
Acara lamaran benar-benar selesai. Keluarga Parto, seperti emak, bapak dan para keluarga dekat Parto sudah meninggalkan rumah Shela. Begitu juga dengan tetangga Shela, beberapa orang ada yang sudah meninggalkan rumah Shela tapi, ada juga yang masih ngobrol santai. Tak berbeda jauh dengan mereka, Parto, Indah, Beni, dan Seno juga masih ada di sana.
Mau ngapain Seno dan Beni masih ngejogrok di rumah Shela? Mereka bantu membersihkan piring. Maksudnya bantu nyuci piring? Bukan.. mereka membantu menghabiskan isi dalam piring, biar bersih. Mubajir kan kalau masih nyisa itu makanannya.
Shela masih belum mau menemui ayahnya, dia memilih diam di kamar. Ada Indah yang menemani di sana. Sedangkan ibu dan pakdhe Shela ada di ruang tamu. Trio gabut ada di teras menemani tamu yang masih setia di sana, mewawancarai dan mengobrol apapun tentang keseharian Parto. Mereka ingin tahu sekali latar belakang Parto. Terus kalau udah tahu mereka mau apa? Ya berlanjut ghibah di tempat lain lah, mau apalagi cuba?
"Jadi kamu ke sini mau apa hah?" Tanya pakdhe Shela kepada pak Setiawan.
"Kang, aku juga tidak tahu kalau hari ini anakku mau lamaran. Aku sama sekali tidak bermaksud mengacaukan acara genduk (panggilan untuk anak perempuan, singkatan dari kata nduk). Rodiyah yang menyuruhku ke desa," Tutur pak Setiawan. Sesekali bapak tua itu menghela nafas berat,
"Jangan panggil aku Kang! Sejak kamu ninggalin adik dan ponakanku, hubungan silaturahmi diantara kita udah putus!! Kamu memang ndak tahu diri, baru ingat kalau masih punya anak di sini? puluhan tahun lalu ingatanmu minggat kemana? Sepertinya sakit yang kamu derita ini adalah karma dari dosa-dosamu di masa lalu!!"
"Kumala! Jangan sekali-kali kamu terima orang ini di rumahmu! Aku tak sudi lihat muka lelaki pendosa seperti dia ini! Suruh dia kembali ke kota, tinggal bersama anak istrinya! Saat sehat tidak ingat punya anak di kampung, tapi sekarang setelah sakit seperti ini mengemis minta dirawat! Tak tahu malu!!!" Lanjut pakdhe Shela yang mencak-mencak tersulut emosi. Tak peduli jika di sana masih ada tetangga dan kerabat dekat yang lain.
Kumala? Siapa Kumala? Kumala adalah nama ibunda Shela. Jelas ya gaess?
__ADS_1
Pak Setiawan terbatuk-batuk, pandangannya menyisir sekeliling ruangan. Mencari
keberadaan anak gadisnya. Tapi, nihil dia tidak menemukan sosok gadis berparas ayu yang sebenarnya amat tidak menginginkan kehadirannya. Apakah pak Setiawan menyesal sekarang? Dalam hati kecilnya, masih terselip nama anak dan mantan istrinya tapi, hingar-bingar perkotaan membuat dia lupa bahwa semua kesuksesan yang dia raih di kota juga atas doa tulus anak dan mantan istrinya dulu sewaktu di desa. Mereka mendoakan kesuksesan untuk orang tercinta agar bisa mengubah ekonomi keluarga, namun kenyataannya bukan hanya ekonominya saja yang berubah tapi juga hubungan antara mereka langsung luluh lantak tak bersisa karena keserakahan dari pak Setiawan itu sendiri.
"Kang.. aku salah kang.. tapi, aku juga tidak punya pilihan, istriku sendiri membuangku. Aku harus bagaimana kang?" Drama! Ingin dikasihani tanpa mau peduli perasaan orang lain!
