
Saat ini Parto sedang memainkan hpnya, jarinya terhenti di menu galeri saat melihat foto Shela yang masih dia simpan. Dia enggak habis pikir kenapa dia masih menyimpan foto itu, menekan tanda hapus tapi mendadak dia urungkan. Dia malah tersenyum saat mengingat pertama kali bertemu dengan gadis super cerewet itu.
Apa aku juga sudah kehilangan akal sampai mengingatnya saja membuatku kayak orang stress gini. To.. kendalikan hatimu, suka sama orang juga harus lihat-lihat. Masa lampir kayak gitu bisa bikin kamu mesam-mesem kayak orang kena gangguan jiwa gini.
Enggak tahu harus apa, Parto hanya bisa mengingatkan hatinya sendiri agar tidak terjebak pada jurang cinta yang semu. Yang penderitaannya tiada akhir itu. Yang membuat Beni sampai morat-marit. Membuat Seno makin bucin. Dia enggak mau kehilangan akal sehatnya yang nyaris tidak ada itu.
Parto bukannya enggak mau punya pasangan, yang benar saja. Tapi, dia hanya ingin mempunyai pasangan yang selajimnya aja. Yang punya sifat seperti emaknya, yang selalu sabar ngadepin bapaknya. Bukan si bar-bar dari desa sebelah ujung sana. Setiap kali bertemu, pesti ada saja hal yang mereka ributkan. Tapi yang namanya hati, kalau sudah menentukan pilihan kepada siapa dia berlabuh. Kita bisa apa?
Parto melihat jam dinding, pukul 15.00. Tadi pagi dia sudah berucap akan datang ke rumah nyai ronggeng itu.
Haruskah aku datang ke rumahnya?
"Mas To ini kok makin aneh sekarang.. Lihat deh Mak dari tadi dia senyum sendiri," Indah berucap saat melihat kakaknya senyum-senyum enggak jelas sambil melihat layar hpnya.
"Mungkin lagi sms pacarnya Ndah.. mbok ya biarin to Ndah, Masmu itu udah gede.. wajar kalau punya pacar. Yang enggak wajar itu kalau kamu yang kayak gitu, lulus juga baru kemarin.. mau cinta-cintaan!"
Mendengar ucapan emak, Indah seketika terbatuk-batuk.. keselek opo Ndah? Keselek kenyataan hahaha. Maaf bukan itu, Indah belum mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau dirinya sudah mempunyai pacar. Bahkan mereka, orang tua Indah mengenal akrab siapa pacarnya tersebut. Satu langkah lebih maju yang di ciptakan Indah, saat Parto masih stuck di posisi yang sama setiap tahunnya.
"Kowe kenopo? (kamu kenapa)" Tanya emak yang melihat Indah salah tingkah.
"Enggak Mak.. enggak apa-apa. Emak ini lucu banget, ini jaman apa Mak kok masih bahas sms. Sekarang jamannya wa Mak," Indah mencoba mengalihkan pembicaraan agar emaknya lupa tentang apa yang tadi mereka bahas. Emang bahas apa? Lha itu bahas cinta-cintaan.
"Alah podo wae Ndah.." Emak berucap sambil berlalu pergi. Indah menghembuskan napas pelan, lega karena emak enggak membahas tentang dirinya dan cinta-cintaannya.
__ADS_1
"Ndah.. Aku tak ke rumah temenku dulu ya, Emak mana? tadi aku lihat lagi ngobrol sama kamu." Parto sudah memutuskan, dia beneran akan berkunjung ke rumah Shela. Entah di bilang setor nyawa, atau mau di jadiin tumbal.. Parto enggak peduli. Dia hanya ingin menepati janji yang tadi dia ucapkan.
"Mau main kemana Mas? Ke rumah Mas Seno ya? apa Mas Beni? Emak masuk ke dalam barusan.."
"Kamu ini kok kepo banget.. enggak mungkin aku main ke rumah Seno, pacarmu itu. Dia belum pulang kerja. Kamu juga pesti lebih tahu soal hal itu.. Mau masuk dulu lah, pamit sama emak!" Parto berlalu meninggalkan Indah di teras rumah. Masih dengan rasa keponya, Indah mengikuti langkah kaki kakaknya itu.
