Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Mulai Bucin


__ADS_3

Seno menerima kertas tersebut, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Tanpa berucap apapun.


Setelah memastikan Seno benar-benar pergi dari area tempatnya bekerja, Ralina kembali masuk ke dalam mini market itu untuk meneruskan pekerjaannya.


Ralina ingat betul, Seno adalah orang yang sering jadi topik obrolan dirinya dan teman-temannya saat masih bekerja di pabrik dulu. Tapi sayang, dulu dia belum sempat berkenalan atau bahkan bertegur sapa dengan Seno. Hanya sebatas kagum.


Mas Seno aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, aku kira setelah aku resign dari pabrik itu.. kita enggak bisa ketemu lagi.


Ralina tersenyum, memikirkan kembali saat-saat dia masih bekerja di pabrik. Itu adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Seno. Seperti yang di sebutkan sebelumnya, Seno adalah orang yang ramah kepada siapa saja. Itulah kenapa banyak yang jatuh hati kepadanya.


Seno bukan orang yang caper, memang sudah dari sononya dia memiliki sifat friendly. Dia juga bukan orang yang suka tebar pesona, tapi sebagian orang menyalah artikan sikapnya. Menganggap dia playboy yang suka baperin wanita.


Pada kenyataannya dia saja belum pernah berpacaran, kenapa bisa di katakan playboy. Bukankah playboy itu sebutan untuk lelaki yang suka bergonta-ganti pasangan?


Masa selama 26 tahun Seno jomblo terus? Enggak pernah pacaran gitu? Yang nulis jan ngadi-adi deh kalau ngarang!?


Ada yang protes gitu? Protesnya di kolom komentar aja.


.


.


.


Hari menjelang sore saat Seno tiba di rumah Indah, sehabis dari mini market tadi Seno langsung tancap gass menuju kediamannya si pemilik hati. Di saat bersamaan, Seno melihat Indah akan menyalakan motor maticnya.


"Assalamualaikum.." Ucap Seno setelah motornya berhenti di depan rumah Indah.


"Waalaikumsalam.. Suara motornya Mas Seno itu dari jarak satu kilometer kok sudah terdengar ya. Itu motor knalpotnya di pasangin toa ya Mas hahaha,"


Mendengar perkataan Indah, Seno jadi ikut tertawa.


"Mau tak ganti aja Ndah, terlalu berisik.. Udah di tegur sama Ibu juga kok, katanya kalau ada yang sakit bisa langsung wassalam kalau sering dengar suara motorku itu." Indah semakin tertawa mendengar ucapan Seno.

__ADS_1


"Apalagi kalau yang dengar lagi sakit gigi Mas, bisa di kasih siraman rohani seminggu enggak rampung-rampung (kelar-kelar) pokonya."


"Sumpah jerapah keluar semua Ndah hahaha"


Kedua tertawa karena ghibah motor Seno. Dari dalam rumah Emak muncul membawa tabung gas melon.


"Lho ada Seno, kok enggak di suruh masuk Ndah?" kata Emak yang melihat Seno masih duduk di atas motor. Indah baru menyadari dirinya belum menawarkan Seno untuk sekedar masuk ke rumahnya,


"Eh iya Mak lupa aku.. Mas Seno monggo plebet (silahkan masuk) masak duduk aja di motor gitu."


Seno menghampiri Emak Indah dan mencium tangannya. Wajib sopan jika ingin mengambil hati calon mertua ya.


"Tanganku bau gas ini lho Sen, orang abis nyopot gas tadi." Ucap Emak sambil tersenyum melihat Seno mencium tangannya.


"Ndah kamu beliin gas di warung Mbak Sri ya, tadi Emak mau goreng singkong enggak jadi karena gasnya habis."


"Sini Budhe biar aku aja yang beliin sekalian mau beli bensin," Seno mengambil gas yang di letakkan Emak di samping motor Indah. Indah yang melihat hal itu malah menatap ke arah Emaknya.


"Saestu mboten nopo-nopo Budhe (Serius enggak apa-apa Tante), biar aku saja yang beliin. Ndah ini buat kamu, aku tak ke warung bentar ya."


