Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Obrolan Gaje


__ADS_3

Berjalan sambil tersenyum menyusuri lorong menuju ruang rawat inap klinik yang menampung Parto, Beni seperti orang yang tak berdosa karena sudah ngibulin mahluk sepolos Virza. Virza polos? Anggap aja iya.


"Assalamualaikum brother.." Beni mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu. Terlihat Parto sedang berbincang dengan Shela. Ada ibunda Shela juga di sana.


"Waalaikumsalam mas, La.. ibu tak pulang dulu ya. Udah siang nanti pakdhemu juga mau ke sini." ibu yang menjawab salam Beni.


"Mas To ibu pulang dulu ya, semoga cepat sembuh. Cepet pulang, biar bisa ngobrolin masalah tadi di rumah." Ibu tersenyum. Menepuk ringan punggung tangan Parto saat calon mantunya itu masih salim (mencium tangan) pada beliau dengan kondisi seperti itu.


Beni tersenyum dan bersalaman dengan ibunya Shela yang langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kamu di sini dari pagi La?" Tanya Beni menaruh buah-buahan yang dia beli tadi.


"Huum.." Jawab Shela singkat.


"Kenapa Ben, kamu keliatan seneng banget?" Tanya Parto yang ternyata sudah berganti baju dengan kemeja kotak-kotak yang tadi pagi Indah bawakan untuknya.


"Ada deh.. Lho Seno mana To, kok aku enggak lihat dia?" Baru sadar jika temannya sesama minus ukhluk enggak ada di sana.


"Enggak tahu, pergi mungkin sama Indah."


Beni ber'oowh' mendapat penjelasan dari Parto. Beberapa menit kemudian mereka saling diam. Beni duduk menjauh dari Shela. Dia pengertian sekali, enggak mau ganggu dua orang yang sedang dimabuk cinta itu.


Seno datang dengan Indah. Membawa banyak cemilan dan makanan berat untuk semua manusia yang ada di ruangan itu.


"Kamu mau buka warung di sini Ndah?" Tanya Beni diikuti eseman (senyuman) Parto.


"Kenapa? Awas aja kalau ikut makan, ku doakan diare tujuh minggu kamu!" Seno selalu jadi pembela Indah garis keras.

__ADS_1


"Napa nanggung amat cuma tujuh minggu diare, sekalian aja doain aku gantiin Parto di sono!" Bisa kesal juga ternyata Beni tuh.


"Mas To sama mbak Shela udah makan?" Tanya Indah mengeluarkan nasi goreng dan menaruhnya di meja sebelah Shela duduk.


"Aku udah." Shela membuka air mineral dan meneguknya.


"Enggak tanya aku nih?" Beni seperti anak tiri yang haus kasih sayang di sini.


"Kamu udah makan Ben?" Tanya Seno menunjukan perhatiannya.


"Alhamdulillah belum brother.."


"Kalau belum ayo ke sawah!" Seno ngelantur.


"Hah?" Beni bengong.


"Iya ke sawah. Kamu belum makan kan Ben, kita ke sawah, nanam padi dulu, tunggu menguning dan tua, kita panen, digiling padinya, abis jadi beras kamu masak, masukin mejikom.. kalau udah mateng bisa tuh kamu makan.." Shela langsung tersenyum mendengar celotehan Seno.


"Lucknut!! Durung kanti kelebon sego wes mod_yar aku Sen!" (Lucknut!! Belum sampai kemasukan nasi udah mati aku Sen!)


Semua yang ada di sana tertawa. Meski nyeri sangat terasa tapi, kehadiran Seno, Beni, Indah terutama Shela mampu membuat Parto cepat mengembalikan tenaganya. Ada semangat tersendiri dari dalam dirinya untuk segera sembuh, yaitu membicarakan rencana pernikahannya dengan Shela yang akan dipercepat.


Tentu saja hal itu mampu membuat Parto ingin cepat-cepat meninggalkan klinik itu.


"Sen.. Aku tadi ketemu Virza lagi," Cerita Beni kepada Seno yang baru saja nyomot jeruk yang Beni bawa untuk Parto. Ini orang kok clamitan sekali ya! Ya, karena diantara mereka enggak ada ewoh-ewohan! (sungkan).


"Virza siapa Ben?" Tanya Parto ikut kepo.

__ADS_1


"Virza anak pak RT desa sebelah To, minta dika_winin sama Beni mulu. Tapi, cewek itu ngira Beni itu Bambang mantan pacarnya. Waktu Virza ngeh kalau Beni bukan Bambang ya otomatis si Virza blokean delokno wujude! (muntah lihat wujudnya!" Seno mulai menjelaskan kepada seluruh mahluk yang ada di ruangan tersebut.


"Hahaha.. Kok lucu, mukamu pasaran Ben." Parto berkomentar.


"Iki aku ameh cerito lho kok malah dibully disik, wes lah.. wegah!" (Ini aku mau cerita lho kok malah dibully duluan, udahlah.. males!) Pura-pura ngambek. Eleh enggak pantes Ben!


"Ada kelanjutannya? Ya buruan cerita, abis itu buangin nih kulit jeruk ke tong sampah depan itu!" Perintah Seno.


"Kenapa dibuang kulitnya mas? Enggak dimakan sekalian?" Ucapan Indah membuat Seno menyemburkan air yang tadi dia sempat minum. Parto, Beni, dan Shela ikutan tertawa oleh perkataan Indah.


"Kok gitu sih dek.. ini kulit jeruk lho, bukan kulit ayam,, ya masa aku mok suruh makan ginian?" Drama bucin bikin Beni dan Shela mau muntah rasanya.


"Udah.. Lanjutin cerita Beni aja, biarin Seno ngemil jeruk sama kulit dan plastiknya sekalian. Biar kebal dari gigitan nyamuk!" Parto jadi makin penasaran dengan tokoh Virza yang othor munculin ini.


Beni menceritakan semua kejadian dari awal bertemu dengan Virza waktu kecelakaan menimpa Virza dulu. Dilanjut dengan pertemuan kedua mereka tadi di toko buah di pinggir jalan. Udah cerita dengan semangat, malah dapet omongan nyeleneh dari Shela...


"Jadi kamu anggap Parto istrimu yang lagi hamil? Nanti anak kelian keluar lewat mana To?" Shela menatap Parto yang juga bingung mau jawab apa.


"Hahaha.. Lewat lubang hidung mungkin," Seno tertawa geli memikirkan penuturan Shela tadi.


"Ya enggak gitu La.. Kan biar Virza enggak minta tanggung jawab mulu, ngeri tahu enggak sama tuh cewek. Cantik sih, tapi agak gimana ya.." Beni membela diri.


"Mas Beni kan ke sini bawa buah-buahan buat mas To, kata Mas Beni sama Mbak Virza tadi buah-buahan itu buat istrinya yang hamil. Ngidam minta buah, tapi kan yang makan buahnya mas Seno.. jadi yang jadi istrinya mas Beni itu ya mas Seno dong!" Indah berkata tanpa filter. Membuat Shela dan Parto tertawa tanpa bisa menahannya, sedangkan Seno makin gemas dengan ceweknya itu. Dua kali dia dibikin kicep sama pacarnya.


Seno memandang Indah, seperti berkata..


'Terusin aja dek.. terusin, asal kamu seneng aja. Bibirmu itu kok kayaknya kurang asupan vitamin c ya? Vitamin ci_pokan maksudnya!'

__ADS_1


Sedang Indah yang enggak tahu arti tatapan Seno hanya membalas dengan senyuman manja ala dia.


__ADS_2