Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Gajenya Duo Ben dan To


__ADS_3

Seno berniat ingin menemui Indah malam ini. Otaknya seakan enggak bisa memikirkan hal lain selain Indahnya. Baru tiga hari tidak bertemu ataupun mendapat kabar dari Indah membuat Seno sangat gelisah. Pikirannya seperti terpatri pada satu nama itu, Indah.


"Sen.. kamu tahu, ternyata nomer Markonah yang kamu kasih dulu itu punya Ralina. Ponakan pak Agus!" Ucap Parto sambil mengambil emping melinjo yang berbaris rapi di dalam toples kaca milik Mbok Yuni.


Seno enggak menjawab, Parto dan Beni saling berpandangan. Seno masih terdiam dengan lamunannya.


"Kenapa ni manusia satu ini?" Beni bertanya kepada Parto. Parto hanya mengangkat pundaknya. Seperti mengatakan 'tak tahu'.


"Sen.." Panggil Parto kemudian.


"Menengo (diem).. aku lagi mikirin sesuatu yang lebih penting ini," Seno akhirnya menunjukkan kalau dia sebenarnya masih nyimak apapun yang Parto dan Beni obrolkan dari tadi. Hanya saja dia malas menanggapinya. Otaknya lebih terfokus memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati Indah. Berusaha meyakinkan Indah bahwa semua yang Indah pikirkan tentang dia itu salah. Salah? Yang mana? Lha pokonya yang Indah pikirkan tentang Seno dan Meisya. Enggak ada hubungan apapun antara dia dan gadis super aktif itu (pecicilan). Ketemu Meisya juga cuma dua kali dan bagi Seno, enggak ada niat sedikitpun untuk kembali bertemu dengan Meisya.


"Mikirno Indah?" Tanya Beni, dalam sekali tebak aja Beni bisa tahu apa yang ada di dalam benak temannya itu.


"Huum, aku mau nyamperin dia.. tapi kok masih ragu." Seno meneguk es teh yang sekarang tinggal separuh itu.


"Kesana aja, dia juga sama enggak warasnya kayak kamu. Kadang ngomel-ngomel enggak jelas, kadang ngelamun sambil liat hp, yang paling parah.. dia sekarang hobi ngamar! Kalau emak enggak nyuruh keluar ya betah dia seharian di kamar. Entah ngapain itu bocah di kamar jam-jaman kek gitu."


Seakan mendapat angin segar. Seno tersenyum sumringah. Dia segera menghabiskan es teh yang tinggal separuh.


"Ini kelian puas-puasin ngopinya, aku yang bayar!" Seno meletakan uang seratus ribu di meja mbok Yuni.


"Aku tak nyamperin tulang rusukku dulu." Imbuh Seno yang langsung nyelonong pergi.


"Tulang rusuk? Seno ini kalau ngasih julukan pacar kok enggak ada romantis-romantisnya ya, To kalau Indah tulang rusuknya Seno lha kamu tulang apanya To?" Beni nyengir melihat Parto yang mulai paham dengan guyonan Beni.


"Njiir lah, kamu mau bilang kalau aku tulang belulang kan? Lucknut kowe!"


Beni tertawa mendengar Parto yang ternyata enggak dudul-dudul amat.


"Ben.. kamu jadi balikan sama Wawan?"


"To, namanya Wanda.. gemes aku pen nyekik kamu. Seenaknya sendiri main ganti nama orang," Giliran Parto yang ngakak karena bisa membalas ejekan Beni.

__ADS_1


"Beben.. Beb.. Wawan kangen Beb, hahaha" Beni tersenyum, dia tak habis akal kalau hanya membuat Parto kicep.


"Astaghfirullah To, itu Shela kok malem-malem kesini bawa sabit. Wah abis kamu To, beneran bakal khitan dua kali ini namanya! Enggak ikut-ikutan lah aku.. Hadapi dewe To!"


Mendengar penuturan Beni, Parto langsung menoleh ke arah yang Beni lihat. Tapi, muka Parto langsung berubah kesal seketika. Karena ternyata Beni berbohong. Lagian kenapa dia enggak mikir kalau Shela enggak bakal klayapan malam-malam gini. Kecuali dia beneran titisan nini kunti.


"Sialan kowe! Atiku langsung mak deg denger namanya aja."


Beni bener-bener ngakak melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Parto.


"Lagi kamu ini percaya aja, mana ada cewek malem-malem kesini bawa sabit. Mau ngapain? Begal? Warga sini aja tampangnya mirip begal semua hahaha!"


