
Dengan ibu jari yang diusapkan ke ujung bibir Shela, Parto tersenyum. Dia enggak nyangka bisa melakukan hal se emejing tadi dengan perempuan yang sekarang resmi menjadi pacarnya.
Shela bukannya tertunduk malu tapi malah menatap ke arah bibir Parto. Ojo omong jaluk nambah mbak?! (jangan bilang minta nambah mbak?!).
"Kamu amatir,"
Ucap Shela yang membuat Parto melongo. Parto pikir dia bakal melihat senyum malu-malu dari Shela, atau seenggaknya salah tingkah yang Shela tunjukan saat menyudahi acara temu bibir tadi. Tapi, lihat! Dia malah dibilang amatir. Wah wah, ini ni yang bikin seorang Shela selalu beda dari cewek kebanyakan.
"Kamu mau cuba lagi?" Tanya Parto mengerlingkan matanya.
"Aku siap mengulang hal itu terus-menerus nyampe kamu bilang aku pro dalam hal itu!" Imbuh Parto.
"Mimpi aja sana! Lain kali jangan ngajak ciuman di siang hari kek gini, panas!"
Shela memundurkan badannya yang masih berjarak sangat dekat dengan Parto.
"Lain kali? Kamu mau lagi emang?"
Lagi-lagi ucapan Shela membuat Parto tercengang. Dia adalah cewek yang meski sama-sama belum pernah berciuman tapi, enggak malu-malu kucing garong setelah melakukannya.
"Udah hampir sore, pulang aja. Lama-lama di sini pikiranmu makin enggak terkendali."
Shela terlihat santai saat berjalan mendahului Parto.
"La.." Panggil Parto, membuat Shela memutar tubuhnya.
"Aku sayang kamu!" Tambahnya kemudian membuat Shela tersenyum.
"Udah tahu!" Jawab Shela.
"La.. kamu enggak bilang, kalau kamu juga sayang aku? Tega kamu La..." Parto pura-pura menjadi orang yang paling menderita di seluruh desa Wekaweka. Padahal, dia adalah orang yang paling menghappy saat ini.
__ADS_1
"Eleh To, oda usah drama.. bar entok lambeku opo tak imbohi sandalku mbarang iki?" (Eleh To, enggak usah drama... Abis dapet bibirku apa aku tambahi sandalku juga ini?)
Keduanya tertawa. Dan mereka juga memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi bersejarah buat niu kapel itu. (new couple).
Dengan perasaan berflowers di hati masing-masing, Shela minta Parto untuk langsung kembali ke rumah aja. Enggak usah ngantar dia. Shela tahu hari ini pasti sangat melelahkan untuk Parto.
Apa Parto nurut? Tentu, tentu enggak maksudnya. Dia tetap mengantar Shela sampai tiba di rumahnya dengan selamat. Bagi Parto, Shela adalah prioritas. Meski berkali-kali setelah sampai di rumah Shela, Parto diberi kode agar segera pulang.
"Jangan lupa obati lukamu itu, jangan dibiarin.. Hati-hati di jalan"
Pesan Shela untuk Parto saat Parto pamit pulang.
"Boleh minta 'itu' lagi La?" Seperti enggak punya dosa, Parto malah ketagihan dengan aksi mereka di rumah embah tadi siang.
"Aku mau ingetin juga... kalau udah sampai rumah, mandi, keramas! Biar pikiran kotormu ikut ilang bareng air yang kamu guyurin ke kepala!"
Asli, bukan marah Parto malah ngakak. Dia benar-benar menghappy saat ini. Setelah berpamitan juga dengan ibunda Shela, Parto langsung beranjak pergi dari kediaman Shela.
Indah terlihat memarkir motornya di depan tempat fotocopy. Apa kelian tahu?! Indah diam-diam mengirimkan lamaran kerja ke PT tempat Seno juga bekerja. Oowh enggak tahu ya? Ini othor kasih tahu hehehe.
Dengan segala persyaratan yang udah dia penuhi, dia yakin akan lolos dan diterima bekerja di sana.
"Ndah..." Sapa seseorang yang sekarang berdiri di samping Indah.
Mata Indah membulat saat tahu siapa yang menyapanya.
"Mas Bayu?! Eh mas Bayu kok ada di sini? Enggak jadi ke kota mas?"
__ADS_1
Indah sangat antusias saat bertemu dengan Bayu. Dieh, ganjen. Hahaha.
Hanya menyapa kok, apa salahnya?
Protes hati kecil Indah saat tahu dia dighibah othornya.
"Iya Ndah, udah balik ke kota dua mingguan, ini pulang lagi karena ada sesuatu yang musti aku kelarin."
Bayu menarik kursi agar Indah bisa duduk, ehm perhatian sekali.
Mereka berbincang sambil sesekali melempar senyum atau tawa. Indah sampai lupa alasan dia ke tempat fotocopy itu apa.
Masih asyik mengobrol, Indah dikejutkan dengan deru motor yang dia sangat kenal.
Berjalan dengan santai memasuki tempat ber ac itu, Seno langsung mendapat sambutan senyuman dari Indah.
"Kok mas Seno tahu aku di sini?" Tanya Indah saat Seno sudah mendekat kearahnya.
Bayu menatap tajam ke arah Seno.
Pengganggu. Pikir Bayu.
Seno sadar telah dipandang dengan tatapan enggak suka oleh orang yang sedari tadi ngobrol dengan pacarnya. Bukan Seno namanya kalau di kasih tatapan intimidasi aja gentar. Dia malah membalas tatapan Bayu dengan merangkul Indah di depan matanya.
Bayu jelas meradang, tapi dia tetap stay cool.
"Mas Seno kenapa?" Tanya Indah kebingungan karena tiba-tiba Seno datang dan merangkul dirinya.
"Dek lain kali kalau mau pergi kemanapun bilang sama aku, aku sanggup ngantar kamu kapan aja!"
Bayu melengos. Padahal tadi dia berharap pertemuannya dengan Indah hari ini bisa membuat mereka satu langkah lebih dekat. Tapi, seorang Seno mengacaukan semuanya. Kini Indah malah asyik ngobrol dengan Seno. Tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.
__ADS_1