Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Menyiapkan Hati


__ADS_3

Selesai mandi dan sholat subuh berjamaah, Parto kembali meminta ijin kepada istrinya untuk berkunjung ke rumah Seno.


"Iya mas.. Jangan terlalu malam ya pulangnya," Shela mencium tangan Parto. Parto mengusap pelan rambut Shela dan mencium keningnya.


"Iya La.. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam.. Hati-hati ya mas!"


Parto mengendarai motornya. Bukan lagi si ayam yang dia tunggangi, karena si ayam sudah pensiun. Ayam tak kuat lagi menanggung berat beban hidupnya.


"Itu masmu udah sarapan La?" Tanya ibu yang baru selesai mencuci baju.


"Belum Buk, mas To buru-buru mau ke tempat Seno." Shela membantu ibunya menjemur pakaian.


"Seno kenapa?" Tanya ibu.


"Ndak tahu.. Lha itu mas To baru mau ke sana nyamperin Seno." Keduanya lantas asyik berbincang.


Sedangkan Parto mencoba secepat mungkin bisa sampai ke rumah Seno. Dia sedikit enggak enak hati karena disuruh datang tadi malam, malah pagi hari baru ke sana. Setengah jam perjalanan dari rumah mertuanya ke rumah Seno, yang harusnya bisa lebih dari satu jam dengan kecepatan normal.


"Assalamualaikum.." Pintu masih tertutup, meski beberapa kali Parto mengetuknya. Dia lalu mengeluarkan hp layar lebarnya. Menoel nomer Beni. Tersambung tapi enggak diangkat!


"Opo To.. Aku lagi ape turu lho, wes mok telepon wae!" (Apa To.. Aku baru mau tidur lho, udah kamu teleponin terus!)


Beni membuka pintu dengan tampang kucel.


"Begadang ya? Seno mana?" Parto langsung masuk ke dalam rumah saat pintu dibuka oleh Beni.


"To.. Sini bentar," Beni memanggil Parto dan Parto langsung menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam rumah. Parto mengikuti Beni yang duduk di kursi teras.


"Piye?" (Kenapa?)


Saat Parto duduk di sebelah Beni, Beni malah berjalan ke pancuran samping rumah Seno, membasuh mukanya yang kurang tidur.

__ADS_1


"To.. Semalam Seno kayak kehilangan isi kepalanya!" Ucap Beni yang sudah kembali duduk di samping Parto.


"Maksudnya?" Parto mengerutkan kening.


"Semalam aku cari dia di sini, dia enggak ada.. Niatnya mau ke rumahmu, tapi aku mikir lagi enggak mungkin dia ke sana... Akhirnya aku muter-muter ngukur jalan buat nyari tuh manusia satu." Beni mulai bercerita.


"Ketemu di mana?" Tanya Parto makin penasaran dengan cerita Beni.


"Di lapangan, dia duduk diem enggak ngapa-ngapain. Bayangin aja hujan deresnya kayak semalem, dia malah duduk di tengah lapangan.. aku takutnya dia kesamber gledek! Udah aku suruh pulang tapi dia diem aja, pokoknya dari rumah mamaknya itu aku lihat dia ada di lapangan duduk sambil nunduk aja di sana." Jelas Beni.


"Lapangan yang dulu tempat dia nembak Indah?" Tanya Parto.


"Ya iya.. Lapangan mana lagi? Di sini kan cuma itu lapangan di desa kita!"


"Lha kamu ikut ujan-ujanan?" Beni belum menjawab pertanyaan Parto, dia merogoh korek api yang ada di kantong celananya.


"Rokokku mana ya To?" Tanya Beni kebingungan mencari rokoknya.


"Enggak, aku nungguin dia di gazebo deket lapangan. Oiya.. rokokku abis semalem deng, aku lupa!"


Mendengar penjelasan Beni, Parto hanya geleng kepala. Ini orang pikunnya udah tak tertolong!


"Seno mana?"


"Semaleman main hujan-hujanan kan dia, jam 03.00 baru mau pulang, nyampe rumah langsung masuk kamar, enggak ganti baju. Keluar bentar bikinin aku kopi, aku ajak ngobrol dia jawab iya iya mulu. Aku lihat dia subuh tadi tidur di kursi kayu, terus aku ikutan tidur di sofa! Serius aku ngantuk banget. Sekarang dia berangkat kerja kayaknya! Pagi-pagi udah ngilang, aku mau lanjut tidur malah kamu ke sini.." Terang Beni.


