Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Mati Lampu


__ADS_3

Shela tidak bergeming meskipun di luar hujan turun sangat deras. Hatinya belum tergerak untuk sekedar mempersilahkan Parto masuk ke dalam rumah. Dia juga tidak peduli Parto di luar lagi apa atau ngapain aja di sana.


Masih di dalam rumah, Shela berniat masuk ke dalam kamarnya. Mendadak listrik padam. Mungkin karena hujan yang cukup deras mengakibatkan aliran listrik terputus. Dia mencari dimana tadi dia meletakkan hpnya, meski masih sore tapi karena listrik padam membuat rumah Shela menjadi gelap karena minim pencahayaan. Kayak di gua aja ya, sampai minim pencahayaan.


Saat berjalan ke ruang tamu, pandangan mata Shela tertuju pada lelaki yang berada di halaman rumahnya. Mencoba menghidupkan motor yang dia pakai menuju rumah Shela, meski di bawah guyuran hujan. Seakan enggak peduli dengan derasnya hujan yang sekarang mengguyurnya. Shela memperhatikan Parto dari dalam rumah, dengan baju basah kuyup dan sesekali menyeka air hujan yang jatuh ke mukanya, dia jadi teringat beberapa hari yang lalu juga mengalami hal seperti itu. Dan Parto lah yang menjadi penolongnya saat itu.


Itu orang kok hobi banget nyusahin diri sendiri, udah tahu hujan malah mau pulang. Main ujan-ujanan kek gitu. Bener-bener aneh! menyiksa diri sendiri!


Seenggaknya itu yang ada dipikiran Shela. Dia enggak sadar diri jika sikapnya yang acuh itu lah yang membuat Parto jadi 'nyusahin diri sendiri' seperti itu. Shela berjalan menuju pintu rumah, mengambil dua payung yang ada di pojokan dekat rak sepatu.


Berjalan ke luar rumah untuk menghampiri Parto, Shela menatap Parto yang menyadari hadirnya. Parto menghentikan usahanya menstarter si ayam. Memperhatikan Shela yang sekarang memberikan sebuah payung lipat kecil untuknya. Keduanya masih terdiam di bawah guyuran air hujan. Parto menerima payung yang Shela berikan. Meski dia tahu, payung itu sudah kehilangan fungsi karena sekarang saja badannya sudah basah kuyup. Tapi, demi menghargai Shela.. Parto tetap mengambil payung yang Shela berikan.


"Masuk.." Hanya satu kata yang Shela ucapkan.


Hah? aku enggak salah dengar.. Shela ngajak aku masuk ke rumahnya? nyampe dalam rumah pesti aku disuruh ngepel, nyapu, atau mungkin ngosek (nyikat-nyikat) wcnya. Aach aku kok makin merinding bayanginnya.


Tetap diam.. Parto hanya mengangguk menuruti perkataan Shela, dia berjalan mengikuti langkah kaki Shela. Tapi, saat berada di teras.. Parto menghentikan langkahnya. Dia stay di situ. Sedangkan Shela, dia memandang Parto dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu mau diem saja di situ?" Shela menutup payungnya. Meletakan lagi di tempat semula, Parto masih terdiam. Entah, dia sendiri enggak tahu musti ngapain. Dia hanya takut salah bicara dan membuat Shela mode reognya on lagi.


"Kamu ini ditanyain kok enggak jawab! Kamu kenapa?" Mulai kesal. Nah kan Shela tu kayak gitu, semua terlihat salah di matanya. Ngomong salah, diem lebih salah lagi. Hanya dia yang benar.


"Maturnuwun.. udah di ijinkan berteduh, aku di sini aja." Parto masih enggan untuk masuk ke rumah Shela.


"Kenapa? kenapa di luar aja? mau cari simpati ibu, biar nanti kalau ibu pulang dan lihat kamu kayak gitu.. keujanan, basah, dan ada di luar rumah.. biar aku yang disalahin ibu, gitu?! Niatmu buruk banget ya.. kesini cuma mau cari perhatian aja! kamu ini.."


