
Hanya menempelkan keningnya di kening Shela. Enggak ada yang ingin Parto lakuin selain hal itu, dia tahu batasan. Shela juga terlalu berharga untuknya. Parto ingin, saat bibir mereka bertemu untuk kedua kalinya, bukan dirinya yang memaksakan kehendak, atau karena dia aja yang mau tapi Shela terpaksa melakukan karena tekanan darinya. Jelas, Parto enggak ingin kepercayaan yang susah payah dia dapatkan dari Shela menguap begitu saja karena hal tak masuk akal yang sebenarnya dia sendiri juga sangat menginginkannya.
"La.. kamu kenapa merem?" Parto tersenyum melihat Shela yang masih memejamkan mata. Momen seperti ini sangat langka buat Parto maupun Shela. Saat keduanya sedekat ini.
Shela membuka matanya perlahan. Jarak mereka masih begitu dekat. Saat itu kewarasannya kembali. Dengan kesal, dia memundurkan badannya. Jari telunjuknya menyentuh dada kiri Parto untuk mendorong pria itu agar menjaga jarak darinya.
"Aku suka lihat kamu dari jarak sedekat tadi La... kamu tahu, tadinya aku mau cium bibir kamu. Hahahaha nyeleneh ya? Tapi, iya itu yang aku pikirin tadi. Maaf La.."
Parto memilih jujur dengan apa yang ingin dia lakukan tadi kepada Shela. Dia mengusap mukanya kasar, menghilangkan pikiran nyeleneh yang berseliweran di otaknya.
"Kamu kenapa?" Tanya Shela kebingungan.
Tahukah kamu, aku sedang menahan diri untuk enggak meraup wajahmu dan membungkam bibirmu itu dengan ciuman yang aku sendiri juga belum pernah melakukannya. Dan kamu tanya aku kenapa? Mungkin benar... separuh bahkan seluruh akal sehatku hilang saat bersamamu.
"To.. aku tanya kamu kenapa? bukannya jawab malah lihat aku kayak gitu," Kembali Shela berseloroh.
"La.. kamu tahu aku sayang kamu?"
Shela mengangguk.
"Kamu tadi denger kan apa yang aku ingin lakuin saat kita sedekat 0,5cm?"
Kembali Shela mengangguk. Tapi, kali ini anggukan itu disertai senyuman maut yang bikin hati Parto berasa lumer seperti brownies buatan Shela.
"Terus kenapa kamu tanya kenapa? Kamu mau mancing supaya aku lakuin hal-hal diluar batas mu. Dan buat aku kena gampar jari lentik mu?"
Kali ini Shela tertawa.
"To... kamu sekarang makin berani ya, dulu kamu enggak kayak gini lho."
"Iya La... maafin aku, aku enggak bakal kayak gitu lagi." Parto tertunduk.
"La.. aku antar kamu pulang ya," Parto berucap sambil mencoba berdiri.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu ngusir aku? Udah dua kali lho ini, ya udah kalau kamu enggak suka aku ada di sini. Kamu enggak usah antar aku, kakimu buat jalan aja susah. Biar aku pulang sendiri!" Shela melengos ke arah lain. Bersiap untuk beranjak pergi.
"Hei.. hei.. jangan bikin aku makin sakit karena jutek mu itu. Siapa juga yang enggak suka kamu di sini? Aku cuma enggak mau kamu makin bete karena pikiran ngawur ku tentang bibirmu itu. Demi apapun La.. sepertinya saat ini puluhan setan pasti sedang mentertawakan kekonyolanku. Aku enggak mau khilaf ku bikin kita menjauh, perasaanku ke kamu aja masih kamu gantung kok, bisa-bisanya otak ini mikir buat cium kamu! Maaf La.."
Parto melangkah terlebih dulu meski dengan terpincang-pincang. Shela tetap diam. Dia menatap punggung Parto yang sekarang mulai menjauh.
"To..." Panggil Shela sedikit berteriak.
Parto menoleh berbalik ke arah shela,
"Iya La... Bentar aku mau ambil sepatu dulu ya. Kamu tunggu di situ aja, di sini panas."
"To!" Sekali lagi Shela memanggil Parto tapi kali ini dengan sedikit membentak.
Parto mengernyitkan keningnya.
"Dalem.. piye La?" Belum juga dia mengambil sepatu yang tadi diletakan di jejeran batu bata, Parto di buat berjalan kembali ke arah Shela.
Shela diam. Parto bingung ini orang kenapa, pas jauh manggil tapi waktu deket diem.
