Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Nini Kunti vs Titisan Gerandong 2


__ADS_3

Beni tersenyum simpul, dia merasa mahkluk di depannya ini musti di kasih sedikit pelajaran tentang namanya kesabaran.


"Mbak.. kalau seumpama aku yang di posisimu,


aku pesen sate terus tak tinggal minggat.. kesini lagi asal nyerobot bagian sampeyan, itu rasane atimu piye Mbak?" Beni berucap tanpa tahu yang di hadapi ini adalah Nini kunti yang pernah dia senggol di pesta pernikahan Mela tempo hari.


"Ya artinya kamu lanang (cowok) enggak tahu malu! kamu enggak tahu peribahasa ladies first?? Enggak tahu ya? Pasti enggak tahu lah, kamu keknya keseringan idup di gua ama temenmu itu!" Shela menunjuk jarinya ke arah Parto. Parto yang sedari tadi diem hanya tersenyum saja saat Shela menunjuk-nunjuk dirinya.


Hadapi dia Ben.. Cuba aku pen lihat kamu bisa enggak lawan cewek amazing satu ini.


"Tahu gini mending aku minta Mbakku aja yang beli sate, lha piye ladies first di bawa-bawa kok..! Mbak.. kamu ini mok ya jangan menyalah gunakan peribahasa, udah salah ngenyelan! Mending penjual satenya kamu suruh jualan di depan rumahmu aja Mbak.. jadi enggak bikin orang emosi gini."


"Kamu itu cowok model apa hah? mau makan sate aja nyuruh-nyuruh Mbakmu yang beliin! enggak tahu malu! Lagian aku salah apa di sini? aku beli kok, enggak nodong.. aku bayar pake uang kok, enggak gratisan! enggak ngasih daun juga sama Cak Irun!" Shela kok di lawan.


"Iya Mbak tahu.. aku enggak masalahin dengan apa kamu bayarnya! Tapi mok ya liat situasi to.. dari tadi aku sama temenku ini udah ngowoh di sini. Nunggu pesanan kita di buatin tapi, Mbak datang ujuk-ujuk main rebut jatah kita lho. Enggak sopan banget itu!"


"Aku juga nunggu kok! Aku kan udah bilang, aku tadi udah pesen duluan! Bahkan lebih dulu dari kelian. Terus aku pergi bentar buat isi bensin! Kamu enggak ngerti ya aku ngomong dari tadi? Aku nunggu tapi beda tempat, intinya aku juga ikut nunggu pesananku di buatin sama Cak Irun!," Gass Shel.. Gass Jan kasih kendor!


Parto makin tersenyum dengan jawaban Shela. Dia itu bisa banget matahin argumen orang. Keknya dia udah terlatih buat hal-hal seperti ini. Beni aja sampai geleng kepala.


"Oke gini aja, Cak.. ini satenya masih apa enggak? kita tadi pesen lima puluh ribu kan? Masih bisa bikinin buat aku sama temenku ini enggak?" Beni mulai mengalah.

__ADS_1


"Maaf Mas.. Sate yang di bawa Mbak Lala ini yang terakhir. Udah habis!" Ucap penjual sate yang di panggil Cak Irun itu.


"Guambleh.. setengah jam lebih kita di sini To, cuma dapet angin aja. Wareg (kenyang) kamu To dari tadi duduk di situ aja? Di ajak cari ke tempat lain enggak mau, malah dapetnya capek doang!" Lho lho lho Beni kok ngomelnya ke Parto.


"Kamu ini selain enggak mudengan ternyata juga enggak tahu terimakasih ya? Temenmu aja dari tadi diem aja kok kamu ngecipris wae, harusnya kamu bilang terimakasih sama temenmu itu! Udah sabar temenan sama orang emosian kayak kamu.. enggak habis pikir aku! Ada orang kayak kamu!" Shela berjalan ke arah motornya. Meletakkan sate yang dia beli di dasboard motornya.