Seno memberikan satu plastik penuh jajanan yang dia beli dari mini market tadi siang kepada Indah. Masih melongo, Indah menerima bingkisan itu dari tangan Seno.


Bergegas Seno menyalakan motornya dan melajukan si cempreng itu ke warung Mbak Sri. Sedangkan Indah dan Emak yang masih di depan rumah, hanya melihat kepergian Seno yang semakin menjauh dari tempat mereka berdiri. Seno pergi menyisakan kepulan asap dan bunyi nyaring dari knalpot motornya saja.


"Ndah.. itu apa kok bungkusannya gede banget?" tanya Emak menunjuk plastik Aprilmart yang barusan Seno berikan ke Indah.


"Enggak tahu Mak, aku enggak minta lho Mak. Dia yang ngasih sendiri," Jawab Indah sambil melihat isi bungkusan yang ada di tangannya. Indah tersenyum saat menemukan tiga buah coklat kesukaannya ada di dalam plastik itu.


"Jajan tok Mak hihihi," Jawab Indah tanpa menghilangkan senyum dari wajah manisnya.


"Kamu koyo bocah cilik wae Ndah, di kasih jajan sekarung langsung mesem terus" Ucap Emak sambil berjalan memasuki rumah.


Indah mengikuti langkah Emaknya, di dalam rumah Indah meletakkan bungkusan itu di atas meja. Dia kembali keluar untuk mengambil kontak motor yang masih terpasang di motornya, dia tadi berniat pergi membeli gas tapi malah Seno yang berangkat.

__ADS_1


Tiba di tempat tujuan, Seno memanggil Mbak Sri si pemilik warung itu.


"Mbak Sri, beli gas. Mbak Sri.. Ini orangnya kemana lho, enggak butuh duit keknya.. Mbak Sri.." Panggil Seno beberapa kali.


"Kamu ini udah kayak motormu aja Sen, berisik banget! Aku denger lah kamu manggil aku, belum budek juga aku,"


"Lho kirain tokonya sepi kok enggak ada yang jaga, ya udah teriak aja biar kedengaran kalau ada manusia ganteng mau beli gas"


"Kamu beli gas, buat apa Sen? kok tumben banget kesini cuma beli gas. Emang di warung dekat rumahmu stok gas habis apa kok nyari sampai sini?"


"Mbak Sri tanya gas buat apa? emang di rumah Mbak Sri masaknya masih pakai kayu bakar ya hahaha" Ucapan Seno membuat wanita itu merengut.


"Sama gula, kopi, teh juga Mbak Sri sekalian"


"Kamu mau ke tempat dukun ya, pake beli gula sama kopi segala" Mbak Sri memang sekepo itu orangnya, semua yang berbelanja ke tempatnya akan di wawancarai. Di tanya ini itu sampai terpampang nyata di depan matanya.


"Kan ketahuan kalau Mbak Sri ini suka ke tempat gituan, emang harus ke dukun dulu baru beli gula sama kopi Mbak?" Seno mengambil permen karet yang ada di toples tertata rapi di atas etalase milik Mbak Sri.


"Kamu ini kalau di tanya kok ya malah balik tanya, udah ini semua tujuh puluh ribu sama permen yang kamu makan itu" Mbak Sri menyerahkan plastik berisi gula, kopi, dan teh yang Seno pesan tadi.


"Mbak.. ini gas nya enggak di kasih plastik sekalian? nanti iri lho, yang lain di plastikin dia enggak sendiri.. jadi penjual harus adil Mbak, dia juga pesti sedih kalau tahu kenyataan ternyata dia di anak tirikan." Seno berucap setelah membayar semua belanjaan yang dia beli di warung Mbak Sri.


"Sini kepalamu juga ikut tak masukin kresek, dasar bocah gemblung.."


.


.



Cukup rasakan perhatian dan hadirku Ndah, bila cintaku belum bisa menembus pekatnya hatimu. Belum bisa menyadarkanmu, betapa aku mendambamu.. aku akan menunggu sampai kamu membuka sendiri hatimu untukku.


__ADS_1


__ADS_2