Masih memberi waktu untuk Shela bergelut dengan pikirannya, Parto menarik tangan Shela untuk duduk saja. Kebisuan terjadi antara keduanya.
"To.. kamu tahu kenapa aku belum ngasih jawaban ke kamu tentang pernyataan rasamu ke aku?"
"Tahu, Aku belum pantas buat kamu. Kerjaku serabutan, idup masih numpang orang tua, belum bisa berdiri di kaki sendiri kalau nanti kita sama-sama. Aku masih banyak kekurangan. La.. aku bukan tipe cowok yang suka obral janji. Saat hatiku memilihmu, maka sampai kapanpun kamu lah tujuanku. Aku akan buktiin dengan usaha dan kerja kerasku agar bisa buat diriku pantas untuk kamu."
"Kalau alasannya bukan itu gimana?" Shela bertanya seperti sedang menguji kesabaran Parto.
"Maksudnya La?"
"Kalau seumpamanya aku belum bisa ngasih jawaban dari rasamu karena ada cowok lain, gimana?"
Seakan rasa sakit di kakinya berpindah ke hati. Parto sampai melebarkan pupil matanya mendengar penjelasan Shela. Debaran jantungnya makin enggak karuan. Melihat Shela yang masih belum meneruskan perkataannya tadi, membuat Parto menarik nafas dalam.
__ADS_1
"La... Aku cuma bisa berusaha semampuku, memantaskan diri buat kamu. Jawabanmu enggak mengubah apapun di dalam sini tentang kamu. Rasa ini masih sama. Meski nanti bukan aku yang kamu pilih untuk mengucapkan ijab qobul untuk kamu tapi, kebahagiaanmu nanti akan aku bawa untuk memotivasi diriku agar bisa ikhlasin kamu." Berucap dengan menunjuk dadanya.
Shela menatap sungguh-sungguh lelaki yang ada di depannya. Belum lama mereka berkenalan, ngobrol bareng seperti ini juga bisa diitung dengan jari. Tapi, ada sesuatu yang Shela dapatkan saat bersama dengan seorang Parto. Hal itu adalah kenyamanan. Shela selalu merasa nyaman dan diistimewakan saat bersama Parto.
"To.. maaf aku enggak bisa ngasih kesempatan buat kamu,,"
"Aku udah tebak itu... iya La, enggak apa-apa." Parto memaksakan senyum di bibirnya.
"Seenggaknya ijinin aku buat jadi temen kamu ya La..."
Terdengar memelas. Permohonan kecil dari hati yang sekarang enggak karuan rasanya.
"Aku enggak bisa kasih kamu kesempatan buat ninggalin aku."
"Iya La... Aku paham kalau emang kita enggak bisa... Hah?? Apa La??" Seperti tersadar dengan ucapan Shela, Parto langsung menyunggingkan senyum.
Shela tersenyum melihat perubahan ekspresi Parto.
"La.. kamu bilang apa tadi?" Parto berjalan mendekati Shela yang makin malu-malu karena hatinya seakan dihinggapi ribuan kupu-kupu.
"Aku enggak bisa ngasih kamu kesempatan buat ninggalin aku.. To, tolong buat aku yakin dengan hatiku. Buat aku yakin dengan perasaanku ke kamu, getaran ini ada. Rasa nyaman ini selalu muncul saat aku ketemu kamu,.. aku..."
Ucapan Shela terhenti dengan ulah Parto yang memeluknya erat. Seakan terhipnotis dengan suasana, Shela membalas pelukan itu. Memejamkan mata menikmati momen pelukan hangat di tengah teriknya matahari. Panas mas, mbak... eling wayah lah. Sakno reader podo ngowoh mocone hahaha. (Panas mas, mbak... inget situasi lah. Kesian reader pada ngeces bacanya hahaha.)
"La... maaf untuk yang ini.."
Parto menarik dagu Shela, masih dengan posisi yang sama. Bibir Parto mulai mendekat ke arah tipisnya bibir Shela. Tanpa respon menolak, Shela malah memejamkan matanya...
Siang itu adalah,,, siang yang aah untuk mereka dan kita semua. Terlebih yang nulis, sampai hapus ngetik hapus ngetik ratusan kali. Hahaha.
Thor kenapa enggak dijabarkan cara mereka ciuman?
Saat ada yang bertanya seperti ini, ingin ku suruh reader mulia itu untuk raup pemutih pakean baiklin!
__ADS_1