"Cih!!! Baru sadar kalau kamu salah? Andai saja membunuh orang tidak ada hukumnya, sudah ku lempar kamu ke rel kereta api di batas kota sana! Aku tidak peduli dengan perselingkuhanmu, mungkin itu adalah cara Gusti Allah ngasih tahu adikku jika lelaki yang dipuja-puja olehnya dulu adalah bajing_an! Tapi, kamu tega menelantarkan anakmu? Otak kalau sudah kebanyakan mikir jeroan perempuan ya jadinya kayak kamu ini, ada isinya tapi enggak bisa buat mikir! Percuma kamu dikasih nalar dan pikiran, karena semua itu ndak guna!!"
Makin keras suara pakdhe Shela mengeluarkan isi hatinya, bahkan sesekali dia ingin maju memukul pak Setiawan yang hanya pasrah oleh keadaan yang membuatnya duduk di kursi roda.
"Kang.. duduk kang, jangan teriak-teriak." ibunda Shela menarik kakaknya untuk duduk saja, sedikit mengurangi emosi yang ada di hatinya.
"Sampai kapanpun kamu enggak diterima di sini! Jangan tunjukan muka memelasmu kepadaku, dan jangan-jangan kamu ini terpapar virus corona, bisa mati semua orang di desa ini ketularan penyakit yang kamu bawa!!"
Terus pakdhe serang dari sisi kanan dan kiri, atas dan bawah! Jan kasih kendor!
__ADS_1
"Saat kamu berselingkuh kamu hanya menyalahkan istrimu yang sekarang sebagai seorang penggoda! Heeeh.. aku juga pernah kerja di kota bahkan lebih lama daripada kamu, tapi aku pegang teguh komitmen dan janjiku untuk satu orang saja yaitu istriku!! Meski banyak godaan sekalipun, kalau kamu tidak memberi respon dan menggoda balik, perselingkuhan tidak akan terjadi!! Enak banget kamu bilang digoda Rodiyah, apa matamu buta?? Kumala adikku ini meski orang desa, enggak pernah kemana-mana tapi dari fisik, orang bodoh pun juga tahu kalau adikku lebih ayu daripada Rodiyah mu itu!!"
"Udah gini aja, daripada aku beneran lempar kamu ke rel kereta api, mending kamu telpon lagi supirmu! Suruh dia ke sini ambil kamu lagi! Atau kalau perlu telpon Rodiyah, biar aku yang bicara sama dia!!"
Pakdhe meneguk air putih yang diberikan istrinya, istri pakdhe takut jika sehabis dari sini suaminya bisa saja terkena stroke karena amarahnya yang meluap-luap.
"Masalahnya.. Rodiyah sudah ngusir aku dari sana kang.."
Belum selesai perkataan pak Setiawan, Shela keluar dari kamar dengan mata sembab. Terlihat dia habis menangis.
"Nduk.." Pak Setiawan berusaha menggerakan maju kursi rodanya, supaya bisa lebih dekat dengan putrinya.
"Maaf, nduk siapa yang anda maksud? Aku?" Ucap Shela melipat tangannya di dada.
Parto yang mendengar suara kekasih hatinya, langsung menuju ruang tamu. Berdiri mendekati calon istrinya.
__ADS_1
"Kamu bisa anggap aku sudah tidak ada, tapi nanti saat kamu menikah harus ada aku yang jadi walimu. Aku masih hidup dan tidak bisa digantikan, jika aku mau, restuku tidak akan turun untuk kamu dan kamu tidak jadi menikah La."
Wah.. perkataan pak Setiawan itu langsung memicu murka dari pakdhe Shela. Pakdhe berdiri dari duduknya dan langsung menendang kursi roda yang dipakai pak Setiawan untuk duduk. Alhasil, pak Setiawan yang lemah tak berdaya tapi punya mulut macam bisa ular kobra itupun jatuh tersungkur. Sebagian orang emak-emak langsung menjerit melihat aksi pakdhe yang barusan beliau tunjukan. Sekali lagi, pakdhe ingin mendekati pak Setiawan dan menendang manusia yang udah berguling-guling akibat ulahnya tadi tapi, langsung dicegah oleh Parto dan beberapa orang di sana.