Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Parto Kepo


__ADS_3

Di rumah Parto, Emak dan Bapak yang baru pulang kondangan langsung masuk ke dalam rumah. Indah dan Parto mencium tangan kedua orangtuanya, kebiasaan yang sekarang mungkin sudah langka di temui di masyarakat kita.


"Lho Ndah itu kok ada martabak telur juga, siapa yang beli?" Tanya Emak kepada Indah.


"Tadi Mas Seno yang beliin Mak" Jawab Indah sambil membereskan gelas kopi dan sisa martabak yang ada di meja.


"Ini Emak juga beli.. Lah bisa samaan gini ya"


Emak menaruh sebungkus martabak telur yang di belinya di meja.


"Astaghfirullah.. martabak endog lagi? Kenapa hari ini orang-orang pada suka beli martabak telor. Yang jual pasti bahagia banget itu, serasa dapet durian runtuh"


"Kalau kamu sudah kenyang ya enggak usah ikut makan To, pake bawa-bawa yang jual martabak segala. Dia enggak tahu apa-apa kamu ghibahin juga" Kata Emak sambil menaruh martabak itu di piring yang Indah bawakan dari dapur.


"Ndah.. ke depan bentar aku mau ngomong"


Ucap Parto yang melihat Indah beranjak menuju kamarnya.


"Ada apa Mas, aku udah ngantuk ini" Jawab Indah enggan menuruti ajakan Parto untuk bicara berdua di teras. Indah memilih masuk ke kamarnya.


"Ono opo To, kalau ada yang penting bisa di omongin di sini. Biar semua dengar" Bapak pun ikut bersuara juga akhirnya.


"Hmm enggak penting juga kok Pak, ya udah aku tak ke kamar aja Pak. Udah blengeren makan martabak tadi"


Parto meninggalkan kedua orangtuanya yang duduk di ruang tamu sambil menikmati martabak yang mereka beli tadi.


Sampai di kamar Parto menyalakan hapenya, membuka aplikasi pacebuknya. Melihat postingan orang-orang di sana, ada yang memamerkan pacar baru, pasangan baru, kendaraan baru, bahkan yang baru beli daleman barupun di pamerkan di sana.


Berbagai postingan curhat tentang keluhan kehidupan mereka pun banyak terpampang di sana. Parto dulu juga seperti itu, sering memposting apapun yang dia alami setiap hari di real lifenya. Tanpa filter pokoknya, semua di bahas di aplikasi itu. Tapi, semakin kesini dia menyadari hal itu sudah tidak penting lagi. Apa ada orang yang peduli dengan kesusahan yang menimpanya kalaupun dia berbagi di sana? Tidak. Apapun yang di posting Parto malah akan jadi bahan ghibahan tetangga dan orang-orang yang mengenalnya.


Ya memang seperti itulah realitanya, makanya Parto putuskan menjadi sider sejati saja. Hanya menyimak apapun yang mereka unggah di aplikasi itu. Tanpa berkomentar, tanpa menggurui, tanpa ikut-ikutan meramaikan dunia halu tersebut.

__ADS_1


Parto menyudahi penjelajahannya di dunia maya. Dia menggeser ke aplikasi lain, we'ah (WA). Nomer Indah menjadi sasaran pertama yang dia cari. Dia ingin menuntaskan rasa penasaran yang sedari tadi ada di hatinya.


Parto: Ndah


Belum di balas, di read juga enggak. Mungkin Indah udah tidur beneran. Pikir Parto.


Parto: Ndah, aku mau tanya


Indah: Hmm


Wah asyem ni anak satu, masa bales pesanku cuma hmm doang. Setahuku kalau sariawan itu bibir bukan jempol, irit banget balesnya.


Parto: Ndah kamu udah tidur?


Indah: Belum Mas, Ono opo to?


Parto: Ndah kamu suka sama Seno?


Sepuluh menit menunggu, Indah tidak membalas pesan dari kakaknya.


Parto: Ndah, ooee bales! Kamu suka ya sama Seno?


