
Seno menghembuskan asap itu, asap yang menjadi polusi untuk sekitarnya. Membuat siapapun yang menghirup akan berstatus perokok pasif. Ikut merasakan dampak buruk meski enggak ikut nyedot batang rokoknya.
"Kata ibu.. aku enggak boleh lanjutin hubungan sama Indah." Seno menarik nafas dalam. Seakan stok oksigen di paru-parunya emang enggak ada. Harus diberi suplai O² sebanyak mungkin.
"Hah?" Parto bingung.
"Lho kok gitu?" Beni memandang Seno dengan wajah kepo akut tak tertolong.
"Aku bingung jelasinnya.. Kelian tahu sendiri gimana rasaku sama Indah.. Berapa tahun aku pendam rasaku buat dia, tapi ternyata ibuku enggak bisa terima Indah jadi menantunya. Kalau sekedar teman atau adik ibu enggak masalah.. katanya ibu juga udah anggap Indah anaknya sendiri..." Senyum dan tawa yang sedari awal Seno munculkan sirna dengan cerita dan sorot mata penuh beban.
"Tapi.. Untuk hubungan yang lebih serius, ibu menentang keras.. Aku udah berusaha yakinin ibu, kalau bukan dengan Indah.. aku enggak mau nikah, meski yang ibu sodorkan bidadari sejenis Mimi Perih!" Seno menunduk.
"Njiiir bang_ke..! Serius lah Sen!" Parto mulai mengumpat.
"Kamu sehat?" Beni ikutan emosi.
"Aku serius! Ibu mau aku nikah sama pilihannya! Atau aku pilih sendiri, siapapun itu asal bukan Indah! Tapi aku enggak mau!" Seno kelihatan emosi.
__ADS_1
"Kenapa? Emang Indah ada kekurangan apa di mata Ibumu?" Parto mulai gemas dengan cerita Seno. Iyalah.. Secara Indah adalah adik kesayangannya, adik satu-satunya, dia sempat menitikan air mata saat tahu Indah sedih karena merasa kehilangannya.
Meski enggak pernah mengungkapkan secara langsung tapi rasa sayang Parto ke Indah tidak usah diragukan. Makanya dia agak emosi dengan cerita Seno sekarang ini, alasan apa yang mendasari ibu Seno sampai enggak mau punya mantu Indah.
"Ibu bilang hitungan weton kami enggak jodoh, jatuhnya perpisahan atau kematian disalah satu keluarga..." Seno terlihat frustasi.
"Kamu juga tahu To, orang kita percaya dengan hitungan Jawa kuno. Aku udah bilang itu semua enggak mungkin terjadi, tapi ibu marah sama aku. Ibu sampai enggak mau makan dan ngomong sama aku. Dari seminggu aku enggak pulang... Aku sayang Indah To," Sangat nyata beban yang Seno tanggung saat menyesakan dada.
Ini bukan masalah sepele. Kalau dia bertahan dan ingin terus melanjutkan hubungan dengan Indah otomatis kisah cinta mereka tidak akan mendapat restu dari ibunya. Tapi, dia juga enggak akan mau melepaskan Indah begitu aja.
Seno menggeleng. Melihat ke arah Parto,
"Aku enggak tega bilang sama dia, aku enggak mau putus sama dia To.. kalau aku bilang ke dia, pasti dia nyuruh aku nurut omongan ibu.. dan itu akan jadi akhir hubunganku dengan Indah."
"Aku bisa kasih apapun.. aku usahain apapun agar ibu mau nerima Indah.. tapi, Ibu cuma mau aku bubaran sama Indah.."
Beni ikut prihatin dengan temannya ini, jadi dia menutupi semua bebannya dengan sikapnya yang konyol.
__ADS_1
"Kamu enggak coba nurut ibumu aja Sen?" Tanya Beni menelisik.
"Maksudmu apa??" Seno emosi.
"Sen.. Meski kamu sama Indah bisa bersatu, bisa jadi suami istri tapi tanpa restu ibumu.. Indah akan merasa hidup denganmu seperti di hutan belantara.. aku enggak mau nyebut kayak di neraka karena aku sendiri enggak minat hidup di sana!"
"Punya mertua yang benci atau enggak suka sama kita itu sakit banget Sen.. Kisah Parto dan Shela termasuk kisah cinta bak negeri dongeng di kehidupan nyata yang jarang kita jumpai sekarang ini. Beruntung Parto bisa lolos di segala jenis ujian nyampe bisa go in the ranjang bareng Shela... Kita balik ke realita aja, kalau kamu paksain sama Indah itu bakal nyakitin ibumu, Indah, dan kamu sendiri.. Pikirin ini Sen!" Beni mencoba menjelaskan pemikirannya kepada Seno.
"Tapi alasan ibu enggak masuk akal Ben.. Siapa yang tahu ajal seseorang akan tiba? Dari sini aku ketabrak mobil terus lewat juga enggak tahu..." Seno putus asa.
"Ngawur! Kalau ngomong dipikir dulu, jangan sembarangan gitu!" Parto kesal dengan ucapan Seno.
"Hatiku sakit banget To.. Ibu diemin aku, kata bapak ibu enggak mau makan.. aku harus gimana To," Seno mengambil lagi rokok yang ada di bangku tapi, langsung diserobot Parto.
"Jangan cari penyakit! Ngerokok nyampe paru-parumu bolong juga enggak bakal kelar masalahmu!! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, kamu laki jangan mudah nyerah.. Aku bantu sebisaku.. Bantu jelasin ke ibumu, gimana?" Parto mengusulkan.
"Iya.. Maturnuwun.." Seno berkata tanpa menatap mata Parto. Dia enggak bisa bayangin jika perpisahan adalah akhir dari hubungannya dengan Indah.
__ADS_1