Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Mari Berteman Saja!


__ADS_3

"Sen.. aku enggak salah lihat kan? Itu dedek Lala? Kok bisa ke sini Sen?!"


Beni mengomentari kedatangan Shela.


"Dedek Lala siapa? Dia namanya Shela kok setahuku, enggak ada cewek lain yang aku panggil dek selain dek Indah ku." Seno memandang ke arah Indah yang sekarang sedang mengambil sapu lidi.


"Masa buduuu Sen! yang bucin yang bucin marebu dapet tiga.... dipilih dipilih yang bucin marebu tiga!!" Seperti penjual obat keliling Beni berlalu pergi meninggalkan Seno yang hatinya sedang kembang kempis kalau dekat sama Indah.


"La.. kamu kesini," Ucap Parto tanpa meninggalkan senyum dari wajahnya. Kegembiraan jelas tercetak di hati Parto saat melihat Shela datang untuknya. Padahal semalem dia berkata enggak mau ke sini tapi, Shela selalu bisa bikin kejutan manis untuk Parto.


"Kenapa emang? Enggak boleh? Pulang lagi aja lah," Pura-pura menyalakan motor. Shela berhasil membuat Parto gelagapan.


"Eh ya jangan La, ayo ke sana.. itu ada Indah, Seno, sama Beni juga."


Tanpa menjawab, Shela turun dari motornya. Berjalan mengikuti langkah kaki Parto.


Shela tetaplah Shela, tanpa ada senyum di wajahnya dia berjabat tangan dengan Indah. Indah menautkan alis tanda bertanya 'iki sopo?' (ini siapa). Meski beberapa kali mereka pernah bertemu tapi pertemuan itu terlalu singkat dan tanpa ada sesi beramah tamah terlebih dahulu.


"Mas... ini Mbak yang waktu itu?" Tanya Indah kepada Seno. Seno mengangguk.


"La.. kamu ini kok kaku banget jadi orang, enggak pernah kumpul manusia ganteng kayak aku ya? Parto ni emang kebangetan, punya cewek tapi diem-diem aja!"


Beni mulai obrolan. Dia seperti tahu kalau Shela merasa asing saat ini. Sedangkan Parto, sibuk merangkai kata agar enggak salah bicara di depan Shela.


"Kamu Beni kan? Kita sering ketemu! Dan aku selalu enggak suka kalau ketemu kamu. Mungkin karena aura playboy mu cukup buat aku mau muntah, atau tingkat pede mu yang terlalu tinggi. Entah, aku enggak tahu juga!"


Omongan Shela langsung membuat Seno terpingkal-pingkal. Bisa-bisanya itu cewek ngomongnya dar-der gitu. Enggak ada pagernya, asal main terjang aja.


"La.. jangan gitu, Beni ini temen aku lho." Parto berusaha membuat Shela bisa akrab dan nyaman saat bersama dengan teman-temannya seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Enggak apa-apa To, aku udah biasa sama karakter cewekmu itu. Yang aku heran kok kamu bisa bikin jinak macan model Shela ini pake jurus apa lho, edan lah... diem-diem peletnya ampuh!"


Beni nyengir kuda.


"Kelian ini.. mbok ya jangan kayak anak kecil. Masa tiap kali ketemu mau bacok-bacokan hah? Malu sama umur! La, aku mau ngomong bentar..." Parto berkata sambil menarik tangan Shela agar menjauh dari kedua teman dan adiknya.


"Apa sih To? Kamu mau aku manis-manis sama mereka? To, aku ya aku! Kalau aku udah nyaman tanpa kamu suruh pun aku pasti bakal deketin mereka!" Shela mendengus kesal.


"Iya La aku tahu, maksudku gini... enggak usah mancing kata-kata nyelekit yang bikin mereka mikir kalau kamu itu galak, dan susah diajak temenan. Nyatanya sekarang aku bisa deket sama kamu, ya kan? La, tak kenal maka tak sayang... Cuba kenalan dulu sama mereka. Mereka asik kok La, tapi kalau kamu enggak nyaman sama Beni dan Seno juga enggak apa-apa. Senyamannya kamu aja, kamu udah mau ke sini aja aku udah seneng banget. Maturnuwun ya La..."


Shela memikirkan perkataan Parto.