"Mbak ini kok nyolot banget to? Emang aku ganggu kamu apa? kita aja baru sekali ini ketemu tapi keknya punya dendam banget sama aku!" Beni belum menyadari kalau cewek yang di ajak adu mulut itu adalah Shela.


"Kamu lupa sama aku? Wah wah wah.. Heh Mas Parto, kasih tahu temenmu itu aku siapa?!" Ucap Shela sambil duduk di atas motornya. Menurunkan masker yang dia pakai dan membuat Beni mengernyitkan keningnya. Ada penekanan saat Shela menyebutkan nama Parto di sana.


"Dia cewekku Ben hahahha" Ucap Parto tertawa tanpa beban. Beni dan Shela mendadak melotot ke arah Parto. Walah mendapat tatapan dari dua makhluk dari dunia wekaweka ini membuat Parto merinding. Atmosfer berubah jadi horor.


"Jangan ngarang kamu! Kamu ini sama aja enggak warasnya dengan temenmu itu!" Shela melotot ke arah Parto. Makin kesal dia sama lelaki satu itu.


"Kamu kebanyakan kena asap sate keknya makanya jadi berhalusinasi kayak gitu, silahkan bermimpi untuk mewujudkan kisah ngarangmu tadi!" Shela menaikan lagi maskernya ke tempat semula. Menutupi mulut serta hidungnya.


Parto kembali ngakak karena ucapan Shela dan melihat Beni yang makin plonga-plongo. Dia merasa seperti orang asing di sini. Di antara Shela dan Parto maksudnya.


"To.. ini cewek yang di nikahan Mela kemarin itu kan?" Tanya Beni kepada Parto. Parto hanya tersenyum dan mengangguk saja menjawab pertanyaan Beni.


"Kok kamu bisa akrab sama dia To? Ya Allah To, kagum aku sama kamu.. temenmu enggak ada yang normal ternyata hahaha" Mendengar ucapan Beni, Shela yang tadinya udah mau pulang jadi mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Heeeh kamu! Siapapun kamu, denger ini baik-baik.. Aku bukan temannya Parto itu! Aku enggak suka manggil orang yang enggak aku kenal pake embel-embel 'mas mas mas' , Ora sudi, dan aku enggak se akrab itu dengan dia sampai kamu nobatin aku sebagai temennya temenmu itu!"


Beni merasa cewek yang sekarang duduk di atas motor matic itu sangat menarik. Dia mendekati Shela. Parto yang melihat itu hanya diam.


"Mbak.. kamu enggak mau berbagi sate sama kami gitu? Makan di sini bareng kita?" Ucap Beni sambil tersenyum.


"Ora sudi! Minggir opo tak tabrak?!"


Parto makin ngakak karena Beni benar-benar mendapatkan lawan yang lebih tangguh dari dia.


"Ben udah Ben, biarin dia pulang.. kesian udah malem. Dek.. salam buat ibu kamu ya! Kamu hati-hati di jalan, apa perlu aku anterin sampai rumah hmm?"


Shela tak bergeming dengan ucapan Parto. Dia menghidupkan motornya dan langsung mengajak motor maticnya itu pergi menjauh meninggalkan dua lelaki yang bikin moodnya anjlok malam itu.


"To.. kamu bisa-bisanya kenal sama cewek model kek gitu, enggak ada manis-manisnya sama sekali!" Beni berucap seperti itu setelah kepergian Shela dari hadapan mereka.


"Piye? Naksir opo kowe hmm.. (gemana? naksir apa kamu hmm..)"


Beni kembali berjalan mendekati motornya yang terparkir di samping motor Parto yang sedari tadi di jadikan Parto tempat duduknya.


"Tipeku bukan bar-bar kayak gitu To, serem aja. Kalau ngomong kayak petasan banting gitu."

__ADS_1


Dan keduanya tertawa, Beni dan Parto akhirnya memutuskan pulang saja tanpa membawa hasil apapun. Udah kenyang sama kepulan asap bakaran sate dan ocehan Shela aja.


__ADS_2