Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Bertamu


__ADS_3

Lamunan Lulu buyar saat mendengar deheman adiknya, Beni yang baru selesai mandi berjalan mendekati mbaknya.


"Mikir opo mbak?" Beni seperti tahu jika kakaknya sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu! Aku mikirke kamu, udah gede, udah dewasa tapi kelakuan kayak anak kecil. Suka bikin aku cemas,"


"Mbak enggak usah bohong, bukan aku yang mbak pikirkan. Tapi, mas dokter itu ya to? Kebaca mbak,"


Lulu menggelengkan kepalanya. Menyangkal apa yang sebenarnya memang benar adanya, dia memang sedang memikirkan Ardiaz.


"Enggak usah berlagak kayak cenayang kamu, udah sana makan, abis itu minum obat! Baik-baik jaga badan, nyawa di toko enggak ada yang jual! Kamu satu-satunya lelaki di rumah ini, harusnya bisa jaga diri sendiri dengan baik, enggak kok dikit-dikit gelud, tonjok-tonjokan. Mau jadi preman kamu?"


"Aku lanang mbak, wajar lah gelud!"


Beni mengambil korek api di atas lemari, melihat hal itu Lulu langsung berdiri dan merebutnya.


"Mau apa kamu?" Lulu langsung melotot! Kalau sudah ekspresi seperti itu yang kakaknya tunjukan Beni enggak bisa berkutik. Hanya memanyunkan bibirnya saja.


"Dompet kamu mana?" Sambung mbak Lulu.


"Buat apa mbak?" Meski bertanya tapi Beni tetap memberikan dompet miliknya kepada mbaknya. Lulu mengambil dompet itu dari tangan Beni, mengeluarkan isinya dan menyisakan lima puluh ribu saja di sana. Si biru itu tinggal sendirian di dalam dompet Beni. Beni hanya tersenyum getir. Ini gimana sama nasib suaminya nanti, bisa dijajah lahir batin sama mbaknya.


"Kok disisain segala mbak, ambil aja semua." Sindir Beni.


"Kamu udah tahu masih sakit, harusnya juga belum boleh pulang. Kok ya malah mau udut! Nyepurmu itu mbok ya dikurangi to Ben, apa mau tak kropok kui lambemu nok duwur kompor? (apa mau tak bakar itu bibirmu di atas kompor?)"


"Kalau udah kecanduan ngerokok mau langsung berhenti juga susah mbak, enggak bisa tiba-tiba stop gitu aja. Aku juga udah jarang nyepur kok, baru mau tadi ambil korek.. udah mok rampas. Mok sita sak duit-duit ku." protes sang adik pada kakaknya.


"Dulu bisa stop kenapa sekarang acak (mulai) nyepur lagi?!" Enggak mau kalah, si kakak hanya ingin adiknya berhenti merokok.


"Dulu kan ada gantinya, ngemut yang lain, hahaha. Ya betah enggak nyesep batang itu. Lagian ya mbak aku ngerokok paling sebatang aja, bukan yang satu bungkus tak masukin mulut sekaligus kok."


"Wong edan!" (Orang gila!)

__ADS_1


Beni hanya tertawa saja. Tawanya terhenti saat melihat ada sebuah Honda jazz memasuki pelataran rumahnya. Lulu mengikuti pandangan mata adiknya yang menangkap pemandangan langka itu, selama ini hanya motor yang sering parkir di halaman rumah mereka, karena memang profesi Beni adalah montir merangkap owner bengkel yang dia rintis sendiri dengan kerja kerasnya.


"Sopo to mbak?" Tanya Beni keluar rumah. Lulu tidak menjawab. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, dia tahu siapa yang datang ke rumahnya.


Lelaki itu turun dari dalam mobil, langsung tersenyum saat melihat Beni dan Lulu. Sopo gaess? Kak Ezza? Dudu hahaha.. Orang itu adalah dokter Ardiaz, dia berjalan dengan senyum mengembang di bibirnya.


Membuat Lulu langsung masuk ke dalam rumah. Beni heran dengan tingkah kakaknya, disamperin dokter keren gitu kok malah ngumpet.


"Hai mas Ben, Assalamualaikum brother," Sapa Ardiaz langsung berjabat tangan dengan Beni.


"Waalaikumsalam mas dok, eh apa ya.. aku lupa nama mas dokter siapa kemarin?"


Tersenyum tapi garing banget.


"Ardiaz! Kamu bakal hafal mamaku setelah ini, boleh masuk ga mas Ben?" Tamu yang satu ini datang dengan meninggalkan rasa malunya di puskesmas mungkin, enggak ada ewah-ewuh (sungkan) sama sekali.


