
Menurut peribahasa Jawa 'witing tresno jalaran soko kulino' (Cinta timbul karena terbiasa). Terbiasa itu bisa dalam berbagai hal. Misal terbiasa ketemu, terbiasa ngobrol, terbiasa chat di pc juga bisa. Okey yang belakang di skip aja. Enggak penting.
Hal itu juga yang Parto rasakan. Bukan bucin, hanya dia selalu merasa senang saat bisa membuat Shela tersenyum seperti saat bertemu dengannya tempo hari. Itu sama aja bucin elah.. cuma beda penjabaran. Oowh gitu to, ya maaf hehehe.
"Sen.. lihat Parto mulai enggak waras sekarang!" Beni memberi tahu Seno tanpa Beni ketahui Seno juga sedang asyik berbalas pesan dengan Indah.
"Njiir, Kelian ini pada enggak anggap aku apa ya? Oe ini kita lagi kumpul kok aku merasa cuma aku yang waras di sini! To.. Sen.. Lucknut kelian!" Beni uring-uringan kek cewek lagi datang bulan karena kedua temannya lebih memilih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Yang satu asyik melamun, satunya lagi sibuk ngelus-ngelus layar hp.
"Apa sih Ben apa? Dulu kamu sibuk sama Mela, Devy, Sania, Jaka, Ucok, Romlah, Lipia, juga kita santai-santai saja. Jangan lupain nama Miku Miku si gadis kacamata tebalnya sepuluh centimeter itu. Kita woles aja, ya enggak To?"
Beni melempar jaket ke muka Seno. Seno malah ngakak mendapat amukan Beni. Parto pun ikut cekikikan melihat kekonyolan Beni dan Seno.
"Lambemu kalau ngomong asal mangap aja Sen. Jaka, Ucok, Romlah itu siapa? Calon tumbalnya Parto hah? Hahaha.. Aku macarin orang juga lihat-lihat lah Sen. Enggak asal nubruk kek Adit PA itu (PA is pendek akal). Yang cungkring digaet, yang pendek dipepet, yang kek ayam cemani dikekepin, aku kok ngakak sama seleranya manusia produk gagal satu itu!"
Kedua teman Beni ngakak beneran mendengar ucapan pedas Beni untuk Adit.
"Kamu ngomong kayak gitu kok malah mempertegas kalau kamu meri (iri) sama prestasi yang Adit torehkan to Ben hahaha.. tapi ya Ben, Adit ini bagus lho punya tipe random semua jenis dan model cewek masuk aja. Yang penting masih napas sama punya jantung pasti dia pacari. Enggak perlu punya hati, karena akhirnya itu hati bakal disakiti Adit kok. Percuma... sayang hatinya kan jadinya. Kaya mantanmu si Wawan itu contohnya," Seno nyengir kuda melihat Beni melotot ke arahnya.
"Ben, katanya kamu mau balikan sama Wawan. Udah?" Kata Seno menambahkan ucapannya tadi.
"Wawan opo lho Wawan opo? namanya Wanda! Dedek Wanda imiutku,"
Parto tersenyum mengejek.
"Wanda imiutku? Disingkat 'DaMiKu'? Hahaha ketebak sekarang siapa nama panggilan kamu buat Wanda Ben, satunya Beben satunya Damiku. Ya salam aku kok geli dengernya, bisa enggak ngasih nama panggilan yang normal kayak pasangan pada umumnya? Sayang, Cinta, Love, Honey, Sweetie, gitu. Tuh pilih aja sapa tahu cocok hahaha" Parto ngakak. Kali ini dia puas bisa ngejek Beni.
"Bukan Damiku lah, gila apa kamu To? Sana kasih panggilan itu buat Shela kunti dari gua Selarong aja. Wanda ku itu cukup aku panggil 'dek' aja udah girang banget To. Enggak usah aneh-aneh. Aah iya.. mau ke tempat dia aja lah."
__ADS_1
Beni beranjak dari tempatnya duduk.
"Mau kemana Ben?" Tanya Seno dan Parto bersamaan.
"Ke rumah Wanda lah, dari pada di sini ngadepin dua orang gaje." Mengambil kunci motor dan jaketnya, Beni berlalu pergi.
