Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Obyek Ghibahan


__ADS_3

Pagi itu terasa sangat sibuk untuk Indah, dia menyiapkan rasa percaya diri untuk menutupi kegugupannya. Meski Seno udah berulang kali memberikan motivasi dan dukungan untuknya tapi, dia masih saja gugup.


Berangkat bersama Seno, Indah merasa sedikit enggak nyaman dengan pandangan mata beberapa orang yang sudah menjadi karyawan di sana.


"Kenapa dek?" Tanya Seno menyadari Indah sedikit menjaga jarak saat mereka berjalan bersama.


"Enggak mas," Indah pura-pura menyibukan diri dengan mengeluarkan hp nya. Tapi, dia mau menghubungi siapa? Dia makin bingung karena suasana dan situasi yang enggak enak ini.


Tangan Seno terulur untuk menggenggam jemari Indah. Membuat Indah membelalakan mata. Ini di tempat umum, ah makin banyak orang yang memperhatikan dirinya.


"Kamu jangan jauh-jauh dari aku! Nanti nabrak orang. Aku enggak rela sweety ku senggolan sama orang lain. Apalagi sedari tadi aku perhatiin mata cowok di sini seakan mau lepas liat kamu,"


Indah hanya tersenyum. Sikap Seno sedikit menghilangkan kegugupannya. Seno tidak pernah menunjukan kedekatan dengan cewek seperti sekarang ini di pabrik, hal itu pasti langsung menjadi pusat perhatian di sana. Beberapa kali ada saja orang yang bertanya kepada Seno siapa cewek yang dia gandeng itu.


Dengan bangga Seno mengatakan bahwa gadis di sampingnya adalah kekasihnya. Membuat Indah tersenyum malu-malu. Sampai di kantin, Indah dimanjakan dengan perhatian Seno. Bertanya ingin sarapan apa, minum apa, menunjukan tempat di mana Indah nanti akan melakukan interview. Tanpa mereka sadari ada sesosok manusia yang sangat muak dengan kedekatan mereka berdua.


"Dek.. aku masuk kerja dulu ya. Inget tunggu aku di sini, nanti jam istirahat aku balik ke sini. Jangan kemana-mana. Kalau ada cowok yang ajak kamu kenalan, bilang kamu calon istriku. Aku kok kesel dari tadi banyak cowok sini yang jelalatan lihat kamu."


Indah tertawa mendengar wejangan Seno. Keduanya berpisah di kantin, Seno masuk area produksi. Sedang Indah, dia berjalan di gedung yang ditunjukan Seno tadi untuk melakukan sesi interview.


"Meisya.. kamu lihat tadi!? Edan ya.. ternyata mas Seno udah punya cewek lho. Dari mukanya sih masih bocah Meis, aku kesel lihatnya. Mereka enggak cocok banget!"

__ADS_1


Seru seseorang kepada Meisya. Meisya hanya diam enggak jawab ataupun ikut nimbrung obrolan beberapa temannya yang asyik ghibah Seno dan Indah.


"Ceweknya mas Seno manja banget ya kelihatannya? kok bisa-bisanya itu mas Seno betah sama orang kayak gitu?! Kalau aku jadi mas Seno ya tetep milih Meisya kemana-mana." Tutur yang lain menimpali.


"Meisya.. kamu jangan mau kalah sama cewek muka bocah kek tadi itu. Apa itu tadi, sok manis banget lho. Geli aku liatnya!"


Ya mari kemari rame-rame ghibahin kapel (couple) yang lagi piral! Emang kek gitu kan kelakuan para netijen, merasa benar dan bebas julid pada orang lain tanpa tahu kebenaran dari apa yang mereka lihat. Merasa apa yang mereka perbincangkan adalah suatu prestasi sehingga harus terus-menerus di jadikan bahan obrolan.


Tidak sampai disitu, mereka bahkan bisa tiba-tiba membenci sosok yang mereka sendiri saja belum pernah kenal sebelumnya. Inilah yang saat ini terjadi, Indah yang baru aja masuk area pabrik, datang bersama Seno yang notabene adalah salah satu target incaran para pekerja wanita di sana, menjadi bahan gunjingan sana-sini.


