main keringat mas? Aku enggak ngerti.." Tanya indah menaruh nampan berisi satu teko es sirup dan kawan-kawannya es.
"Jangan dengerin dek, ya Allah To.. kamu sekarang kalau ngomong asal njeplak. Itu mulut udah terkontaminasi sama Beni ya?"
Beni meneguk es sirup yang Indah bawakan. Tenggorokannya terasa kering sedari tadi.
"Jangan bawa-bawa aku Sen, ancen kamu nya kurang strong kalau kata Parto. Itu Parto yang ngomong lho bukan aku,"
Ditengah asyiknya obrolan mereka, fokus mereka teralihkan oleh suara motor matic yang jenisnya sama seperti punya Indah.
__ADS_1
Senyum langsung mengembang di wajah Parto saat tahu siapa yang datang. Seno dan Beni melongo. Bisa-bisanya cewek titisan kunti itu datang ke sini. Wah wah apa ini tanda-tanda akhir kisah ini?