
Duduk bersandar di tembok teras rumah Shela, Parto memperhatikan hujan yang saat ini sudah mulai mereda. Saatnya untuk pulang, itu yang ada di pikiran Parto saat ini. Parto berdiri, menyesal udah kesini To? Enggak.. dia malah bersyukur bisa kesini dan melihat sosok Shela yang berbeda. Beda gimana? Shela yang dia tahu sangat jutek, cerewet, dan mau menang sendiri.. tadi bisa menjadi seorang yang penurut dan perhatian.
Penurut? Seorang Shela di bilang penurut? Iya, saat Parto menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.. tanpa banyak berkata Shela langsung melakukannya. Bahkan saat Parto berkata, untuk membereskan pecahan gelas saja tanpa banyak cakap dia juga mengerjakan hal itu. Lah kan udah seharusnya Shela buru-buru membereskan pecahan beling tadi to? Kalau enggak bisa mencelakakan orang lain bahkan dirinya sendiri nanti. Iya, memang seperti itu. Tapi, menurut Parto.. Shela menunjukkan sisi lain dari dirinya hari ini.
"Heh.. kamu kok malah di sini!" Shela mendekati Parto yang saat ini masih berdiri tegak di teras rumahnya sambil memandang rintik hujan. Menoleh ke belakang, ke arah Shela berada.. Parto melihat Shela datang membawa kotak p3k di tangannya.
"Ini mau pulang.. kan aku udah bilang, kalau hujannya udah reda, udah terang.. aku bakal pulang." Ucap Parto. Shela berjalan mendekati Parto. Melihat bagian tubuh Parto mana yang terluka.. bisa lihat Shel? Pasti enggak bisa karena yang terluka itu hatinya.. eaaaaaaa maaf , yang nulis rese.
"Siniin tanganmu!" Shela menunjuk tangan kanan Parto yang malah di sembunyikan ke belakang punggungnya.
"Kenapa mau salim lagi? buru-buru amat hahaha" Parto nyeleneh.
"Heeeh! jangan mancing emosiku ya kamu! Tanganmu kena beling itu, jangan di biarin nanti infeksi..!" Wah Shela kok perhatian.
"Ehem.. perhatian ceritanya?" Yakin ini Parto minta di timpuk batako satu truk beserta truknya sekalian.
Shela cemberut mendengar perkataan Parto. Dia lantas menarik tangan Parto, Parto biarkan saja apa yang mau Shela lakukan kepada tangannya yang sekarang makin nyeri itu.
"Ya Allah kok bisa dalam gini lukanya.. ini harus di jahit!" Parto tertawa mendengar ucapan Shela, gadis di depannya ini kalau lagi cemas kok bisa lucu.
"Kamu gila ya? kok malah ketawa! ini kalau enggak cepet-cepet di atasi tanganmu pesti bakal di amputasi!" Semakin tergelak saja Parto mendengar penuturan Shela.
__ADS_1
Ternyata kamu enggak sehoror yang aku pikirin. Kamu lucu, menghibur banget.. beneran enggak nyesel aku udah datang kesini.
"Heh! kamu bisa diem enggak.. ini aku mau obati luka kamu! Apa kamu lakuin sendiri aja, aku enggak mau nanti kamu kebaperan gegara aku obatin tanganmu!" Shela membuka kotak p3k yang dia taruh di meja teras.
"Sini biar aku aja.. aku takut baper! hahaha" Lagi-lagi muka Shela memerah karena ucapan Parto. Parto ini kok suka sekali menggoda Shela. Shela itu bukan ngeblush karena malu ya.. tapi, dia lagi nahan emosi. Tumben bisa!
Mengambil kapas yang sudah dia basahi dengan cairan antiseptik, Parto mengerakkan tangan kirinya untuk mengobati tangan kanannya, kesian ya.. apa-apa dilakuin sendiri. Lah iya nasib jomblo kan emang ngenes, mau gimana lagi? Kapas yang akan dia pakai untuk mengobati lukanya malah terjatuh dari tangannya. Parto berjongkok untuk mengambil kapas yang terjatuh, karena melihat Parto yang kesusahan.. Shela menghembuskan napas dengan kasar.
"Udah sini!" Shela menarik tangan Parto, tidak sengaja dia menyentuh luka yang belum di obati itu, membuat Parto meringis menahan perih.
Masih dengan posisi jongkok, Shela akhirnya selesai membalut luka di hati heeh.. luka di tangan Parto maksudnya.
