Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Menghappy


__ADS_3

"Beben.. dengerin aku ngomong dulu, maksudku bilang maaf tu.. maaf aku enggak bisa nolak kamu!"


"Ben, dari semua cowok yang deket sama aku dulu sampai saat ini.. cuma kamu Ben yang paling ngertiin aku, enggak perlu ke sini bawa beras atau pindahin candi Borobudur juga hahaha kamu bisa banget bikin aku happy. Tanpa itu semua aku udah sayang sama kamu kok."


Ucapan Wanda bagai oase di hatinya yang tandus dan gersang. Ibarat gurun pasir yang udah lama enggak dihampiri rintik hujan, seperti itulah perasaan yang Beni rasakan.


Aaah apasih Thor enggak asyik banget, masa kek gitu doang? Jadi diterima itu si Beni? Lha iya. Emang kelian maunya bagemana wahai penduduk emteh dan enteh yang berbudi luhur?


Ini bukan cerita menyayat hati, mengiris sanubari, yang menghujam kalbu... bukan, ini cerita yang mudah dicerna siapa aja. Enggak perlu mikir pusing nyampe botak kek nemuin jawaban teka-teki silang.. Yang nulis juga tahu, beban kelian di rl banyak, numpuk, kek cucian si othor hahaha jadi bikin cerita yang enjoy, santuy, tapi masih bisa diterima akal sehat aja.


Wokey balik ke cerita gaess.


"Jadi...?" Tanya Beni yang udah girang banget.


"Jadi,,,?" Wanda balik bertanya dibarengi senyuman.


"Jadi mending Mas Beni pulang, ini udah malem Mbak Wanda nanti digunem (diomong) tetangga kalau Mas Beni tetep ngejogrok di sini." Putra adik laki-laki Wanda ikut menimpali omongan dua insan bucin itu.


Lah dateng darimana itu tuyul satu, tiba-tiba ganggu momen orang aja.


Bathin Beni. Putra, bocah sepuluh tahun itu sangat hafal dengan Beni. Dulu saat masih pacaran dengan Mbaknya sekitar tiga tahun lalu, Putra sering jadi alasan mereka untuk bisa ngedate. Pokoknya ada aja alasan Wanda ijin keluar rumah dengan membawa serta adiknya itu.


Kalau Putra, adiknya Wanda aja inget siapa Beni, kenapa ibu dan ayah Wanda enggak inget?


Jadi, dulu waktu mereka masih jadian Beni jarang nyaris enggak pernah ngapel ke rumah Wanda. Paling banter nganterin Wanda sampai depan rumah terus minggat lagi. Tanpa mau bertamu dulu. Kenapa begitu? Itukan enggak sopan? Ya, menurut Beni dulu.. dia pacaran sama Wanda bukan sama emak bapaknya jadi, ngapain sering-sering main ke rumahnya.


Sangat berbeda dengan Beni yang sekarang. Apalagi setelah kejadian ditinggal mbojo (nikah) sama Mela, Beni jadi lebih punya sopan santun sekarang. Dulu sopan santunnya masih di gadein di pegadaian. Buat beli cireng.


Dan dia juga memperhatikan gimana Seno dan Parto saat berkunjung atau pulang dari rumah pasangan mereka. Selalu sopan dengan menyalami atau salim kepada orang tua dari pasangan mereka tersebut. Seenggaknya itu yang sedikit mengubah karakter Beni yang dulu terlalu masa bodoh, enggak mikirin pencitraan di depan orang tua pasangan itu penting. Bisa mengambil hati orang tua pasangan akan jadi nilai plus untuk bahan pertimbangan kelayakan dari status pacar menjadi calon mantu.

__ADS_1


"Weh.. bocah, udah gede aja. Masih ingat aku to kamu?" Tanya Beni terpaksa basa-basi dihadapan Wanda. Aslinya, Beni pen nimpuk Putra pakai asbak yang ada di depannya.


"Inget, Mas Beni kan? Yang dulu pacaran sama Mbak maunya di tempat sepi? Ngajak ngirit. Cuma jajanin eskrim sebiji buat berdua? Inget aku inget."


Setan.. bocah kurang ajar. Dia ingetnya pas masa-masa susah aja. Dia enggak inget apa tiap abis ngapelin Mbaknya sering malak duit mapuluh rebu. Untung aja itu bocah masih kecil, agak gedean dikit aku gibeng bener.


"Putra enggak sopan ngomong kayak gitu," Wanda melotot ke arah Putra. Syukurlah Wanda masih belain Beni, jadi harga diri Beni enggak anjlok-anjlok amat di depan bocah ingusan itu.