"Ngapain kamu ngikut aja?" Indah hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Parto.
"Mak.." Parto mengetuk pintu kamar emaknya.
"Hmm piye To? Mak ameh sholat, (hmm gimana To? Mak mau sholat)," Emak menjawab tanpa keluar dari kamarnya. Parto yang juga belum melaksanakan ibadah sholat ashar, bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Mas To ke kamar mandi Mak.." giliran Indah yang menjawab pertanyaan emak.
Akhirnya setelah menyelesaikan sholat dan menitip pesan kepada Indah, agar memberi tahu kepada orang tuanya kalau dia akan pergi berkunjung ke rumah temannya, Parto segera melajukan motornya ke arah yang seharusnya. Kemana lagi kalau enggak ke rumah nini kunti.
Tidak tahu nanti dia bakal di terima dengan sambutan senyum merekah indah atau di amuk seperti biasanya, yang pasti Parto yakin. Yakin kalau dia sekarang juga enggak waras.
Semesta mungkin memang membuat mudah jalan Parto menuju rumah Shela. Dia berpikir tadi bakal turun hujan tapi, pada kenyataannya sekarang saat Parto sudah berada di halaman depan rumah Shela.. semua baik-baik saja. Hanya mendung pekat yang sejak tadi belum menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan hujan.
Di sambut dengan wajah cemberut yang memerah seperti tomat, Parto hanya tersenyum saat melihat Shela melotot kaget ke arahnya. Shela saat ini sedang mengangkat jemuran yang ada di samping rumah. Dia enggak menyangka Parto bakal bener-bener datang ke sini. Dia pikir Parto hanya menggertaknya saja.
"Assalamualaikum Dek.."
__ADS_1
Shela menjawab salam Parto sambil komat-kamit. Dia enggak suka Parto sok akrab sama dia.
"Kalau ada orang yang mengucapkan salam itu hukumnya wajib di jawab lho Dek.." Parto turun dari motor. Membawa satu plastik buah-buahan yang dia bawa untuk Shela dan Ibunya.
"Aku udah jawab! kamu ngapain kesini? Jangan cari muka kamu ya!" Shela tetap saja ketus.
"Aku udah punya muka Dek, enggak perlu nyari lagi. Kebanyakan muka juga enggak baik.. Ini buat kamu" Parto masih memegang plastik berisi buah apa aja ada itu. Dia bermaksud memberikan kepada Shela. Tapi melihat Shela yang kerepotan dengan tangan penuh baju yang selesai dia angkat dari jemuran, dia urungkan niatnya.
"Muka badak!" Shela berjalan menuju dalam rumah. Parto mengikuti dari belakang. Saat Shela masuk ke dalam rumah, langkah Parto terhenti. Dia enggak selancang itu sampai blusukan ke rumah orang tanpa di persilahkan masuk oleh pemiliknya terlebih dahulu.
"Kamu enggak usah masuk! Ibu lagi enggak ada di rumah, aku enggak mau kamu sok akrab sama aku. Kita enggak sedekat itu sampai kamu panggil aku dek dek!" Terdengar suara Shela dari dalam rumah.
Parto menghela nafas,
Jauh-jauh kesini dapat apa To? Dapat amukan!
Parto hanya diam. Shela juga enggak kunjung keluar dari rumah. Niatnya hanya ingin menepati janji, dan sekarang dia juga sudah di sini. Meski Shela enggak mau menemuinya, seenggaknya dia enggak ingkar pada janji yang dia buat.
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar.. di susul dengan hujan yang turun dengan derasnya. Parto tidak mau berlama-lama di rumah perempuan yang saat ini sedang sendirian di rumah, meski dia tahu hujan lagi deres-deresnya.. dia berjalan menuju si ayam. Dia berniat untuk pulang.
Senyum ehm Mas To untuk Dek Shela 😌
__ADS_1