"Apa lihat-lihat kaya gitu? mau aku colok mata kamu?" Pada akhirnya Shela kembali menjadi sosok nini kunti setelah sebelumnya dia cosplay jadi bidadari.
"Ibu.. Ibu kapan pulang?" Shela menghampiri ibunya. Ibunda Shela tersenyum, dia menengok ke arah Parto yang sekarang berdiri dan juga menghampiri ibunda Shela.
"Barusan Ndug.. kan cuma dimintai tolong bikin kue tadi, ya cepet! Yang lama itu tadi nunggu hujan reda, ibu telepon kamu.. tapi kok enggak kamu angkat. Ibu takut kamu khawatir, eh tahunya lagi ada Masmu di sini.. pantes aja telepon ibu ndak di angkat,"
Parto berjalan mendekati ibunda Shela dan mencium tangan ibunda Shela. Mas To ini sopan banget. Iya kan othor yang ngajarin hahaha.
"Eh Mas.. tangannya kenapa? aduh mana tadi ibu kenceng ya jabat tangannya tadi? sakit Mas?"
__ADS_1
"Ibu.. dia bukan Masku Bu. Tadi aku lupa naruh hpku Bu.. enggak tahu kalau ibu telepon. Pas mati lampu tadi aku niatnya buatin teh untuk dia itu, eh aku kaget ada geluduk banter (petir kenceng) gelas tehnya jatuh.. pecah deh! Dia malah masuk rumah.. pas denger gelas pecah. Kepleset dia Bu.. kena air teh di lantai, terus jatuh dia. Tangannya kena beling itu Bu.. Tapi aku udah obatin kok," panjang lebar kali tinggi Shela jelasin kronologi kejadian yang menimpa Parto. Parto hanya tersenyum saat Shela yang sekarang makin terlihat manis di matanya.
"Ayo masuk dulu, aduuh Mas.. tanganmu itu pasti sakit banget. Ini Shela yang ceroboh akhirnya bikin celaka orang.." Ibunda Shela enggak gagas perkataan Shela yang menyangkal bahwa Parto adalah Masnya (pacar), lha wong udah beberapa kali main kesini dan yang main juga dia-dia aja kok orangnya. Mau nyangkal kayak gimanapun di mata ibunda Shela, Parto adalah pacarnya Shela. No debat!
"Pangapunten engkang katah Budhe.. (mohon maaf banget Budhe) aku tak pulang saja, ini juga hujannya sudah reda. Alhamdulillah udah di ijinkan berkunjung kesini.." Parto menolak saat ibunda Shela mengajaknya masuk ke dalam rumah. Itu juga karena sorot mata Shela yang mengisyaratkan kalau dia enggak suka Parto lama-lama di rumah saat ada ibunya di sini.
"Heh Mas.. enggak boleh pulang dulu! Ini mau maghrib, mending masuk dulu. Nanti sholat, makan, abis itu baru pulang. Lagian tadi Shela juga belum buatin Mas minum to?" Ibunda Shela masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Parto melihat ke arah Shela, Shela memberi kode ke arah Parto. Tangannya sebelah kanan dia pakai untuk menggesek lehernya sendiri, seperti akan menyembelih orang. Parto yang melihat hal itu hanya bisa menelan salivanya.
Ajur To ajuur.. ibunya nyuruh masuk, anaknya ngode mau nyembelih kamu!
"Lho kelian ini ngapain masih di depan rumah, ayo buruan masuk! La kamu ini enggak sopan banget liat Masmu kok sampai melotot gitu! Bisa copot itu mata kamu kalau terus-terusan kayak gitu."
"Astaghfirullah Bu.. masa bilang gitu, kamu.. denger enggak itu ibu nyuruh kamu masuk!" Shela menatap Parto yang masih terdiam di ambang pintu.
"Kamu kamu piye to La.. Mas gitu manggilnya! Jangan jadi enggak sopan gitu La!"
Parto tersenyum lagi saat dewi Fortuna memihak kepadanya.
'Mas.. panggil aku Mas..' Ucap Parto berbisik pelan sambil melewati Shela yang berdiri di dekat pintu untuk menutup pintu rumahnya.
Shela geram mendengar ucapan Parto tadi. Setelah Parto duduk di kursi, dan ibunya ada di dapur.. Shela mendekati Parto dan berucap..
__ADS_1
"Mimpi saja sana!"