Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Ketika Virza Bertemu Seno


__ADS_3

Seno berjalan pelan menuju rumahnya setelah memarkirkan sepeda motor yang baru saja dia geber dari warung mbok Yuni tadi. Waktu sakit kemarin, dia tinggal di rumah orang tuanya. Sekarang, dia kembali lagi ke rumahnya sendiri. Rumah yang dia bangun dengan hasil keringatnya bekerja selama ini. Rumah yang dia impikan akan menjadi tempat tinggalnya bersama Indah saat mereka menikah suatu saat nanti.


Egois memang, dalam hatinya, dia masih berharap bisa bersanding dengan Indah. Bukan terobsesi kepada gadis imut itu, hanya rasa sayang dan cintanya itu telah terpatri pada satu nama saja, yakni Indah.


Dia ingat saat baru pulang dari rumah sakit, ibunya dengan tegas ingin dia segera menikah. Dan ibu sudah menyiapkan calon yang menurut beliau cocok mendampingi Seno.


Virza, gadis itu dipilih ibu karena dirasa pantas untuk putranya. Meski Virza dan Seno sama-sama belum saling mengenal tapi, ibu yakin Seno akan cepat tertarik pada gadis pilihan beliau itu. Akan menggeser nama Indah di hati Seno, dengan pertemuan pertama mereka. Tapi, yang terjadi... Seno malah mengacaukan semuanya. Mengarang cerita jika dia telah menghamili seseorang, membuat Virza dan keluarganya ilfeel dengan hal yang diutarakan Seno.


Tapi, ibu tidak menyerah sampai di sana. Beliau ingin Virza dan Seno tetap melanjutkan hubungan mereka sampai jenjang pernikahan. Buatnya Virza jauh lebih baik dari pada Indah.


Selain faktor primbon yang membuat ibu Seno tidak menyetujui hubungan Seno dan Indah, Indah yang terlalu kekanakan juga menjadi alasan ibu menentang jalinan kasih mereka.


Jadi, ibu lebih suka Seno main sama tante-tante? Ok buk.. akan othor kabulkan keinginan mulia anda!


Ponsel Seno berdering, malas melihat siapa gerangan yang menghubunginya, dia memilih mandi. Menyiram raganya dengan air dingin agar lebih bisa terpikir jernih.


Dengan cara apa aku bisa meyakinkan ibu jika Virza atau gadis manapun yang ibu mau jodohkan denganku itu enggak membuatku tertarik. Aku bisa pura-pura baik-baik aja di depan semua orang, aku bisa pura-pura rela melepas Indah.. tapi, enggak dengan hati ini.. Hati ini enggak mau diajak berpura-pura,


Udah seperti ini aja ibu enggak perduli dan mau mengerti, apa aku harus nekat? Nekat menikah tanpa restu?


Seno memegang dadanya.. Debaran itu masih untuk Indah. Hanya Indah yang mampu membuatnya segila ini, entah hal apa yang sudah Indah lakukan kepadanya.. tapi, hanya melihat gadis itu tersenyum membuat hatinya ikut berbunga. Melihat gadis itu cemberut membuat dia ingin menjadi sesuatu yang bisa merebut perhatiannya, membuat mood gadisnya membaik. Dan saat melihat Indah menangis.. rasanya dia ingin menjadi sandaran yang selalu menguatkan Indah, menjadi alasan Indah tersenyum kembali..


Dengan membelitkan handuk ke batas pinggang, Seno keluar dari kamar mandi. Dia melihat ponsel untuk mengecek siapa si penelepon tadi. Di ponselnya masih terpampang wallpaper fotonya dengan Indah. Dia segera mengganti wallpaper itu, hanya foto Indah saja.


Panggilan itu dari ibunya, beberapa pesan juga terkirim ke nomernya. Memberitahu jika Virza ada di rumah. Rumah orang tua Seno maksudnya. Ingin mengabaikan pesan ibunya tapi, Seno tak sampai hati. Dengan singkat Seno menjawab pesan itu, dia hanya mengirimkan tiga huruf. I Y A. Itu saja.

__ADS_1


Sudah memakai baju dan celana ala kadarnya, Seno mengambil jaket serta helm. Kembali mengendarai kuda besinya menuju rumah orang tuanya. Sudah sampai sini, kalau mau hancur.. hancur aja sekalian! Itulah yang Seno pikirkan.


