
Shela turun dari motor ayam yang dipakai Parto untuk membonceng dirinya, dengan kencang dia mengetuk pintu rumah buleknya guna mencari keberadaan Jamal.
Setelah menikah, Jamal masih tinggal bersama orang tuanya. Hal itu juga yang membuat Mela enggak betah di rumah mertuanya, karena mamanya Jamal menganggap segala sesuatu yang Mela lakukan di rumah itu selalu salah. Harus selalu diingatkan tentang ini dan itu, Mela merasa enggak bebas.
Menunggu si pemilik rumah keluar dari kediamannya, Shela melihat ke arah Beni. Mukanya terlihat sekali kalau ini manusia satu kurang istirahat. Sesekali Beni mengusap matanya sendiri, entah mau menghilangkan kantuk atau menghilangkan pikiran yang lain, yang pasti saat ini hatinya enggak tenang sebelum menyelesaikan masalah yang membuat dirinya viral.
"To, koncomu kui mau wes mok kei mangan durung? kok koyok lemes men?" (To, temanmu itu tadi udah kamu kasih makan belum? kok seperti lemes banget?)
Parto ikut memperhatikan Beni, seakan tahu dia sedang di ghibahin pasangan ngadi-adi itu Beni membuang muka. Untuk saat ini dia malas menanggapi candaan apapun.
"Udah tadi La.. kamu enggak tanya aku udah makan apa belum? Aku juga lemes ini La," Parto mencoba mencairkan suasana.
"Kamu enggak makan seminggu juga masih gitu-gitu aja To, malah bagus bisa ngirit beras!" Shela emang nyeleneh banget jadi cewek.
Kembali mengetuk pintu, Shela berharap Jamal benar ada di rumah seperti informasi yang Jamal sampaikan tadi sebelum mereka semua nyamperin dia ke sini.
Pintu terbuka, Jamal yang tadinya tersenyum untuk Shela menjadi menekuk mukanya saat melihat Beni.
"Ngapain ke sini bawa pasukan Shel?" Tanya Jamal memandang muak ke arah Parto dan Beni.
"Jelasin ke Beni, kamu nuduh dia ayah dari anak yang Mela lahirin. Kamu ada bukti?" Ogah buang waktu, Shela langsung bilang maksud dan tujuannya datang ke rumah Jamal.
Tanpa mempersilahkan para tamunya masuk, Jamal malah menyelipkan sebatang rokok ke mulutnya. Shela merasa sedang diacuhkan oleh makhluk di hadapannya ini, dia merasa makin kesal.
"Kamu punya kuping buat apaan? Denger kan aku ngomong apa tadi?" Shela memasang muka serius.
"Emang dasar banci! Gede omong doang, giliran ditemui diem aja! Cuba ngomong apa yang udah kamu tuduhin ke aku? Sini maju!" Tantang Beni yang udah enggak bisa nahan emosi di dadanya saat melihat Jamal seakan meremehkannya.
__ADS_1
"Emang iya itu anak Mela anak mu kan? Udah kamu jenguk belum, noh di rumah sakit noh? Buruan samperin! Bapak macam apa kamu punya anak bercecer aja enggak tahu?!"
Kalimat Jamal terang saja membuat Beni makin emosi, saat itu juga Beni merangsek ke depan Shela, dan Jamal yang masih di ambang pintu rumahnya akhirnya mendapat 'salam' dari tamunya, sebuah tinju yang Beni layangkan berhasil mengenai muka Jamal. Jamal tak sempat mengelak karena gerakan Beni sangat cepat, alhasil dia jatuh karena hantaman keras yang Beni lancarkan.
"Kalau ngomong dijaga! Aku enggak pernah sekalipun ngeloni bojomu! Ojo sangger njeplak nek ngomong!" (niduri istrimu! jangan asal mangap kalau ngomong!).
Shela diam saja meski tahu yang di hajar Beni adalah sepupunya. Dan seperti sudah tahu hal ini pasti terjadi, enggak ada niat sedikitpun di hati Shela untuk membantu Jamal meski sekedar untuk berdiri.
Setelah bangun, Jamal menggebrak pintu rumahnya, emosi juga melanda jiwa seorang Jamal rupanya.
"Kalau kamu merasa yang dilahirin Mela bukan anakmu, lalu kenapa Mela namain anaknya Bela? Bela yang aku tahu pasti singkatan dari nama mu dan dia! Ciiih,,, kalau kamu marah, aku lebih bisa marah!! Kalau kamu emosi aku juga bisa!!" Jamal bersuara keras. Seakan ingin meluapkan apa yang dia rasakan.
Beni memandang remeh. Toh nyatanya, dia sendiri juga enggak ada sangkut pautnya dengan bayi atau nama bayi Mela tapi bisa dituduh sebagai ayah dari bayi yang sekarang dia tahu bernama Bela itu.
"Enggak usah muter-muter kalau ngomong Mal! Aku ke sini sama Beni cuma mau tahu kenapa kamu bilang anak Mela itu hasil kerja Beni?" Shela emang enggak suka berbelit-belit.
Shela dan Beni diikuti Parto berjalan ke dalam rumah yang bisa dikatakan wah itu. Orang tua Jamal memang kaya dan terpandang di desa mereka. Alasan itu juga yang mungkin membuat bahan pertimbangan Mela dan keluarganya untuk menerima pinangan Jamal dulu.
Jamal datang dengan melempar buku, sejumlah gambar, ponsel dan jaket. Jaket itu terasa tak asing untuk Beni,
"Ini...?" Beni meraih jaket itu terlebih dahulu.
