Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Jengkelnya Beni dan Parto


__ADS_3

"Opo to Ben.. opo?" Seno duduk setelah mengambilkan temannya itu sebotol teh kemasan dari lemari pendingin. Seno malas malem-malem musti ceklak-ceklek kompor buat bikinin Beni kopi.


"Kesel aku!" Ucap Beni yang langsung nyerobot teh botol yang ditaruh Seno di meja.


"Iya minum dulu, biar adem itu pala.. kesel sama siapa?"


"Bang_ke bener!" umpat Beni yang langsung menghabiskan minuman yang sekarang isinya tinggal kenangan.


"Buseet.. haus apa gimana itu? Sik tak ambilke lagi," Seno kembali berjalan menuju kulkas yang tak jauh dari ruang tamu. Langsung membawa lima botol teh serupa. Seno hanya tidak mau bolak-balik, dia agak mager sebenarnya.


"Kamu bawain aku segitu banyak teh botol, mok kiro aku sapi gelonggongan?"


"Kamu ini keselnya sama siapa?" Seno bertanya sambil mengambil hp yang tadi dia letakan di meja.


"Sama Adit lah, sama siapa lagi!?"


Seno menautkan alisnya. Adit? Adit siapa? Seno aja enggak kenal Adit.. apa akhir-akhir ini Seno sesibuk itu dengan Indah, sampai-sampai dia tidak mengenal yang namanya Adit ini.


"Adit siapa? anak mana? perasaan suami Mela namanya Jamal.. Aku kok enggak mudeng," Seno merasa belum konek di sini. Otaknya dipaksa untuk berfikir dan mencari nama Adit di ingatannya. Tapi, nihil.. dia tidak menemukan nama Adit atau apapun yang berhubungan dengan Adit di sana.

__ADS_1


"Adit mantannya Wanda!" Beni menjelaskan secuil-secuil kepada orang yang fakir info tentang siapa itu Adit. Udah pusing karena mikir siapa Adit, sekarang Seno harus njlimet muter otak buat mengetahui Wanda itu siapa. Kan main Beni ini. Bisa banget bikin orang jadi banyak kerjaan karena mikir Adit dan Wanda itu siapa.


"Wanda itu siapa ya Ben.." Seno bertanya sambil nyengir ke arah Beni.


Beni yang baru menyadari kalau dirinya belum menceritakan apapun tentang siapa Wanda dan Adit kepada Seno malah tersenyum melihat Seno yang kebingungan.


"Kamu ini sakjane kesambet demit mana Ben, tadi ngamuk.. saiki mesam-mesem dewe (sekarang senyum-senyum sendiri), Ojo medeni aku ngono.. edyan kui nular lho ( jangan nakutin aku gitu.. gila tu nular lho)"


Beni lantas menceritakan kisah Wanda sang mantan kekasihnya itu kepada Seno. Beberapa kali Seno terlihat kesal dengan mengepalkan tangannya sendiri. Di akhir cerita Beni berkata dengan menenangkan Wanda dia bahkan mencium bibir Wanda, agar gadis itu berhenti menangis. Ya, emang Beni sedikit melebihkan cerita di bagian ending. Seno yang mendengar happy ending ala Beni hanya ngowoh meeen! Dia sampai menelan salivanya. Kemecer agake arek iki (kepengen agaknya anak ini).


"Ngopo Kowe? (kenapa kamu?)" Beni tersenyum simpul karena merasa berhasil membuat Seno percaya dengan cerita happy ending ala dia.


"Ya enggak lah.. opo tho kowe ki," Sesaat Beni melupakan kejengkelannya karena melihat Seno yang sekarang kepo soal kissing itu.


"Terus sekarang kamu maunya gimana? mau ngasih pelajaran 'rumus tahu diri' ke Adit?" Akhirnya Seno sadar kalau kissing di akhir itu bukanlah inti dari cerita Beni. Beni hanya ber 'hmmm' saja menjawab pertanyaan Seno.


Setelah obrolan panjang malam itu, Beni akhirnya pulang. Tadinya dia ingin tidur saja di tempat Seno, tapi dia takut Mbak Lulu dan ibunya cemas.


