Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Ingin Bertanggung jawab


__ADS_3

"Jawaban apa yang ingin kamu dengar dari aku?"


Pertanyaan Parto membuat hati Shela mendesir. Iya, untuk apa juga dia repot-repot bertanya seperti tadi kepada Parto. Harusnya dia masa bodoh dengan apa yang dipikirkan Parto, seperti sebelumnya bukan?


"Kamu istirahat aja, kesian badanmu. Kamu boleh enggak peduli sama orang lain tapi, kamu harus peduliin kesehatanmu. Kalau bukan kamu yang jaga kesehatanmu sendiri, terus siapa lagi? Orang lain enggak bisa rasain apa yang kamu rasain.."


Belum selesai perkataan Parto, dia dikagetkan dengan bunyi hpnya sendiri.. Beni menelepon.


Parto: Iyo, tunggu di pertigaan itu aja. Sebelum jembatan. Enggak usah ngubek-ngubek sampai sini, aku nanti yang jalan kesana!


Telepon dimatiin. Parto enggak mau kalau Beni sampai tahu dimana dia sering biyayakan (main) akhir-akhir ini. Belum saatnya untuk Beni tahu lebih tepatnya.


"Aku pamit pulang ya," Parto melihat Shela yang tertunduk. Kenapa lagi dia? Entah. Jangan bilang dia nyuruh Parto nginep ya? Ya, enggak to yo..


"Aku panggil ibu dulu.."


Shela berdiri, saat akan berjalan, langkah kaki Shela terhenti karena tangan kanannya ditarik Parto. Otomatis Shela kembali duduk di kursi lagi.


"Shela.. aku mau tanya sama kamu.. apa yang bikin kamu sebenci itu sama aku?" Parto masih memegang tangan Shela seperti enggan melepaskannya.


"Enggak usah dibahas.. aku enggak mau jawab!" Shela berusaha melepaskan pegangan tangan Parto.

__ADS_1


"Harus dijawab, karena jawabanmu menentukan langkahku kedepannya. Aku terlanjur nyemplung di sini sebagai Masmu.. Ibu berharap kita baik-baik saja tapi, apanya yang baik-baik saja kalau dari awal enggak ada kata 'kita' dan 'baik-baik saja' diantara aku dan kamu. Kamu hebat.. bisa bikin tembok di hati yang sama kokohnya seperti Tembok Raksasa China. Kamu tahu.. aku berfikir, udah saatnya aku meluruskan kesalahpahaman yang terjadi."


Parto melepas genggaman tangannya pada tangan Shela. Membuat gadis itu menatap ke arah lelaki yang sekarang duduk di sebelahnya itu.


"Kesalahpahaman apa?" Ucap Shela lirih.


"Kesalahpahaman di hatiku, aku sendiri yang merasa aku bisa bertahan untuk kamu. Jujur saja, aku enggak pernah ngerasain ini sebelumnya.. aku aja bingung aku ini kenapa. Sering ke ingat kamu, kebayang kamu, semua tentang kamu. Tapi, kayaknya udah cukup. Aku harus kontrol hatiku sendiri agar enggak lancang lakuin hal itu lagi. Kontrol otakku agar enggak mikirin kamu lagi, dan kontrol jantungku agar debarannya enggak secepat ini saat ada di dekatmu."


Wuih keren To. Ayo lanjutkan. Shela yang mendengar penuturan Parto menjadi ikut larut dalam emosi yang Parto ciptakan. Bukan emosi marah.. tapi lebih ke melow, enggak terasa matanya meneteskan air mata. Dia kembali menangis. Tangan Shela membekap mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh ibunya di belakang. Takut membuat ibunya cemas.


Parto semakin bingung, kenapa Shela menangis. Apa ucapannya ada yang menyinggung Shela. Entahlah.. Parto sendiri enggak mengerti.


" La.. kamu kenapa? Jangan nangis lagi.. Ya Allah, aku bingung kalau kamu kayak gini."


"Maaf..." Satu kata itu meluncur dari bibir Shela. Bukannya tenang Parto malah makin enggak karuan rasanya.