"Ini hari Sabtu! Dia libur Ben.. Jadi dia enggak ada di rumah?"


Beni agak kaget. Dia lupa kalau hari ini adalah hari Sabtu! Buat kaum jomblo, apalah artinya nama-nama hari. Semua sama aja! Ngapain inget ini hari apa, enggak ada yang mau diapelin juga,


"Lha kalau enggak kerja, terus dia kemana dong?" Giliran Beni yang kebingungan dan balik bertanya kepada Parto tentang keberadaan Seno.


"Aku baru nyampe sini Ben, kok malah nanya aku ki piye?!"

__ADS_1


"Ben.. aku khawatir sama Seno lho, hmm... itu orang pasti tertekan banget, coba aku ke rumah emak. Siapa tahu dia nemuin Indah. Kamu mau di sini aja? Nungguin rumah Seno?" Lanjut Parto, dia lalu berdiri dari tempatnya duduk,


"Aku mau pulang, nanti di jalan sambil tak nyari dia.. Siapa tahu dia malah ngopi di tempat mbok Yuni!"


Nangkring lagi di motor untuk mencari Seno, Parto memikirkan gimana sakit dan hancurnya perasaan Seno saat ini. Dia sangat tahu betapa sayangnya Seno pada adiknya, dan gimana berbaktinya Seno kepada orang tuanya. Jika Parto yang dihadapkan dengan masalah ini, dia sendiri enggak yakin bisa melewatinya dengan kewarasan yang terjaga pada tempatnya.


Parto menghentikan laju motornya, dia memperhatikan lapangan yang sekarang tengah disinari matahari pagi. Lapangan yang menjadi tempat Indah dan Seno mengawali kisah mereka.


Pandangan tertuju pada lelaki sebayanya yang duduk diam tanpa melakukan apapun di pinggir lapangan yang ditumbuhi beberapa bunga liar.


"Sen.." Panggil Parto pada lelaki yang dia kenal sebagai Seno.


"Iya," Seno menjawab tanpa menoleh, dari suaranya Seno bisa tahu siapa yang memanggilnya.


"Ngapain di sini?" Parto duduk di sebelah Seno. Tanpa alas apapun, Seno terlihat kacau.


"Kamu ngapain di sini?" Seno ganti bertanya.


"Sen.. Jangan nyiksa dirimu sendiri gini, kamu udah makan?" Enggak mungkin dia udah makan, mukanya terlihat pucat.


"Aku lagi mikir.." Seno berucap dengan suara lirih.


"Mikir apa?"


"Aku sendiri juga enggak tahu To, aku ini mikir apa... Jadi anak enggak bisa nyenengin orang tua, jadi cowok enggak pecus mempertahankan hubungannya. Apa yang aku bisa sebenarnya? Aku merasa jadi manusia produk gagal..." Seno masih melihat ke arah depan, lurus ke depan.. Entah sebenarnya fokusnya ada di mana. Parto prihatin melihat temannya seperti itu.


"Sen.. Jangan putus asa gini lah. Semua ada jalan keluarnya Sen," Parto bisa merasakan kesedihan di tatapan Seno.


"Indah bentar lagi ke sini To.. Aku enggak mau dia ikut tersiksa dengan masalah ini. Dia terlalu berharga buatku, aku enggak mau membuat dia sedih bahkan menangis karena semua ini, bener kata Beni.. Semakin aku mempertahankan Indah di sampingku, aku malah akan membuat dia semakin tersiksa. Aku yang salah karena udah janjiin dia segala hal yang nyatanya enggak bisa aku wujudkan." Seno memejamkan matanya sesaat.


"To.. selama aku pacaran sama Indah, aku enggak pernah sekalipun bertindak enggak sopan ke dia. Aku pernah cium kening dia, pernah cium pipinya, tapi enggak pernah lebih dari itu.. Maaf untuk semua itu," Seno berdiri.. Terhuyung. Mungkin masalah ini benar-benar menekan mental seorang Seno.


Ternyata dia mendengar suara motor yang sangat dia kenal. Indah datang. Dia sendiri, berjalan mendekati Seno, menyiapkan hati untuk mendengar apapun yang akan disampaikan Seno kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2