
Patah hati itu wajar. Setiap orang pasti pernah mengalami hal menyakitkan itu. Rasanya saat orang patah hati itu udara gratis ini, oksigen tak berbayar ini, berubah jadi bongkahan batu.. mau menghirup sebanyak apapun terasa seperti kita kehabisan stoknya. Amat sesak saat O² itu melewati paru-paru.
Heleh si othor kek tau aja? Pengalaman Thor? Hahahaha yang protes, mending kita mojok dulu. Minum es sirup rasa coco pandan merek Makjan sambil liat nyamuk berkembangbiak.
Makanya jangan main-main sama hati kalau enggak mau sakit hati. Gadein dulu hatinya di pegadaian biar itu hati aman. Ada yang jaga di sana.
Lupain aja, skip kalau perlu. Itu adalah intro paling nyeleneh di jagat pernopelan. Kelian enggak bakal nemuin di tempat lain nopel se nyeleneh ini hahaha.
"Mbak beli paketan," seru seorang bocah laki-laki yang usianya sekitar sepuluh tahun.
"Iya, yang berapa GB?" Ucap Mista melayani pembelinya. Semua pembeli adalah raja, ingat itu wahai para pedagang! Meski kadang ada pembeli yang udah ngacak-acak dagangan, milih ini milih itu, nunjuk ini nunjuk itu, nawar sampai harga anjlok sampai penjual ngelus dada saking emejingnya, tahu-tahu harus dihadapkan dengan kenyataan kalau si pembeli itu enggak jadi beli. Pura-pura minggat biar dipanggil lagi. Apa pembeli yang model ginian juga termasuk raja Thor? Iya, sudah dijabarkan di atas. Semua pembeli adalah raja! Mungkin bedanya para pembeli model ini termasuk golongan raja pir'on.
Oke balik ke narasi. Sampai mana pula kita tadi?!
"Yang buat seminggu aja mbak," Ucap anak kecil itu menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Hmm dek, ini uangnya kurang. Paketan buat seminggu harganya dua puluh sembilan ribu." Mista tersenyum memberi pengertian kepada bocah yang sekarang plonga-plongo itu.
"Kok larang men mbak?!" (kok mahal amat mbak?!)
"Ya emang harganya segitu dek," Mista masih menunjukan deretan giginya.
"kalau uang segini dapetnya paketan yang berapa hari mbak?" Anak itu mungkin akan jadi reporter handal di kemudian hari.
"Di isi pulsa aja mau? nanti tak didaftarin biar bisa dipake harian kuotanya?"
Anak itu seperti berpikir. Lalu mengangguk tanda setuju.
"Mbak kalau numpang wipinan di sini bayar berapa?" Bocah ini tanya mulu heran deh.
"Dua ribu dek,"
"Dua ribu buat berapa jam? buat seharian?"
Mista tersenyum. Dalam hati bertanya, ini bocah anaknya siapa kok ceriwis banget?!
"Buat satu jam. Satu jam dua ribu,"
__ADS_1
"Hmm kalau gitu aku numpang wipian aja mbak,"
Mista yang terlanjur mengisi pulsa ke nomer anak itu hanya bisa melongo. Meisya yang melihatnya mulia kesal, matanya yang sembab dan emosi yang masih belum bisa dia kontrol membuat dia ingin menerkam siapa aja. Termasuk anak yang ada di hadapannya Mista itu.
"Bocah!!, kamu kok nyebelin banget sih!! Dari tadi aku denger kamu kek enggak niat beli! Siapa yang nyuruh kamu beli kuota? Anak kecil mainnya hp... buat apa? Main yang lain kan bisa! Main kelereng, main layangan, main bola, apa naik-naik di atas pohon sana!! Heran, bikin orang emosi aja!!"
"Sya..." Mista menggeleng. Memberi kode agar enggak memarahi pelanggan konternya.
"Kok mbak nya marah-marah kan aku cuma tanya, kenapa marah? Mbak idup di jaman apa kok tanya main hape buat apa? Sekarang lagi pandemi mbak.. di sini sekula semua diliburin. Kita belajar melalui daring. Daring itu pelajaran tanpa kita perlu masuk sekula, kata Bu guru namanya pelajaran tanpa tatap muka. Lewat onlen. Enggak tahu ya? Untung aku baik, jadi aku kasih tahu. Jadi Mbak enggak usah tanya ke Gugel apa itu daring!?"