"Huufft.. okey La, kalau hadirku adalah luka.. pergilah untuk mencari arti bahagia. Karena aku yakin bahagiamu bukan denganku.."


Tanpa memeluk, tanpa menyentuh, tanpa melakukan apapun.. Parto berdiri dari tempatnya dia duduk. Disaat bersamaan, ibunda Shela keluar membawa piring berisi potongan kue. Parto berjalan menghampiri ibunda Shela...


"Bu.. nyuwun pangapunten, amargi sampun ndalu kulo bade nyuwun pamit. Maturnuwun sampun diparengaken sowan, mbok bilih wonten kalepatipun kulo nyuwun pangapunten engkang katah" (Bu.. Maaf, karena sudah malam saya ingin pamit. Terimakasih sudah diijinkan bertamu, jika ada salah saya minta maaf sebesar-besarnya.)

__ADS_1


Parto mencium tangan ibunda Shela. Melihat ada yang tidak baik antara kedua anak kuda.. maaf anak muda ini ibu Shela berniat mencegah Parto untuk pulang.


"Jangan buru-buru Mas.. sini duduk dulu. Ibu kok penasaran ini kelian ada apa? Yang satu matanya sembab, yang satu mukanya kaya orang tekanan batin. Nduk.. Le.. ibu ini tahu, kelian ini saling sayang tapi, kok jadi saling menyakiti gini. Mas To, duduk dulu. Nduk.. Kamu kenapa? Tadi ibu masuk sengaja mau ngasih waktu buat kelian selesaikan masalah sendiri. Tapi kok kayaknya malah makin muntel. Ibu bukan mau ikut campur masalah kelian, cuma gini.. kalau ada masalah diselesaikan dulu. Jangan pergi dan membuat masalah makin melebar. Satu yang ibu pesankan buat kelian.. hati-hati jangan main-main dengan hati. Kelian paham?"


Parto lemes rasanya hari ini. Dari pulang kerja, dia hanya meneguk air putih itu juga tumpah saat baru dia minum tiga tegukan karena di tubruk Efa saat berlari di dalam rumahnya tadi sore. Dan sekarang harus dihadapkan dengan kemuntelan masalah hati. Parto masih berdiri tanpa menjawab perkataan ibu Shela. Shela pun sama, masih diam sambil sesekali mengusap air matanya.


Tiba-tiba Parto dikagetkan dengan suara hpnya, Beni kembali meneleponnya. Manusia satu ini udah kek dewa penyelamat buat Parto. saat Parto enggak tahu harus berbuat apa, dia seperti menemukan alasan untuk pulang saja ketika Beni meneleponnya. Bukan mau lari dari masalah.. Karena dia aja enggak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Shela. Dia hanya berfikir setiap kali bertemu dengan Shela, mereka selalu ribut. Mungkin menjauh dan pergi adalah keputusan yang tepat, menurut Parto.


"Bu.. ini temanku sudah ada di depan,," Tidak melanjutkan perkataannya. Karena ibunda Shela malah menarik tangan Parto untuk duduk di kursi yang tadi dia duduki.


"Mas.. karena ibu yakin Shela enggak mau cerita, ibu mau bertanya saja sama Mas To. Ibu mau dengar sebenarnya ada apa dengan Kelian?"


Huufft.. Parto makin semprawut rasanya. Apa yang harus dia katakan kalau dia aja enggak tahu masalahnya apa. Shela yang terus-terusan menangis dari tadi membuat otaknya blank. Dia bingung.


"Saya akan bertanggung jawab pada dek Shela Bu.."


Kata yang terlontar dari mulut Parto membuat ibu Shela menatap kaget ke arah kedua anak kuda ini. Iya yang nulis bukan typo itu.. sengaja lah sengaja..! Hahaha.


Terlebih Shela, matanya membulat sempurna mendengar apa yang Parto katakan barusan.


Dalam hati Parto juga mengutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Ini mulut bisa-bisanya bilang kek gitu, udah Shela nangis terus malah aku bilang mau tanggung jawab lagi. Gusti.. Ben ngopo kowe oda ndang rene. Pateni ae aku saiki. Rasanya kok malu banget ini.


__ADS_2