"Ayo ke sana lagi! Ngapain ngajak ke sini kalau cuma ngomong kek gitu tadi."


Shela berjalan mendului Parto. Langkahnya santai. Dia seperti memikirkan perkataan Parto selagi berjalan ke arah Beni, Indah, dan Seno duduk.


Indah menyambut Shela dengan senyum khas nya. Shela pun melakukan hal yang sama. Sepertinya suasana agak mencair.


"Shela. Kamu?" Tanya Shela menatap lekat sosok Indah yang dia ingat pertama kali bertemu dengannya dulu sewaktu di pasar. Shela salah mengenali motornya sendiri waktu itu. Dan mengira motor yang diduduki Parto adalah kepunyaannya.


"Aku Indah mbak, adiknya mas To... Mbak yang suka nganter kue itu kan ya? Kue brownies mbak Shela enak banget..."


Shela menarik ujung bibirnya. Dia suka kalau ada yang memuji hasil karya ibunya.


"Itu ibu yang buat, aku tadi bawa. Tapi, aku sendiri yang buat... bentar ya aku ambil,"


Shela beranjak dari tempatnya duduk dan berlari kecil menuju sepeda motornya. Yang ternyata ada sekotak brownies di sana.


Melihat keakraban Indah dan Shela membuat Parto lega, sangat lega. Seenggaknya dia merasa tenang karena Shela ternyata enggak sebebal itu. Dia mau menuruti apa yang Parto katakan. Meski enggak seratus persen prakteknya berhasil. Tapi, selalu ada awal untuk segala hal bukan? Dan Parto merasa, ini adalah awal yang baik. Saat Shela mau berinteraksi dengan adiknya.

__ADS_1


"Untung kamu bawa Indah ke sini To, kalau enggak bakal ada gencatan senjata dari kubu kawan dan gebetanmu!" Beni tetap stay cool.


Beni termasuk orang yang sabar sih. Meski kadang slengean tapi, di balik sifat over PD nya dia juga respect dengan teman-temannya. Dia enggak akan ambil hati apapun yang Shela ucapkan kepadanya.


"Iya, Ndah... ajak dia ngobrol ya. Aku mau beres-beres dalam rumah lagi," Ucap Parto berdiri dari duduknya.


"Kamu ini waras apa enggak? Kamu udah tahu cewekmu jarang hampir enggak pernah kumpul sama kita, dia ke sini buat kamu. Lha kalau kamu tinggal nurunin genteng, terus dia ngowoh sama dek Indah ya bisa didiemin berbulan-bulan kamu! Udah, kamu di sini aja dulu. Ajak dia ngobrol bentar, kita lanjut entar aja."


Ucapan Seno membuat Parto menghentikan langkahnya. Iya juga.. kalau sampai Shela badmood gara-gara dia sibuk sendiri pasti nanti Shela uring-uringan lagi. Mode reog on lagi, huuuft bener-bener deh...


"Ini, Kalau enggak enak enggak usah dimakan enggak apa-apa kok!"


Shela menyodorkan sekotak brownies kepada Indah. Dia terlihat sangat manis dengan senyum yang tak henti terpampang di wajahnya.


"Pasti enak lah mbak, maturnuwun ya mbak.." Indah menerima bingkisan itu.


"La.. aku boleh minta enggak?" Ucap Beni sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Boleh, kamu dapat bungkusnya juga udah bahagia kan?"


"Astaghfirullah, ya rotinya lah La.. masa ngasih bungkusnya aja!" Beni memprotes ucapan Shela.


"Lah kamu bilang 'boleh minta enggak?' apa yang kamu minta kan enggak mendetail ya enggak salahku nek aku ngasih bungkusnya ke kamu,"


Mendengar perdebatan kecil antara Shela dan Beni membuat Parto ikut tersenyum. Ah akhirnya... Teman dan gebetannya bisa rukun. Ini merupakan momen paling menghappy buat Parto.


"La...." kali ini Beni memanggil Shela seperti cara Parto memanggil gadis itu.


"Hmm" Jawab Shela sekenanya.

__ADS_1


"Mari kita berteman!" Beni mengulurkan tangannya, Shela masih diam tak bergeming melihat tangan Beni diulurkan untuk berjabat tangan dengannya.


__ADS_2