Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Curahan Hati Saudara Ipar


__ADS_3

Shela memulai cerita..


"Kamu tahu dulu aku juga pernah sebegitu sayang dan cinta dengan sosok laki-laki, dia selalu menjaga dan memanjakanku! Apapun yang aku inginkan dia berusaha menurutinya. Sampai pada akhirnya aku kehilangan semua itu darinya, sikapnya berubah, rasa sayang itu hilang, dia mulai enggak perduli lagi sama aku, aku menangis aja dia enggak mau tahu.. terkesan acuh dan bodoh amat."


"Aku bertanya pada Allah disetiap doaku.. kenapa dia berubah? Di mana sosok yang dulu sangat sayang dan cinta kepadaku? Apa aku senakal itu sampai dia berubah dan memilih pergi jauh dariku? Kalau aku nakal aku akan mengubah sikapku, aku enggak akan merengek, atau menangis saat keinginanku belum bisa dia turuti.. aku hanya ingin dia kembali ke sisiku.. Tapi doa itu tak pernah terwujud.. Dia benar-benar pergi,"


"Membawa luka dan kenangan pahit di hatiku, tapi aku mencoba bangkit.. aku sadar yang pergi enggak akan bisa kembali, meskipun bisa tapi, rasa itu enggak akan sama lagi.. Ibu selalu menguatkanku, menangislah malam ini tapi besok pagi ibu harus lihat kamu tersenyum kembali! Itu ucap beliau. Bertahun-tahun aku lewati semua itu, rasa benci dan kecewa tumbuh setiap kali aku memikirkannya! Sampai pada akhirnya aku berpikir.. enggak ada gunanya mengenang hal buruk tentangnya.. nyatanya dulu dia pernah ada dan berusaha membuatku bahagia dengan caranya, aku cuba untuk ikhlas.. Dan Alhamdulillah sekarang aku bisa dapat penggantinya, seseorang yang membuat aku percaya jika enggak semua laki-laki itu sama!"


"Dia yang membuat aku yakin untuk menerimanya jadi pasangan hidupku, menjadikan dia imamku, dia yang meski konyol tapi selalu bisa bikin aku tersenyum bahkan tertawa saat bersamanya. Dan orang itu adalah kakakmu.. Mas To."


Shela tersenyum saat melihat Indah yang fokus pada ceritanya.


"Siapa laki-laki yang buat mbak Shela kecewa sampai sedalam itu?" Indah bertanya.


"Ayahku..." Shela menyodorkan piring agar Indah mau makan. Dan meski hanya beberapa suap, Indah nyatanya mau makan saat ditemani kakak iparnya.


"Maaf mbak.. Aku malah bikin mbak Shela sedih," Indah menunduk kembali.

__ADS_1


"Enggak, siapa bilang sedih.. Aku enggak merasa sedih saat ini. Karena Mas To buat aku selalu seneng tiap hari. Jadi Ndah, saat kamu merasa duniamu hancur karena satu orang atau satu masalah.. atau bermacam masalah, percayalah Allah sudah menyiapkan hal terbaik dan terindah buat kamu nantinya! Kamu ngerti kan?" Shela berhasil membuat Indah tersenyum meski dipaksakan.


"Mbak.. makasih ya,"


"Aku dulu berharap mas To enggak laku-laku lho mbak.. aku seneng dia jomblo, jadi semua perhatian mas To hanya buatku aja.. Waktu dia kenalin mbak Shela ke emak sama bapak waktu itu aku kesel, aku takut mas To menjauh dan enggak perduli lagi nanti sama aku.. Maaf ya mbak," Giliran Indah yang bercerita.


"Di Malam sebelum pernikahan kelian aku nangis-nangis waktu itu, aku mikir ini akhir.. benar-benar akhir.. aku bakal kehilangan mas To ku, masku satu-satunya yang hanya buat aku aja! Tapi, setelah lihat mas To sebegitu sayangnya sama mbak Shela dan juga sebaliknya, melihat senyum mas To untuk mbak Shela.. aku merasa jadi orang yang sangat egois!"


"Mas To nikah sama orang yang dia sayang, semua senyum itu menunjukan kalau mas To bahagia dengan mbak La.. lalu untuk apa aku jadi egois? Lalu setelah mengenal mbak La aku makin sadar kalau semua ketakutanku itu enggak beralasan. Mbak La baik, ramah, enggak jutek seperti kata mas Seno dan mas Beni. Aku bersyukur punya kakak ipar seperti mbak La,"


Shela hanya tersenyum.


Indah jadi tahu, kenapa kakaknya bisa secinta itu dengan mbak Shela nya. Itu semua karena Shela yang mandiri, humble, dan tegar. Shela di mata Indah merupakan kakak ipar idamannya. Perbincangan mereka diakhiri setelah Shela menyuruh Indah istirahat.


Shela mengeluarkan ponselnya setelah sampai di kamar Parto, kamar mereka lebih tepatnya. Mengecek pesan masuk beberapa menit yang lalu, ternyata pesan itu dari Parto. Dia ijin enggak pulang! Apa-apaan dia ini? Punya istri baru beberapa hari udah suka kelayapan?! Tak patut!


Shela membalas pesan itu dengan mengijinkan suaminya itu enggak pulang malam ini. Shela tahu, saat ini Seno pasti butuh dukungan suaminya. Dibandingkan Indah, Seno yang lebih terpukul dengan masalah ini.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dia kenapa? Mending ke puskesmas aja sekarang, takutnya ini anak minum racun lagi." Parto melihat Seno yang tergeletak lemas dengan mata terpejam.


"Kamu jangan bikin aku makin panik lah To, aku udah ngeri banget tahu dia pingsan, lha kamu dateng-dateng malah ngomong kek gitu!"


"Dia kejang? Aku tahu dia punya maag tapi masa nyampe kejang?" Parto kembali bertanya. Dia menyentuh tangan temannya itu yang ditaruh di kening, dengan keringat terus muncul padahal suhu tubuhnya kayak microwave.


"Yang itu agak sedikit lebay sih.. Cuma pingsan aja, enggak pakai kejang hehehe." Parto melihat malas ke arah Beni.


"Kita bawa Seno ke puskesmas aja Ben. Dia dari kemarin juga enggak makan, punya maag, panasnya kayak gini.. Bisa lewat dia kalau enggak ditangani!" Parto mengusulkan.


"Hooh.. Makanya aku telepon kamu! Aku bawa dia sendiri ya enggak bisa, kalau ada mobil enak tinggal lempar dia ke dalam terus nyupirin!"


"Oiya.. harusnya kamu beli mobil To, nanti kalau Shela hamil mau lahiran masa mau kamu boncengin pakai motor nyampe puskesmas? Minimal tossa (kendaraan buat angkut galon air) lah, kalau enggak bisa beli mobil!" Celoteh Beni sambil mengangkat tubuh Seno yang masih lemah tak berdaya.


"Lambemu! Mok kiro Shela itu galon air apa? Iya nanti tak beli mobil, jual jantungmu dulu!"

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua membawa Seno ke puskesmas dekat desa mereka. Maklum gaess rumah sakit jauh, lama durasinya kalau harus ke sana!


__ADS_2