"Menengo! (diem!)" Satu kata itu berhasil membuat Shela bungkam. Parto mendekat ke arah Shela berdiri, masih di depan pintu rumah. Mereka saling berhadapan, hanya memandang tanpa berucap apapun.


"Ini buat kamu, masuk.. aku di sini aja. Aku bukan cowok seperti yang ada di pikiranmu! Nanti saat hujannya reda aku langsung pulang." Parto menyerahkan buah apa aja ada di plastik untuk Shela. Shela terdiam. Baru kali ini Shela kicep di hadapan seseorang. Menerima bingkisan dari Parto, Shela masih memandang Parto tapi sesaat kemudian dia membuang muka. Enggak mau terlalu lama dalam situasi yang enggak nyaman itu, Shela memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan membawa bingkisan itu bersamanya.


Shela berusaha menyadarkan pikirannya kalau semua orang itu sama saja. Baik di luarnya, baik saat ada maunya, baik di awalnya saja.. setelah itu mereka akan menunjukkan wujud aslinya. Membuka topeng yang mereka pakai, memperlihatkan niat mereka yang sesungguhnya. Semua orang itu pamrih, kecuali ibunya. Ibu yang selalu membuat dia bisa kuat hadapi gempuran mulut tetangga, selalu ada untuknya kapanpun.


Bunyi gelas pecah itu gimana sih? pyaaaar gitu ya? Ya pokoknya sekarang bayangin aja ada bunyi gelas yang jatuh dan pecah. Mendengar ada keributan di dalam rumah Shela, Parto


bergegas masuk ke dalam rumah. Yang tadinya dia masih santuy duduk di teras rumah Shela.

__ADS_1


"Awas jangan lewat situ, itu ada pecahan..."


Belum selesai Shela bicara, Parto yang masuk ke rumah dalam keadaan basah dan rumah yang gelap membuat dia terpeleset jatuh di lantai. Naasnya lantai tempat dia terjatuh itu ada pecahan belingnya. Telapak tangan Parto yang secara refleks ingin menopang tubuhnya saat terjatuh malah terkena pecahan beling. Sakit? Jangan tanya.. rasanya luar biasa dan pasti berdarah. Parto bukan Hulk yang akan baik-baik saja meski terkena lontaran timah panas.


"Kan aku udah bilang jangan lewat situ.. kamu enggak apa-apa?" Shela belum menyadari kalau tangan Parto sekarang terluka karena terkena pecahan gelas. Shela mengambil lilin yang berada di meja, mengarahkan ke Parto. Untuk memastikan tamunya itu baik-baik saja. Tumben peduli!


"Aku enggak apa-apa.." Parto berdiri. Merasakan perih dan ngilu di telapak tangan kanannya, dia belum melihat bagaimana keadaan tangannya sekarang. Yang pasti, rasa sakit itu mendominasi.


"Kamu tadi ngapain kok sampai ada gelas pecah di situ?" Parto mengamati Shela yang sekarang mengambil sapu dan kain pel. Diam, Shela enggak menjawab pertanyaan Parto. Dia memicingkan matanya.. kaget saat matanya melihat ada cairan merah yang ada di lantai.


"Kamu terluka?" Ucap Shela menghampiri Parto.


"Kamu.. kamu kena beling itu?" Tanya Shela sekali lagi. Parto tersenyum tanpa mengiyakan.


"Kita beresin itu dulu, kesihan nanti ibu kamu kalau pulang.. bisa-bisa beliau terkena pecahan beling itu," Parto melihat tangannya, dia melihat ada satu beling kecil yang masih menempel di sana. Dia mencabutnya, tangannya gemetar karena terasa perih dan nyut-nyutan.


Listrik akhirnya menyala, Shela juga sudah selesai membersihkan keributan yang ada tadi dia buat. Dia segera mencari kotak p3k yang ada di lemari menyadari bahwa Parto saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saat menemukan kotak yang berisi obat luka, plaster, dan kawan-kawannya itu, Shela segera menuju ruang tamu. Tapi, saat dia berada di sana Shela tidak menemukan Parto. Lho.. kemana itu orang?

__ADS_1



__ADS_2