"Tu orang enggak lihat jam apa ya Sen? Sekarang jam 20.00, ke tempat Wanda nyampenya sejam, baru sampe sana udah disuruh pulang lagi dia." Seno tertawa mendengar omongan Parto.
"Mbok ya biarin to To, sapa tahu malah disuruh nginep,"
"Mayan yo Sen...?"
"Iyo mayan, mayan.. bisa digebuki bapaknya Wanda sama warga sono kalau dia sampai kena grebek tidur di rumah Wanda."
Keduanya tertawa. Seno menaruh hp yang sedari tadi dia mainin.
"To.. Aku mau ngomong serius sama kamu." Seno memperbaiki posisi duduknya.
"To.. aku kok pengen cepet-cepet halalin Indah."
Diam. Keduanya terdiam. Parto masih menunggu lanjutan perkataan Seno, sedang Seno berusaha mengontrol hati dan ucapannya agar enggak salah saat menyampaikan niatannya.
"Kemarin waktu Indah minta break itu aku mikir, ini gimana cara jelasin ke Indah kalau sebenarnya aku sama Meisya aja enggak se akrab itu. Di dekat Indah.. mau meluk takut, mau cium apalagi, semua kontak fisik itu menimbulkan dosa. Aku enggak mau ngajak Indah jadi pendosa. To.. aku tahu kamu pasti mikir Indah masih terlalu kecil untuk menikah tapi, hal ini yang aku mau sampein ke kamu. Aku selalu bersungguh-sungguh dengan apapun yang berhubungan sama Indah."
Seno kembali diam. Setelah selesai menyampaikan apa yang ingin dia utarakan.
"Sen... Gini ya, saat dihadapkan sama masalah sepele aja kelian udah morat-marit, belum bisa berpikir dengan kepala dingin gimana cara nyelesaiin masalah. Padahal cuma didatengin Memet sekali tapi efeknya kelian langsung break. Pernikahan itu bukan cuma sarana penyatuan kebutuhan fisik aja lho Sen, tapi juga harus ada ikatan hati yang kuat. Kepekaan mu kudu ditempa, bukan melulu tentang sayang, cinta, kangen pengen ketemu, bukan itu Sen. Aku bukan ngeraguin kamu, dari segi ekonomi kamu udah mapan, aku juga yakin kamu bisa jaga Indah dengan baik. Tapi, gimana dengan Indah sendiri? Kamu enggak mau kan pas udah nikah sama Indah terus kelian ribut, Indah ngambek malah milih pulang ke rumah. Indah itu belum bisa berpikir dewasa. Pacaran juga baru kan kelian ini... jangan buru-buru ambil keputusan."
__ADS_1
Seno memikirkan apa yang Parto katakan. Emang benar, selama ini Seno lah yang selalu menekan egonya, selalu memaklumi sifat childish Indah. Indah itu manja, maunya dimanja, dan enggak berpikir jauh ke depan. Terbukti dengan adanya masalah kemarin Indah belum bisa menyikapi dengan tenang, malah mengambil keputusan dengan grusa-grusu. Ya, meskipun akhirnya dia sadar kalau keputusan dan sikapnya itu keliru.
"To.."
"Hmmm,"
"Belum boleh halalin Indah? Nek aku khilaf kedepannya piye To?" Seno tersenyum. Parto menatap tajam ke arah Seno.
"Sen,"
"Piye?"
"Kalau aku khilaf hajar kamu di sini piye Sen?"
Mendengar perkataan Parto, Seno malah ngakak. Parto juga ikutan tertawa. Bisa ya kayak gitu? abis ngomong serius malah ujungnya bercandaan.
"Khilaf ku juga palingan enggak lebih dari senggolan bibir kek yang kamu lakuin sama Shela kok To," Seno mancing macan ngamuk.
"Sen.. tanganku gatel pengen nonjok orang lho ini, bisa-bisanya ijin civokan ma aku? kamu waras?"
"Makanya kalau enggak boleh ya ijinin aku halalin Indah... gitu aja repot!" Seno makin senang bisa bikin Parto kesal.
"Gimana kalau kamu praktek dulu sama kambing bapakku?"
"Njiiir..!" Parto mesem melihat Seno mendengus kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Indah yang terlalu manjaahh kata Parto😶