Parto kesal, ini kalau masih siang dia bakal gedor kamar adiknya dan menanyakan langsung apa yang dia kepoin kepada Indah.


Di belahan desa lain, Seno memutuskan untuk mengirim pesan kepada Indah. Mau laporan kalau dia sudah pulang, sampai rumah, sudah mandi, makan dan tetap ganteng. Yang terakhir enggak penting enggak di baca juga enggak apa-apa.


Seno: Dek, Mamas udah sampai rumah. Mau tidur kok ke inget kamu terus ya


Indah: Panggilnya Indah saja Mas, kok aneh ya kalau di panggil dek. Alhamdulillah sudah sampai ya Mas. Istirahat ya udah malem juga jangan begadang.


Wah wah.. Pesan yang Indah kirim untuk Parto dan Seno kok banyak sekali perbedaannya ya. Waktu membalas pesan Parto, Indah seperti ogah-ogahan. Berbeda saat dia membalas pesan Seno. Panjang, penuh perhatian di sana.

__ADS_1


Seno tersenyum mendapat balasan dari Indah.


Ini dada kenapa rasanya seperti ada kembang apinya ya, deg-deg ser saat baca pesan dari kamu Ndah. To, siap-siap aja kamu jadi kakak iparku. Pokoknya aku enggak kasih kendor mepet kamu Ndah.


Seno: Makasih Dek, tapi maaf aku tetap akan manggil kamu seperti ini. Membiasakan diriku sendiri nanti kalau kita sudah halal nantinya.


Enggak di balas. Apa aku terlalu buru-buru ya bilang ini ke Indah, ach jangan sampai Indah ilfeel gara-gara pesanku tadi.


Seno: Maaf Ndah, kalau aku salah ngomong.


Enggak di bales, di read aja. Waduh gimana ini. Apa aku kesana saja? Tapi ini udah malem. Apa aku hubungi memedi ( yang di maksud Parto) itu aja, tanyain Indah udah tidur apa belum.


Ah kok jadi enggak tenang gini.


Seno mencoba menghubungi Parto lewat panggilan video.


Seno: Assalamualaikum ya ahli kubur..


Parto: Waalaikumsalam, Njiir bisa enggak itu salam enggak usah di kasih embel-embel ahli kubur. Apa? udah malem aja masih telpon-telpon aku, sekangen itu kamu sama aku? enggak bisa nunggu besok hah?


Seno: Hahaha santai To, maaf aku cuma mau tanya Indah udah tidur belum ya? kalau belum boleh enggak ini telepon kasih ke dia?


Parto diam, berfikir.. Emang Parto bisa mikir? Bisa, Parto juga termasuk manusia cerdas kok. Enggak se dudul itu.


Parto: Kamu pikir aku jongosmu (pembantumu), seenaknya kamu suruh-suruh. Udah tidur kali dia, lagian kenapa kamu enggak telepon ke nomernya saja. Menyusahkan saja!


Seno: Ya udah kalau gitu To, udahan aja pidio kolannya (Video call nya). Aku tahu kamu sudah susah dengan segala beban hidupmu, aku enggak mau menambahinya dengan menyuruh melakukan hal sepele tadi. Oiaya itu muka kok glowing amat To, kamu cuci muka pake minyak sisa martabak tadi ya hahaha?


Parto: Koyo rupamu bagus-baguso mono kowe Sen, minggat kowe. Odak usah telpon aku neh! (Kaya wajahmu ganteng aja kamu Sen, pergi kamu. Enggak usah telepon aku lagi)


Parto memutuskan panggilan telepon dari Seno tanpa salam.

__ADS_1


Pengen rasanya aku tuker tambah itu mulut Seno, sama aja kek Beni. Kalau ngomong enggak pake filter. Mending tu mulut di taroh di pegadaian aja, lebih bermanfaat.


Kenapa di taruh di pegadaian? Parto berfikir mulut Seno seperti BPKB kali ya, yang bisa di gadaikan di sana.


__ADS_2