Beni melirik jam tangan yang bertengger di tangan kirinya, udah malam. Mau terus di sini juga enggak enak sama kedua orang tua Wanda. Takut dicap buruk kalau bertamu terlalu lama di jam malam kayak gini.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Wanda, Beni memberi kode pada Wanda untuk keluar mengantar kepergiannya. Eleh, niatmu kebaca Ben! Mau minta pejeh (pajak) jadian ini pesti.


"Beben kamu sekarang beda banget Ben. Dulu enggak pernah mau kalau aku ajak masuk rumah, sekarang malah terang-terangan ngaku kalau kamu pacarku di depan ayah sama ibu."


Saat mereka sampai di dekat motor Beni, Wanda baru mengeluarkan suaranya.


Wanda terlalu happy malam ini. Dia sampai enggak bisa membalas ucapan Beni. Semua luka di hatinya yang Adit goresan seakan lenyap tak bersisa. Diganti dengan sejuta kebahagiaan yang Beni tawarkan.


"Aku pulang ya Nda, eemm Nda..." Beni menarik tangan Wanda agar lebih dekat dengannya.


"Beben... jangan aneh-aneh ini di depan rumah lho," Ucap Wanda saat melihat Beni semakin memajukan wajahnya lebih mengikis jarak diantara mereka.


"Aku sayang kamu Beib." Beni berbisik tepat di telinga kanan Wanda. Ungkapan sayang itu membuat Wanda ngeblush sekaligus merinding karena ulah Beni.


Masih dengan menautkan jemari tangan mereka... Beni memundurkan wajahnya. Menggerakan satu tangannya ke bibirnya sendiri lalu dengan perlahan menempelkan dua jari bekas bibirnya ke bibir Wanda.


Benar-benar kadal pemirsah. Bayangin aja sendiri bagaimana Beni melakukan kissing enggak langsung itu.


Sekali lagi, Wanda ngeblush karena perlakuan Beni.

__ADS_1


"Iieh kamu ni makin nackal sekarang ya Ben?" Ucap Wanda yang enggak bisa ngilangin senyum di wajah ayunya.


"Sekarang nackalin kamu itu hal wajib yang harus aku lakuin Beib,"


Kok enggak ada adegan kissing yang sesungguhnya oe?! Baca dari atas nyampe sini dapetnya gini doang hah?


Iya gitu doang. Kan lokasi mereka juga masih di depan rumah Wanda. Bisa-bisa Wanda makin dicap gadis enggak bener kalau ada tetangga yang liat aksi olahraga bibir ekstrim yang mereka lakukan. Lebih parahnya kalau orang tua Wanda sendiri yang memergoki mereka 'beradu mulut' dalam konteks yang sesungguhnya, bisa-bisa bibir Beni ditaboki pakai bakiak punya ayahnya Wanda.


Selesai melakukan drama perpisahan yang lumayan nguras emosi yang nulis kalau terlalu dijabarkan, Beni akhirnya benar-benar pamit pulang.


Sebelum pulang, Beni berniat membelikan bakso untuk Mbak Lulu dan juga ibunya di rumah. Beni melihat ada warung bakso yang masih buka di ujung jalan. Segera motornya dilajukan menuju warung bakso yang dilihatnya itu.


"Mas bungkus baksonya tiga ya, masih ada kan?" Kata Beni setelah sampai di warung itu.


"Tesih (masih) Mas. Sekedap njih, dintosi rumiyen. (Sebentar ya, ditunggu dulu.)"


Mata Beni menyapu seluruh isi warung. Tiba-tiba matanya menemukan sesuatu yang menarik. Dia mendekati seseorang yang sudah dia kenal.


"Beli bakso juga?" Tanya Beni kepada orang itu.


Hanya memandang dengan tatapan malas. Tanpa menjawab orang yang Beni tanyai itu malah menggeser duduknya dari tempat semula. Seakan takut terpapar bakteri atau semacam virus gaje lainnya.


Bukannya marah, Beni malah tersenyum melihat reaksi yang orang itu tunjukkan.


"Beli bakso apa?" Masih mencoba membuka pembicaraan. Diem-diem bae, pesti lagi nyembunyiin biji cabe yang nyelip di gigi. Pikir Beni.


"Mas.. Buat dia kasih bakso urat aja tuh. Jangan lupa ditambahin 'malu' biar sedikit punya rasa malu dianya." si Mas-mas yang jual bakso hanya tersenyum saja mendengar celotehan pembelinya.


Beni malah ngakak. Tanpa ada rasa jengkel sedikitpun. Malam ini dia terlalu bahagia sampai-sampai ucapan sengak tak bersahabat kayak tadi pun enggak ngaruh padanya.

__ADS_1


__ADS_2