Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Melepas Mu


__ADS_3

Parto sadar diri kehadirannya akan menjadi obat nyamuk di antara adik dan temannya. Dia menyingkir agak jauh menuju gazebo. Enggak tega Parto melihat Indah dan Seno yang baru beberapa hari tertawa bersama kini malah mendapat masalah yang mengharuskan mereka berakhir di titik ini.


"Dek.." Ucap Seno mencoba menguatkan hati. Dadanya terlalu sesak. Haruskah dia lakukan ini? Mengakhiri kisahnya, mengikhlaskannya untuk tutup buku tanpa ada buku nikah di antara mereka?


"Dalem mas.." Indah mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan dalam keadaan hati terluka itu sulit kawan!


"Dek.. Maaf.. Maaf.. Maaf.." Seno menunduk. Beberapa kali kata itu diucapkannya, dia menekan sendiri sesak di dada dan rasa berkecamuk itu agar tidak menangis di depan gadis yang dia cintai. Ya.. Saat ini Seno enggak mampu melihat mata gadis imut itu.


"Maas.. Aku yang minta maaf.. Membuat mas Seno ada di posisi sulit," Suara itu bergetar.


"Di sini... aku mengatakan apa yang aku pendam bertahun-tahun sama kamu, cowok macam apa aku ini.. memilih tempat yang sama untuk mengakhiri hubungan kita.."


"Tampar aja aku, mau mukul juga silahkan.. atau kalau perlu benci aja aku sekalian.. Asal jangan menangis karena aku. Aku dulu pernah bilang.. Hanya cowok bodoh yang melepaskanmu dengan alasan apapun.. dan ternyata aku sendiri lah cowok bodoh itu," Seno ingin mencari pegangan. Rasanya enggak kuat banget, dia memilih duduk karena berdiri membuat kepalanya berputar.


"Maaf dek.." Seno melepas jaketnya, memberi kode kepada Indah agar duduk di sebelahnya. Dia sampai enggak rela gadis yang dia sayang itu duduk tanpa alas.


"Mas.. bukan aku yang ibu harapkan untuk jadi istrimu,," Indah enggak bisa melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Tetep bahagia ya, jangan bersedih terlalu lama, Indah yang aku kenal adalah gadis periang, lucu, suka senyum... Dek, kamu tahu kenapa aku milih waktu pagi dan ngajak kamu kesini...?" Seno berkata, masih belum berani menatap wajah Indah. Indah tidak menjawab, mulai terdengar isak tangis gadis itu,


"Agar kamu bisa ingat... Lelaki bodoh ini yang udah menyia-nyiakan kamu, enggak bisa berjuang dan mempertahankan kamu, di sini... aku mau bilang... Aku melepas mu Ndah.. Aku melepas mu dari hubungan yang makin nyakitin kamu, aku-" Seno diam saat merasakan Indah menggenggam tangannya.


Pandangan mata mereka bertemu, kesedihan itu nyata.. Tanpa bisa mengontrol diri lagi, Seno mendekap tubuh Indah dalam pelukannya.


"Maafin aku..." Kata-kata itu terus Seno ulang, sampai dia melepaskan pelukannya. Dia enggak mau Indah jadi bahan pembicaraan orang desa karena ulahnya, karena memeluk dia di tempat umum seperti ini. Seno menghapus air mata di pipi Indah,


"Pulang ya.. Jaga kesehatan, sampai rumah jangan nangis terus..." Indah enggak bisa menjawab semua ucapan Seno, hatinya terlalu sakit saat ini.


"Mas.. aku mau ngomong..." Memegang erat tangan Seno. Seno tahu hal ini sangat sulit untuk mereka berdua.


"Aku sayang kamu..." Indah berdiri dan berlari meninggalkan Seno, membuat luka hati Seno semakin nyelekit!


Seno mengambil ponselnya, mengirimkan pesan untuk Parto agar mengikuti Indah, enggak banyak yang dia ketik.. hanya bilang 'Ikuti Indah To,'.


Dia sadar diri, karena dia lah Indah bersedih. Rasanya enggak pantes mengirimkan pesan meminta Parto menghibur Indah, Seno siap jika nanti persahabatan di antara mereka harus retak gara-gara masalah ini.

__ADS_1


Enggak ada niatan bagi Seno untuk beranjak dari tempatnya sekarang ini, meski matahari mulai memancarkan sinarnya yang semakin panas, Seno masih diam di posisi semula. Wajahnya dia sembunyikan di antara lututnya, di sana dia menangis tanpa suara. Seno enggak nyangka dia bisa melukai gadis pujaannya hingga sedalam ini. Berjanji akan selalu membuat Indah bahagia, ternyata dia lah yang menjadi sumber luka. Berjanji akan menjaga hati Indah sampai kapanpun, ternyata dia sendiri juga yang melepaskan Indah untuk pergi menjauh.


Dia enggak memikirkan luka hatinya, karena jelas.. rasa sakit itu nyata tanpa perlu diungkapkan dengan perkataan, yang dia pikirkan adalah Indah. Dia berharap, Indah bisa melewati ini semua dengan cepat, bangkit dari rasa sakit ini.. Jika boleh meminta Seno ingin hanya dia aja yang terluka, bukan Indah atau ibunya.


Indah.. Maafkan aku, hanya ini bentuk rasa sayang terakhirku untuk mu.. melepaskan mu.. mengikhlaskan kamu, aku enggak bisa biarin kamu tersakiti karena aku lebih dari ini, kuatkan hatinya Ya Rabb.


Bahkan Seno enggak meminta dalam doanya agar dia yang dikuatkan hatinya melainkan Indah.. Sedalam itu rasa Seno untuk Indah, tapi rasa itu harus berakhir karena terhalang restu orang tua.


"Sen..." Beni mendekati Seno yang saat ini masih menunduk.


"Sen.. Kamu enggak apa-apa?" Beni mengambil jaket Seno yang tadi didekap Indah, karena ternyata Indah tidak setega itu memakai jaket orang yang dia sayang sebagai alas duduknya.


"Udah berakhir Ben.. Udah selesai.." Seno berucap dengan berusaha bangkit dari duduknya.


"Sen.. patah hati emang sakit, tapi jangan kamu buang juga kewarasanmu! Enggak ada yang larang kamu buat jalin silaturahmi sama Indah. Enggak bisa jadi imamnya, bisa jadi kakaknya, temennya, sahabatnya, atau apapun itu.. Jangan hancurin dirimu sendiri Sen," Ucap Beni memberikan jaket kepada pemiliknya.


"Tapi aku yang enggak sanggup jadi kakaknya atau apapun tadi yang kamu sebutin.. Aku yang enggak bisa Ben.. Kamu tahu, sebelum dia pergi tadi, dia bilang.. dia sayang sama aku, kalau aku terus ada di dekatnya, rasa sayang itu akan jadi rasa sakit yang dia sembunyikan sendiri, dia tanggung sendiri tanpa mau berbagi.."

__ADS_1


Beni diam aja. Melihat Seno yang berjalan mendahuluinya, langkahnya gontai.. memegang jaket tanpa dia pakai, miris sekali kisah cintamu nak...


__ADS_2