
"Rajinnya anak bapak, pagi-pagi udah buatin kopi sama gorengin singkong. Kamu ndak kerja nduk?" Bapak melihat Indah yang agak berbeda hari ini. Wajahnya terlihat makin bersinar, lebih cantik dari biasanya. Senyum juga terus terukir di wajah imut putrinya ini.
"Kerja pak, ini baru mau berangkat.. Pak, Indah pamit ya.. Pak.. jaga kesehatan selalu, jangan berantem terus sama emak. Kasihan kan emak uring-uringan mulu jadinya," Indah mencium tangan bapaknya.
Bapak mengerutkan keningnya, ini bocah satu kenapa jadi aneh begini. Enggak biasanya dia berbicara seperti ini. Ada perasaan tidak mengenakan di hati bapak, tapi langsung beliau tepis hal itu.
"Nduk... kamu enggak apa-apa?" Bapak mengusap rambut putrinya. Indah memiringkan muka sambil tersenyum, menggeleng pelan kemudian mengambil helm bersiap berangkat kerja.
Motor menyala, Indah pergi. Emak yang mendengar deru motor Indah berlari tergopoh-gopoh dari dapur,
"Pak.. Ini bekal Indah kok ndak dibawa? Itu anak buru-buru banget." Emak kalah cepat. Tidak bisa mengejar putrinya.
"Mungkin Indah buru-buru mak, dia kan bawa uang nanti pasti beli sarapan di pabriknya sana." Bapak duduk kembali, terbayang wajah teduh Indah saat menghidangkan kopi dan singkong goreng untuknya.
"Pak.. perasaan emak kok ndak enak banget, ada apa ya pak?" Emak ikut duduk di samping bapak. Sebenarnya bapak juga merasakan hal yang sama tapi, beliau lebih memilih bungkam dan menghibur istrinya.
Saat kedua orang tua ini sibuk mengobrol, Shela dan Parto datang berkunjung ke rumah mereka.
"Assalamualaikum.." Shela duluan yang mengucap salam dan mencium tangan kedua mertuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Walah.. mantumu makin ayu pak, delokno iki (lihat ini)." Emak tersenyum dengan kedatangan anak dan mantunya itu.
"Iya mak ayu." Jawab bapak singkat. Pikiran beliau masih tertuju pada Indah. Bapak berjalan menuju kandang kambing setelah berbasa-basi sebentar dengan anak dan mantunya yang baru datang.
"Indah udah berangkat mak?" Parto duduk di teras. Shela dan emak mengikutinya.
"Udah, baru aja.. To kamu tahu Indah lagi ada masalah sama Seno?" Emak bertanya.
"Tahu mak.. Udah lama, bukan sama Seno tapi sama ibunya Seno. Ibunya Seno enggak merestui hubungan mereka." Terang Parto.
"Kasihan Indah.. Dia jadi sering melamun, kalau emak tanya ada apa, dia hanya tersenyum aja. Tapi, senyum yang dipaksakan itu malah kelihatan sekali kalau adikmu sedang memendam sesuatu."
__ADS_1
Emak memperhatikan Shela yang terlihat sedikit berbeda di mata emak.
"La.. Kamu udah makan?" Tanya emak perhatian.
"Sampun mak," Jawab Shela singkat.
"Kok kelihatan pucet, ndak pernah dikasih makan Parto ya nduk? Apa sering diomelin sama dia?" Shela tersenyum geli mendengar perkataan emak, mana berani Parto ngomel-ngomel sama dia. Yang ada tiap hari Parto lah yang menjadi korban keganasannya.
"Mas To baik kok mak," Ujar Shela membela suaminya.
"Lha iya baik.. Kalau ndak baik tuker aja sama kambing bapakmu itu!" Obrolan mereka berlanjut kemana-mana. Sampai Parto dikagetkan karena bunyi ponselnya yang terus berbunyi.
Parto langsung menerima panggilan yang berasal dari nomer Indah. Agak heran kenapa jam segini Indah bisa menelponnya.
"Iya Ndah.." Ucap Parto saat menerima telepon. Tapi, raut mukanya berubah. Parto terdiam. Saat panggilan terputus, dia langsung berjalan cepat menuju motornya.
"Mas... Ada apa?" Tegur Shela yang membaca sesuatu yang tidak beres terjadi karena raut muka suaminya mendadak berubah cemas dan gelisah.
"La.. Kamu di sini dulu ya, temani emak sama bapak, Indah kecelakaan La.." Setelah mengatakan hal demikian, Parto segera tancap gas. Shela kembali duduk bersama emak, menutupi kecemasan yang sekarang Parto tularkan untuknya. Bagaimanapun Indah adalah saudaranya. Dia sudah menganggap Indah adik sejak dirinya dekat dengan Parto. Indah pribadi yang ramah dan mudah akrab menurut Shela, meski tidak bisa dipungkiri gadis itu memang childish, manja dan cengeng. Tapi, itulah yang unik dari saudara iparnya itu. Selalu bisa menarik perhatian orang lain dengan dirinya yang apa adanya.