Dijalan, Seno memikirkan cara untuk menggagalkan apapun itu rencana ibunya. Tak terasa dengan hanya memikirkan hal tersebut membuat perjalanan dari rumahnya ke tempat orang tuanya bisa cepat sampai. Yang sebenarnya, dia mengendarai motor udah seperti orang kerasukan.. pokoknya gass aja tanpa direm!


"Nah ini Seno udah datang, dari tadi lho Sen.. Virza nunggu kamu," Ibu tersenyum sumringah melihat anak semata wayangnya berjalan mendekati beliau.


"Aku mau bicara!" Ucap keduanya bersamaan tanpa basa-basi.


"Aduuuh kelian ini udah kelihatan jodoh, ngomong aja bisa barengan gini. Ibu tinggal dulu ya, kelian ngobrol aja.." Ibu sangat senang.


Virza menatap malas ke arah Seno, Seno cuek aja. Duduk dengan satu kaki dinaikan ke atas kursi, membuat Virza makin eneg melihat kelakuan Seno.


"Ngapain ke sini?" Seno menyelipkan rokok ke bibirnya. Menyalakan ujung rokok itu dan menghirup asapnya dalam-dalam, menghembuskan asapnya ke udara.. Membuat dia terlihat makin nyeleneh di mata Virza.


"Bagus! Seenggaknya aku bisa tanggung jawab sama cewekku kalau kamu nolak perjodohan ini!" Enggak kalah sengaknya dengan Virza dia seolah menjadi sosok lain, bukan Seno yang ramah dan penyabar seperti saat menghadapi Indah.


"Itu perkutut mending disembelih aja! Main masuk sangkar orang sebelum halal!" Memutar bola matanya malas.


"Suka-suka ku lah! Kenapa ngatur? Cewek ku aja santai saat aku keluar masuk sarangnya!" Pembicaraan unfaedah.


"Enggak tahu malu! Masih mending Bambang, meski dia penipu tapi dia bukan penjahat ke_lamin macam kamu!! Manusia kayak gini yang dibilang sholeh, ramah, tanggung jawab dan pendiam?? Mereka nilai kamu dari mana?? Kalau aku jadi cewekmu udah ku cincang perabotmu itu!!" Virza bersungut-sungut.


Seno hampir tertawa mendengar penuturan Virza, tapi dia lebih memilih menyesap kembali rokok yang dia pegang.


"Langsung ke intinya aja! Aku ke sini mau ngasih tahu, jangan ke rumahku untuk melamar atau menikahi ku!"

__ADS_1


"Kamu pikir aku ingin banget nikah sama kamu? Udah berkali-kali aku bilang, aku udah bikin cewekku hamil.. Cuba kamu pikir gimana perasaan dia kalau tahu aku enggak tanggung jawab tapi malah nikah sama kamu?"


Virza menggelengkan kepala. Dia enggak habis pikir, orang di sampingnya ini kok pede banget bilang udah bobol gawang pacarnya sampai menghasilkan benih di rahim cewek itu.


"Kalau kamu udah mau punya buntut, kenapa orang tuamu masih ingin melanjutkan perjodohan kita?? Pada waras apa enggak sih sebenarnya orang-orang di sini?" Virza kesal sekali.


"Karena waktu aku hamilin cewekku juga enggak koar-koar ke orang tuaku, mereka enggak tahu aku udah ngelakuin hal itu sama cewekku!" Jawab Seno enteng.


Gila.. Bisa gila aku lama-lama di sini.. Enggak boleh! Aku enggak sudi punya suami maniak kayak gini, bisa suram masa depanku kalau nikah sama dia!!


Virza bergidik ngeri.


"Cewekmu tahu kamu mau dijodohin?" Tanya Virza memegang pelipisnya yang mulai pening karena mengobrol dengan Seno.


"Enggak!"


"Kamu udah bilang ke orang tua cewekmu kalau kamu udah bikin anaknya hamil?" Tanya Virza selanjutnya.


"Belum!"


"Kenapa? Takut dikebiri hah?" Virza tersenyum mengejek.


"Aku belum sempat ketemu mereka, aku mau kelarin masalah ini dulu.. Baru ngomong ke orang tua cewekku!" Seno menaruh ponselnya di atas meja, tanpa sengaja ponsel itu menyala dan memperlihatkan wallpaper yang terpasang di sana. Virza melirik foto yang ada di ponsel lelaki itu.


"Gila!!! Kamu hamilin bocah di bawah umur?? Pe_dofil!! Harusnya kamu masuk penjara!!" Virza berkomentar setelah melihat foto Indah di ponsel Seno. Seno hanya tersenyum geli dengan drama hamil menghamili yang dia buat.

__ADS_1


__ADS_2