"Manggilnya Ben aja mas Ardiaz. Eh iya ayo masuk hahahaha sampai lupa nyuruh masuk,"


"Mbak Lulu.. mbak.. Mbak Lulu, ini lho koncomu dolan! Mbaaaak" Panggil Beni teriak-teriak. Ardiaz menahan tawanya mendengar Beni yang seperti anak kecil yang kehilangan emaknya saat di ajak ke pasar.


"Opo lho Ben,, kowe kok koyok wedus gembor-gembor ki ngopo? koyok wong ngelehen! Ngisin-ngisini..!!" (apa lho Ben,, kamu kok kayak kambing teriak-teriak itu kenapa? kayak orang kelaparan! Malu-maluin..!!) Meski suaranya terdengar jelas, tapi wujudnya tak nampak.


"Mbak.. sampeyan kok koyok kuntilanak, ada suaranya enggak ada wujudnya!"


Enggak ada jawaban dari Lulu. Kedua lelaki itu asyik ngobrol di ruang tamu, mereka mudah akrab. Beni malah tak sungkan hanya memanggil nama aja pada Ardiz. Apa semua cowok kek gitu gaess? Kalau merasa akrab mereka akan buang embel-embel mas jadi nama aja?


"Ben.. orang tua kamu kemana?"


"Ibu ke pasar, enggak tahu apa yang dibeli lama banget dari pagi belum pulang. Ayah udah tenang di sana.." Sambil tersenyum, Beni menjelaskan dimana orang tuanya saat ini.


Ardiaz diam, dia mengerti arti 'di sana' itu adalah alam yang berbeda dengan mereka saat ini. Rasa bersalah itu kembali muncul, jadi selama dia pergi, Lulu pasti melewati masa sulit. Dan dia enggak ada di sampingnya saat Lulu membutuhkannya.


"Kok diem, kenapa? Semua yang hidup akan mati, kita kan tinggal nunggu giliran aja. Aku yakin pekerjaanmu juga udah terbiasa dengan hal itu."

__ADS_1


"Mbaaak... Mbak Lulu aku mau jemput ibu ini lho mbak, iki koncomu kok malah mok tinggal delik ki piye? Ewoh opo mbi aku? hahaha.." (ini temenmu kok malah ditinggal ngumpet tu gimana? Enggak enak apa sama aku? hahaha..)


Baru juga baper gara-gara cerita ayah Beni yang sudah meninggal, kini Ardiaz malah kembali tersenyum melihat ke absurdtan lelaki yang sekarang pamit padanya untuk menjemput ibu yang katanya masih di pasar.


Sepuluh menit Ardiaz diam sendirian di ruang tamu itu, tanpa melakukan apapun. Sedangkan di dalam kamar sana, Lulu bimbang antara mau keluar untuk menemui Ardiaz atau membiarkannya duduk sampai bosan dan bakal pulang dengan sendirinya. Tapi, akhirnya Lulu keluar juga dari pertapaannya.


"Ngapain ke sini?" Jutek banget mbak.


"Mau tanggung jawab sama kamu," Jawab Ardiaz sekenanya.


"Kenapa kamu enggak ke rumah sakit jiwa aja, cek kejiwaanmu?"


Ardiaz berdiri, karena memang Lulu enggak mau duduk menemaninya.


"Jangan deket-deket! Jaga jarak dan kelakuanmu di sini! Ini areaku, jangan seenaknya berbuat asusila di sini!!"


"Berbuat asusila? Siapa, aku?" Tanya Ardiaz pura-pura bego. Sambil terus berjalan mendekati Lulu.


"Aku teriak kalau kamu macam-macam!!"


Ardiaz berhenti. Bukan takut dengan ancaman Lulu, tapi dia tidak mau membuat Lulu ketakutan. Diraihnya tangan Lulu membawa perempuan itu untuk duduk.


"Beni edan! dia bilang ibu wa nyuruh jemput di pasar, lha ini hp ibu aja di tinggal di rumah.. emang adik durjanah!"


Meski pelan, Ardiaz masih bisa mendengar omelan Lulu. Ngedumel karena adiknya dianggap kurang ajar karena ninggalin dia berdua aja sama Ardiaz.


"Lu.. dengerin aku. Besok aku akan ke sini, bersama orang tuaku. Aku enggak bisa nunggu lebih lama buat jadiin kamu pengantinku. Dan.. aku enggak mau ada penolakan dari mu."


Lulu membulatkan matanya, apa itu artinya besok keluarga Ardiaz akan ke sini guna melamarnya?


"Enggak usah mikir kelamaan, aku tahu kamu setuju." Sambung Ardiaz.


Demi apapun, adakah orang lain yang mempunyai PD sampai tahap overdosis selain Ardiaz?

__ADS_1


__ADS_2