"Mas To ada urusan sebentar mak," Shela menutupi dulu kabar Indah yang kecelakaan karena dia juga belum tahu bagaimana keadaan Indah sekarang.
...----------------...
Sepuluh puluh menit sebelum Indah kecelakaan. Indah mengendarai motor dengan kecepatan sedang, enggak pernah ugal-ugalan di jalan karena baginya hal itu akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Saat melewati pasar, jalan yang memang biasa dia lalui saat berangkat dan pulang bekerja, dia melihat ibu Seno keluar dari pasar. Dengan belanjaan penuh di tangannya, ibu Seno terlihat kerepotan.
Indah menghentikan perjalanannya, rasa kasihan membuat dia turun dari motor dan membantu ibu Seno mengangkat beberapa plastik yang berisi belanjaan beliau.
"Enggak usah Ndah, nanti kamu telat masuk kerja." Tolak ibu Seno. Tapi, Indah tetap membantu ibu dari seseorang yang selalu bertengger di hatinya itu.
__ADS_1
Sambil tersenyum Indah berkata, "Aku senang bisa bantu bulek, kebetulan tadi lihat bulek kerepotan.." Semua itu tulus. Indah tidak pernah berpikir jika momen itu bisa dia gunakan untuk mengambil hati ibunda Seno.
"Maturnuwun yo.." Jawab ibu Seno sekenanya.
Indah membantu memasukan belanjaan ibu Seno ke dalam mobil. Setelah selesai dan memastikan tidak ada lagi belanjaan yang tertinggal, Indah mengulurkan tangannya. Dia salim (mencium tangan) ibunda Seno dan ijin berangkat bekerja.
"Bulek.. Aku berangkat dulu njih, hati-hati di jalan. Assalamualaikum.." Ucap Indah menyeka keringat di dahinya, tersenyum dan berlalu pergi menuju motornya.
"Waalaikumsalam..." Hati ibu Seno bergetar.
Apakah gadis ini yang dia tolak mati-matian untuk menjalin hubungan dengan putranya? Kenapa dia merasa tidak rela saat Indah meninggalkan dirinya dan pamit pergi.
Ibunda Seno berjalan menyeberang jalan, niat hati ingin menghampiri Indah mengucapkan terimakasih sekali lagi, entah beliau ini terlalu fokus sama Indah atau gimana sampai tidak memperhatikan jalanan. Indah melihat ke arah spion memastikan jalanan bisa dia lalui.
Tapi, dari pantulan kaca spion dia melihat truk melintas ugal-ugalan padahal ini kawasan ramai. Penuh orang yang hilir mudik ingin ke pasar. Saat menoleh ke belakang dia melihat ibu Seno berjalan ke arahnya tanpa mengetahui ada bahaya yang mengintai. Indah berlari cepat dan menarik tangan ibunda Seno yang nyaris tertabrak truk.
"Astaghfirullah.. Ya Allah... Maturnuwun Ndah, Ya Allah aku enggak tahu kalau ada truk mau giles aku. Ya Allah untung ada kamu nduk, maturnuwun..." Berkali-kali ibu Seno mengucapkan terimakasih kepada Indah.
"Njih bulek, lagian itu supir truknya ngawur udah tahu jalan rame kayak gini kok ngebut. Bahayain pengguna jalan lain, mana langsung nyelonong pergi lagi!" Indah berkomentar.
"Aku gemeteran ini Ndah.." Indah memegang tangan ibu Seno berusaha menenangkan beliau.
"Enggak apa-apa bulek, ayo aku anter ke mobilnya." Indah membantu ibu Seno menyeberang jalan dan mengantar beliau sampai ke mobil. Memastikan ibu Seno masuk mobil baru dia pergi.
Indah melihat jam tangannya, kaget karena ternyata dia menghabiskan banyak waktu di jalan pagi ini. Berniat buru-buru mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kerja, Indah langsung menggeber motornya meninggalkan lokasi dia bertemu ibu Seno tadi.
Baru beberapa meter dia beranjak dari sana, suara benturan keras terdengar. Indah yang berusaha menyalip bus di depannya dengan kecepatan sedang tidak tahu jika dari arah berlawanan ada mobil melaju kencang. Tabrakan pun tak terelakan. Indah terpental dari motornya karena hantaman yang keras. Dia mendarat dengan keras dan ditangkap pembatas jalan. Darah langsung mengucur dari mulut dan hidung gadis itu.
Saat itu, Indah melihat semua berubah putih, hanya ada warna putih.. Berangsur-angsur warna hitam mendominasi. Semua gelap.
Teriakan orang-orang di sekitar sana membuat ibu Seno ikut kaget dan histeris karena gadis yang tadi menolongnya malah bernasib seperti ini. Ibu Seno tak kuasa menahan tangis melihat di depan mata wanita yang putranya cintai mengalami kecelakaan yang parah.
__ADS_1
Langsung teringat saat Indah membantunya tadi, mengangkat belanjaannya, mencium tangannya, dan mengingat agar dirinya hati-hati.
Ya Allah.. Apakah ini hukuman buatku.. Maafkan aku yang berusaha memisahkan Indah dari Seno.. Maafkan semua kebodohanku ini Ya Allah...