Tanpa mau mengenal pribadi seorang Indah terlebih dulu, mereka lebih memilih beramai-ramai memusuhi Indah. Mereka menganggap Indah adalah ancaman jika dia benar bisa diterima bekerja di sini.


"Aku yakin ya, pasti itu cewek pakai pelet! Lihat aja tadi, mas Seno sampai lengket banget sama dia!"


"Nah iya! Bisa jadi itu! Iiieh kok makin enggak suka aku sama cewek tadi!"


Terusin aja terus! Mumpung yang di ghibah enggak denger. Kelian bisa bebas ngomongin dia, nanti kalau ketemu.. jangan lupa pasang muka manis dan pura-pura ramah biar target yang kelian omongin enggak tahu kelakuan kelian di belakangnya.


Meisya berdiri, tadinya dia sudah memantapkan hati untuk enggak ngejar-ngejar Seno lagi. Selain dia tahu hal itu sia-sia, di balik layar ada Mista yang selalu dukung dia untuk enggak merecoki hubungan orang lain. Tapi, terkadang pikiran dan hati berjalan enggak sinkron.


Seperti sekarang ini, hatinya cenat-cenut lihat Seno sebahagia itu dengan wanita pilihannya. Belum lagi ditambah omongan julid para kompores (tukang manas-manasin kui lho) membuat Meisya makin panas aja otaknya.

__ADS_1


Tim ghibahers akhirnya meninggalkan lokasi kantin untuk bekerja di tempat masing-masing.


Siang itu menjadi siang yang panasnya berkali-kali lipat untuk seorang Meisya, ternyata ikhlas yang sering Mista gembor-gemborin enggak segampang itu. Dia bahkan berulang kali merasakan sesak di dada saat melihat kedekatan Seno dan Indah yang saat ini jadi pusat perhatian di parkiran.


Seno berniat akan mengantarkan Indah pulang ke rumah, karena sesi interview udah kelar. Tanpa rasa canggung Seno menunjukan perhatiannya kepada Indah. Dari menggenggam tangan sewaktu berjalan, sampai memakaikan helm untuk sang pujaan hati. Tak hanya itu, Seno juga memberikan jaketnya untuk dikenakan Indah. Makin menggila lah para juliders!


Indah bisa merasakan pandangan sinis dan enggak suka yang kebanyakan karyawati di sini tunjukan kepadanya. Tapi, dia memilih acuh tak peduli. Selama mereka enggak ganggu Indah, Indah enggak bakal permasalahin hal itu.


Meisya bisa melihat betapa nyata kemesraan antara Seno dan Indah. Diumbar di tempat umum seperti itu, pastilah bukan tanpa alasan. Meisya berpikir pasti Indah yang sengaja minta dimanja-manja oleh Seno selama berada di pabrik. Ya, Meisya berpikir seperti itu.


Ditambah percikan yang selalu teman-temannya imbuhkan, membuat dirinya semakin emosi.


"Meisya... kamu lihat itu tadi? Beneran itu cewek enggak tahu malu. Bisa-bisanya mas Seno terlihat seperti kacungnya! Aku gemes banget pengen jambak tu cewek!" Ucap salah satu teman atau lebih pantas disebut jurig karena sedari tadi bisanya cuma ngomporin orang.


"Eleh Tuti ini, tadi aja aku lihat kamu asyik ngobrol sama gandengan Seno! Sekarang sok ngehujat!" Tegur manusia lain yang ngaku teman Meisya.


"Tadi itu kan aku cuma basa-basi, aku mau cari info bener enggak dia ceweknya mas Seno. Eh dia malah ngaku calon istrinya mas Seno! Dia kok pede banget ya ngomong kayak gitu?" Seakan mencari alasan pembenaran akan tindakannya, cewek yang diketahui bernama Tuti itu bersungut-sungut.


"Itu sama aja kamu munafik Tuti! Di depan ceweknya Seno kamu baik-baikin dia, di belakangnya kamu ghibahin dia!"


"Heh!! Kelian bisa diem enggak??"

__ADS_1


Meisya berucap dengan menaikan nada bicaranya satu oktaf. Dia yang sudah panas luar dalam, masih harus dibuat stress karena ocehan teman-temannya.


__ADS_2