"Kenapa? Kenal?? Hafal dong pasti? Iya lah... itu punyamu kan? Jaket itu dia pakai setiap hari, aku pikir dulu dia sengaja membeli jaket itu buatku. Hahaha lucu sekali, aku berharap untuk seorang yang enggak bisa melupakan mantannya! Baru aku tahu kalau jaket itu punyamu saat aku pakai jaket sialan itu dan mengantar Mela ke rumah orang tuanya! Di sana aku kaget saat ayahnya Mela bilang, jaket itu mirip dengan kepunyaan mantan pacar Mela. Aku bisa apa saat mertuaku sendiri aja hafal apa yang mantan anaknya pakai! Di situ aku langsung melepas jaket sialan itu. Ingin membakarnya tapi, Mela begitu menyayangi apapun tentang kamu!!"
Semua orang diam di sana. Masih memberi waktu Jamal untuk melanjutkan penjelasannya, Shela membuka buku yang tadi Jamal lemparkan. Di sana nampak tulisan dan beberapa foto, foto Beni. Hanya Beni dan Mela. Shela membaca satu persatu coretan di buku itu. Dan Parto.. ah dia hanya satpam di sini, lupain dulu mamas satu ini. Jan tanya dia ngapain!
Mas.. rasanya aku enggak bisa tanpamu. Semua aku lakuin karena paksaan ayahku, Mas aku sesak tanpamu, tolong aku!
__ADS_1
Salah satu coretan di buku itu. Mela melihat ke arah Beni, seakan berkata 'Lihat ini'.
Maafin aku mas.. aku khianati kamu! Aku khilaf.. aku dipaksa. Aku enggak bisa terus denganmu dengan kondisiku seperti ini, aku bukan Mela yang dulu lagi. Dia mengajakku terlalu jauh.. jauh sampai aku enggak kenal diriku sendiri, aku enggak pantas buatmu mas.
Beni membaca bagian itu, pikirannya terbang ke waktu di mana Mela memutuskannya. Tapi, ini bukan alasan! Ini bukan alasan untuk Jamal seenak jidatnya menuduhnya sebagai ayah dari anak Mela.
"Lalu apa? Aku enggak pernah sekalipun nyentuh dia! Kamu yang udah rasain perawannya kenapa malah nuduh aku yang enggak-enggak?" Beni memandang sinis tanpa rasa kasihan sedikitpun ke arah Jamal.
"Ya emang aku yang udah rasain dia pertama kali! Tapi, aku enggak yakin setelah itu kamu enggak ikut nyelupin barang mu ke sana! Kamu lihat betapa dia nyimpen semua tentangmu? Bahkan dia dengan gamblang bandingin rasanya berciuman denganmu lebih bisa bikin dia bergai_rah dibandingkan denganku! Aku suaminya tapi, dia bandingin hal kayak gitu dengan kamu yang jelas adalah mantannya! Laki-laki manapun di muka bumi enggak akan bisa sabar hadapi istri yang seperti itu!"
Beni berang. Sekate-kate itu Jamal nuduh dia suka celup-celup!
"Heh! Jaga ucapan mu! Kalau enggak punya bukti enggak usah fitnah!!" Akhirnya Parto masuk juga ke dalam cerita. Dia bersuara untuk membela Beni yang tertindas secara batin.
"Bukti apa lagi? Itu masih kurang? Aku nyentuh dia cuma dua kali, enggak mungkin banget kalau baru dua kali berhubungan bisa jadi anak! Pasti temenmu itu juga ikut rasain apa yang aku rasain!"
Plaaaaak!
Sebuah tamparan keras bersarang di pipi Jamal. Kali ini Shela yang melakukan perbuatan mulia itu. Sudah dipastikan pipi Jamal terasa perih saat ini.
"Gunain otakmu untuk berpikir! Selama menikah, Mela pernah pergi dari sini? Bertemu Beni? Pernah lihat mereka bersama? Kamu tahu, aku sangat benci dengan penghianatan!? Dan kamu lakuin itu disaat istrimu hamil! Kamu tuduh dia selingkuh, atas dasar apa? Hanya kepingan memori tentang Beni yang Mela simpan di pikirannya enggak bakal bikin dia hamil anak Beni? Kalau bodoh jangan kebangetan!!"
Jamal enggak terima dihina kayak gini. Dia merasa paling terjolimi kok. Istrinya mengabaikan dia duluan, apa salahnya kalau dia mencari kepuasan lain? Apa salahnya kalau dia juga balikan dengan mantannya? Emang yang punya mantan Mela doang! Apa yang enggak Jamal turuti untuk Mela? Bahkan sebelum tahu Mela hamil, Jamal udah getol ngajak Mela nikah, dia ingin bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Tapi, apa yang dia dapat setelah menikah? Dia terus dibandingkan dengan Beni, yang dia tahu adalah mantan kekasih istrinya. Yang lebih keterlaluan, Mela pernah nyebut nama Beni saat berada di bawah kungkungannya. Ya, hal itu yang membuat Jamal membenci Beni. Dia merasa kalah dengan orang yang dia enggak kenal sebelumnya. Itulah yang menjadi alasan Jamal menuduh anak Mela bukan darah dagingnya. Dia berfikir, Beni pun pasti juga pernah melakukan hal serupa dengan Mela tanpa sepengetahuannya.
"Jadi kamu bela mereka Shel?"
Tanya Jamal dengan muka merah padam.
__ADS_1