"Iya, dan kamu bossnya para begal itu!" Karena kesal, Parto tanpa sengaja menumpahkan kopi yang tinggal separuh itu ke meja dan langsung terjun bebas ke celana Beni. Beni yang enggak sadar bakal dihujani cairan hitam pekat itu seketika berdiri saking kagetnya.


"Wah.. guyon mu ogak lucu blas To, teles tekan njero lho iki. Asyem." (candaan mu enggak lucu sama sekali To, basah nyampe dalem lho iki. Asyem.)


Beni mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap celananya. Bukannya prihatin, Parto malah ngakak kek menang lotre. Girang banget dia.


"Ancen sarap kowe To, raup kono mbi banyu kobokan!" (Emang enggak waras kamu To, cuci muka sana pake air kobokan!).


"Ben, kamu tahu aku kok pengen buka bengkel sendiri ya."


Parto serius kali ini. Dia enggak pengen terus-menerus lontang-lantung enggak jelas. Rumah emahnya adalah targetnya untuk memulai usahanya itu. Di sana belum ada yang membuka bengkel, dan lagi lokasi rumah embah yang di pinggir jalan membuat dia membulatkan tekad untuk usaha bengkelnya itu. Bukan impian yang muluk-muluk, hanya ingin membuktikan diri pada seseorang,dia sanggup berdiri di kaki sendiri. Tanpa merantau, masih tetap tinggal di desa dia juga bisa mengais rejeki. Dimanapun asal berusaha dibarengi dengan doa insyaallah indah pada akhirnya.


"Hmm To, kamu ini pantesnya usaha ternak!"


Ucap Beni seakan ikut berpikir so hard.


"Ternak apa?"


"Tuyul To, ternak tuyul aja yang cepet hasilin fulus."


"Guambleh, aku ngomong tenan kowe guyonan ae! Aku ternak tuyul, ngko kowe sing tak go tumbal! kapok!" (Gambleh, aku ngomong serius kamu bercanda mulu! Aku ternak tuyul, nanti kamu yang tak jadiin tumbal! Tau rasa!)

__ADS_1


Beni kembali ngakak.


"Aku serius lah Ben,"


"Sepurone lah.. Iyo Iyo are arep ngebengkel Yo ayo. Aku bantu sebisaku." akhirnya Beni bisa serius juga.


"Nah.. cakep, Alhamdulillah suwun yo. Bantu doa ae. Muga abis renovasi rumah embah aku bisa cepet-cepet wujudtin inginku itu."


"Doa tok? ogak butuh modal to? wah koncoku meneng-meneng akeh duite rek!" (Doa aja? Enggak butuh modal to? Wah temenku diem-diem banyak uangnya rek!)


Parto tersenyum saja menanggapi ucapan Beni.


"Eh.. Ben, minggu depan ikut aku mau? ke Jogja yok!" Parto ingat sesuatu, dia ada tugas nyupiri Ralina ke Jogja. Dia berniat ingin mengajak Beni ikut bersamanya.


"Weh, pelesiran? Hayuk lah.. pake motor? ayam kuat?"


"Pake kaki! kita jalan sayang.." Keduanya tertawa.


"Pake mobil pak Agus, nyupiri ponakannya sama temen-temennya. Jogja jauh Ben, aku takut enggak kuat.." Beni tersenyum simpul mendengar ucapan Parto.


"Bukan enggak kuat karena jarak.. kamu takut enggak kuat karena bakal dikelilingi cewek-cewek uhuk di mobil sendirian kan? Mukamu to To, kebaca! Hahaha"


Benar-benar malam itu Parto dan Beni puas menghibur diri mereka. Berbeda dengan Seno, yang entah bagaimana nasibnya saat ini. Enggak diceritain sekarang aja Thor?


Besok lagi wahai reader budiman budiwati,, Kelian tahu ini yang nulis matanya udah 2.5watt, dipaksa melek buat bisa up lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih banyak bagi yang udah dukung baik vote, gift, like, komen, bahkan yang hanya klik rate n favorit tanpa nengok kesini.. aku udah maturnuwun banget!


Buat yang baca tapi masih malu-malu buat like dan komen juga enggak apa-apa. Sebahagianya Kelian aja gaess,


Aku selama ni enggak pernah minta gift n vote gaess hanya minta gerakin jempol kelian ditanda jempol tapi, kalau ada yang enggak mau ya aku enggak maksa. Sekali lagi, sebahagianya kelian aja.

__ADS_1


Semoga kelian selalu sehat dan bahagia. Love you all❤️.


__ADS_2