Di sisi desa lain, Parto pulang dari bekerja. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya menyupiri mobil travel pak Agus yang di sewa ibu-ibu untuk menghadiri pengajian. Capek? tentu saja, apalagi dengan telapak tangan yang belum sembuh membuatnya acap kali menahan sakit saat memutar setir mobil.

__ADS_1


Parto yang selesai mandi langsung menuju kamarnya, dia baringkan badannya yang sekarang terasa pegal di setiap bagian. Selalu saja ada kejadian menjengkelkan setiap kali Parto mengantar mobil yang dipenuhi ibu-ibu.


Seperti tadi, Parto yang sudah melajukan mobil separoh perjalanan saat akan pulang harus menuruti kemauan salah satu ibu dari rombongan tersebut untuk kembali ke tempat pengajian. Hanya untuk mengambil kerudung pemberian panitia pengajian yang dia yakin tertinggal di sana. Parto tadinya enggan menuruti keinginan ibu itu tapi, apalah daya Parto saat ibu tadi bilang kalau dia sedang hamil. Kemauan wanita hamil adalah setara dengan titah raja.


Seharusnya itu berlaku untuk suami ibu tadi tapi, apa? Sekarang malah Parto lah yang harus bercapek ria menuruti kemauan ibu hamil tersebut. Ikut mencari dimana ibu tadi meletakkan kerudungnya, ibu-ibu yang lain malah sibuk mengisi perut mereka dengan snack yang diberikan panitia penyelenggara pengajian di dalam mobil. Tanpa mau ikut bersusah payah ikut membantu mencari dimana kerudung ibu tadi tertinggal.


"Mbak.. tadi Mbak taruh mana kerudungnya? ini udah malem Mbak, kesian yang lain pada ngomel itu pesti di mobil.." Sebenarnya Parto juga sudah capek. Karena ibu itu bilang lupa dimana dia duduk saat acara tadi berlangsung. Udah deh...


Sudah setengah jam Parto ngubek-ngubek tempat itu, dia sampai bertanya kepada salah satu panitia yang masih di tempat itu apakah masih ada kerudung untuk dia berikan kepada ibu hamil tadi sebagai pengganti kerudung yang hilang karena ibu itu lupa meletakkannya dimana. Kekecewaan yang Parto dapat karena panitia penyelenggara mengatakan kalau jumlah souvernir itu di pas. Enggak ada lebihnya.


"Mbak.. nanti tak mintain kerudung itu ke ibu yang lain aja ya, aku kok pegel ini.. nyari dari tadi enggak ketemu lho.." Ucap Parto seperti membujuk anak kecil agar tidak merengek lagi.


"Lha enggak mau lah Mas! aku maunya yang punyaku tadi!" Parto menghela nafas berat, ini tadi tema dari pengajiannya pasti tentang kesabaran. Dan sekarang Parto langsung mempraktekkannya. Parto sampai duduk bersandar di pilar gedung saking mumetnya. Saat kesabaran sudah sampai level puncak yang dia mampu, dia di kejutkan dengan teriakan salah satu ibu dari rombongan yang berada di dalam mobil.


"Mbak Menik.. Mbak.. ini kerudungnya ada di tasku, aku kok ya lupa tadi sampeyan nitip itu di tasku. aku malah mikir aku dapat double tadi hahaha"


Bisa-bisanya kelian tertawa seperti itu wahai ibu-ibu yang merasa paling benar, Parto mengusap mukanya dengan kasar. Rasanya ingin misuh (memaki) sekencang-kencangnya tapi, dia hanya berucap 'kambing'.


Di jalan mereka hahahihi saat menceritakan hal tadi, lucu? iya, buat mereka.. bagi Parto dia sangat jengkel sampai ubun-ubun. Selalu saja seperti ini endingnya kalau dia berurusan dengan emak-emak. Parto hanya berharap, semoga anak yang ibu tadi lahirkan kelak mempunyai akhlak yang lebih baik dari ibunya. Tidak pelupa, dan enggak ngeyelan!

__ADS_1


Tolong bantu doa Mas To dengan 'amin' sekeras-kerasnya.


__ADS_2