
Pergi dari rumah Seno setelah mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan, Virza tidak langsung pulang. Dia ademkan pikirannya dengan membeli es krim dan duduk santai di depan warung si penjual es tersebut.
Bukan inginnya menerima lamaran keluarga Seno tapi, desakan dari ibu dan ayahnya! Mereka mengatakan bahwa Seno pemuda yang baik, enggak pernah neko-neko, sabar, ramah dan yang paling hoax dari itu semua, orang tuanya menyebut bahwa Seno pemuda yang sholeh tanpa catatan kriminal di dalam hidupnya!
Apanya yang sholeh?? Kalau dia udah bikin seorang cewek nyimpen benihnya. Virza makin menolak perjodohan ini karena Seno berkata dia ingin bertanggung jawab kepada pacarnya, dia masih sangat sayang sama pacarnya itu, lagi pula Seno juga bukan tipenya! Menurut Virza pemuda yang sebenarnya tampan itu memiliki banyak kekurangan di karakternya. Intinya dia enggak mau menerima perjodohan ini.
Dia enggak peduli jika di cap cewek yang sering gagal nikah. Cuma dua kali tapi, para netijen bilang dua kali termasuk sering! Lebih baik gagal sebelum memulai dari pada gagal setelah pernikahan. Dia ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang cinta sama dia, sayang dan memujanya. Itu adalah impiannya, bukan menikah dengan pemuda lewat jalur perjodohan yang ternyata pemuda itu udah pernah ngobrak-ngabrik gawang pacarnya sampai meninggalkan benih di sana.
"Ngapain ngelamun? Leleh tuh es mu!" Virza kaget dengan teguran seseorang yang dia kenal. Haaaah... Ini hari apa? Kenapa dia bisa sesial ini?! Ketemu dengan mahluk beristri yang sempat dia mintai pertanggungjawaban.
Beni, lelaki itu langsung duduk di samping Virza. Virza langsung menggeser posisinya agar tidak berdekatan dengan lelaki beristri itu.
"Kenapa? Kayak anti banget sama aku?" Beni membuka bungkus es krim lima ribuan yang dia beli barusan.
"Lelaki jaman sekarang kayak gini ya?! Keluyuran sendiri, jajan di warung dimakan sendiri, enggak mikir istrinya di rumah nungguin!" Virza terang-terangan menyindir Beni. Beni tersenyum aja.
"Manusia minus akhlak lain selain orang yang mau dijodohin dengan ku! Apakah lelaki di desa ini udah pada enggak waras? Kelian gadaikan kemana kewarasan kelian??" Mulai mengomel.
Beni tahu siapa yang Virza maksud.
"Kamu mau dijodohin?" Beni pura-pura oon. Ati-ati oon beneran Ben!
__ADS_1
"Istrimu udah lahiran?" Virza mengalihkan pembicaraan. Lagi-lagi Beni tersenyum sambil menikmati es krimnya.
"Belum." Jawab Beni. Melihat ke arah Virza yang sekarang mengeluarkan ponselnya. Melihat ada pesan di sana.
"Harusnya kamu jangan di sini, temani istrimu.. Kasihan kan dia, pasti dia khawatir sama kamu. Lagian.. wanita hamil itu butuh perhatian, jangan sering di tinggal ngelayap keluyuran enggak jelas! Bikinnya aja mau, ngurus kagak pecus!" Ngomel lagi.
"Dia bisa ngurus dirinya sendiri kok. Bentar lagi juga aku pulang, orang aku ke sini juga dia yang nyuruh. Istriku ngidam minta aku ke warung makan es krim di sini.. enak kan ngidamnya enggak ngerepotin aku hehehe" Beni membuat Virza terbengong tak percaya.
"Aku makin yakin satu hal.."
"Apa?" Beni menaruh tangannya di dagu. Melihat Virza lebih seksama.
"Heeeh sopan kalau ngomong." Sanggah Beni.
Mbak Sri si pemilik warung yang mendengar pembicaraan Virza dan Beni jadi kepo ingin ikut ngerumpi.
"Siapa yang hamil Ben?" Tanya mbak Sri tiba-tiba. Beni kaget. Dia bingung mau jawab apa.
"Istrinya mbak!" Virza yang menjawab.
Mbak Sri bengong sesaat, dia berpikir sejak kapan Beni nikah tahu-tahu punya istri lagi bunting. Lalu dia tahu kalau Beni hanya berbohong saat melihat kode yang diberikan Beni kepadanya. Beni mengedipkan mata agar mbak Sri mau sedikit berbohong demi kebaikan. Kebaikan siapa? Tentunya kebaikan untuk Beni agar dia enggak digampar Virza nantinya.
__ADS_1
"Kapan nikahnya Ben? Sama siapa? Perasaan yang nikah dulu itu mbak mu!" Mbak Sri menjadi pelempar nuklir untuk Beni dengan ucapannya. Beni langsung menunduk, menutupi mukanya karena enggak tahu mau jawab apa.
Sial.. Tahu gini aku tadi enggak beli es krimnya! Nyesel tadi bayar duluan! Beni merasa jantungnya berdebar kencang. Belum berani melihat ke arah Virza.
"Dia belum nikah mbak?" Virza meyakinkan ucapan mbak Sri kembali. Mulai emosi karena telah dibohongi.
"Ya belum! Dulu mau ngelamar pacarnya tapi, pacarnya ninggalin dia demi cowok lain. Ya kan Ben? Si Mela itu lho.. Dia janda Ben sekarang! Kualat dia sama kamu," Mbak Sri oh mbak Sri kamu jujur sekali!
Mbak Sri kembali ke dalam warung setelah dipanggil oleh pembeli lain. Meninggalkan Beni dan Virza dengan suasana mencekam tak karuan. Dan mbak Sri si pelaku utama pencipta suasana tidak kondusif ini malah meninggalkan lokasi kejadian.
"Mau bilang apa?" Virza sinis. Menatap kesal ke arah Beni.
"Hehehe.. Maaf ya," Hanya itu yang bisa Beni ucapkan.
"Aku doain kamu enggak laku-laku! Kalaupun ada yang mau sama kamu, orang itu pasti sudah kehilangan kewarasan dan putus asa karena mau sama kamu!!" Virza mengambil tasnya, segera beranjak dari warung mbak Sri.
Ya salam.. Aku dikutuk. Apa-apaan dia itu!
"Doa itu kembali kepada yang mendoakan, baik-baik dengan apa yang kamu ucapkan!" Beni membela diri.
"Doa orang yang dibohongi dan terzolimi pasti dikabulkan! Camkan itu!" Virza pergi dengan meninggalkan deru motor serta Beni yang melongo karena enggak tahu mau berbuat apa.
__ADS_1