"Heh... jangan sembarang kamu ya!! Aku tahu lah apa itu daring!" Meisya mulai mencak-mencak.
"Sya..." Mista kembali mengingatkan Meisya,
"Dek ini pulsanya udah mbak isi, kamu bilang mau wiFian aja tapi telat pulsanya udah terlanjur masuk ke nomer mu. Nih.. sekarang bisa belajar daring di sini, di rumah juga bisa."
"Iya deh iya, maturnuwun ya mbak." Anak kecil itu beranjak pergi.
"Mbak, jangan mau temenan sama dia! Dia galak kayak nenek sihir!" Imbuh anak itu sambil mengayuh sepedanya.
Mendengar perkataan nyelekit dari bocah yang entah itu anak siapa, membuat Meisya berang.
"Dua puluh ribu,"
"Lah kurang dong duit tuh bocah?! Mau aku panggil lagi? Masih kekejar ini!"
"Iya, enggak apa-apa Sya. Kurang dua ribu. Enggak bakal buat kita gulung tikar. Udah enggak usah dikejar, kamu ini..."
Meisya hanya melengos mendengar ucapan Mista.
Dua ribu kan juga duit. Emang dia kira gajinya di sini berapa juta? Palingan juga beberapa lembar uang merah Soekarno Hatta yang tersenyum manis. Lha kalau dipakai terus buat nalangin pembeli modelan bocah terong-terongan kayak tadi ya lambat laun pasti tuh duit gajian menguap. Baik kok unlimited. Untung temenku, temen orang lain udah tak kasih wejangan satu bab novel ini pas up deh!
Ya ya ya... itulah Meisya dengan segala kenganuannya!
Tinggalkan saja dia, makin lama otak othor makin gabut disuruh mikir tentang dia mulu.
Ini kapan part Beni? kapan part Parto? kenapa tiap up selalu yang di sorot Meisya, rasanya pen nyantet othornya. Apakah anda berpikir seperti itu wahai para readers yang berbudi luhur? Kalau iya, selamat anda termasuk golongan Pio n Kamelo. Orang paling enggak sabaran sejagat enteh!!!
__ADS_1
...----------------...
"Kamu ngapain malem-malem ngajakin ketemu di sini?"
"Emang kamu maunya ketemu dimana La?"
Shela menatap malas. Iya, pembicaraan di atas adalah pertemuan Shela dan Parto di warung pecel lele yang sebenarnya lelenya udah abis tinggal pecelnya aja. Sungguh durjana memang yang nulis ini.
"Maturnuwun ya La, aku suka banget topi yang kamu kasih!"
"Huum." Jawab Shela singkat.
Parto mengawali obrolan dengan bercerita kalau besok dia mulai merenovasi rumah embahnya. Dia sangat antusias. Melihat hal itu, Shela yang tadinya bete jadi bersemangat ikut menanggapi.
Sosok Shela yang dulu identik dengan nini kunti saat bertemu dengan Parto, sekarang berubah bak seorang dewi.
Mereka larut dalam obrolan yang menceritakan keseharian masing-masing.
"Bagus lah To kalau kamu udah punya rumah sendiri, nanti waktu kamu udah nikah... kamu sama istri kamu enggak perlu numpang di rumah orang tua."
"Kamu.." Ucap Parto memegang tangan Shela.
"Apa?"
"Iya kamu. Istri aku nantinya... Kamu!"
Shela biasa aja menanggapi ucapan Parto. Dia seakan udah kebal dengan segala macam bualan, kebal dengan segala macam pujian.
Ditariknya tangan yang di pegang Parto.
"Semoga inginmu terwujud."
Parto makin tertantang dengan jawaban yang dilontarkan Shela.
Setelah menyudahi acara makan malam merakyat itu, Parto memberikan sebuah kalung untuk Shea. Kalung rantai? Bukan... kalung rapiaaah!
"To.. aku enggak bisa terima ini, aku ngasih kamu topi bukan untuk minta balasan dari kamu. Agar kamu ngasih aku sesuatu. Kamu ini, buang-buang uang tahu enggak?! Kamu sendiri yang bilang mau renovasi rumah embah mu tapi nek duitnya kamu hambur-hamburin gini itu namanya pemborosan! Emoh lah!"
__ADS_1
Shela menggeser kotak kecil itu untuk dikembalikan kepada Parto.